
Sehabis membersihkan diri, Nadira duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan gemetar dan campur aduk. Dia sangat gelisah memikirkan harus berterus terang kepada Sagar tentang perasaan nya. Hari ini, dia pulang lebih awal dari pada Sagar. Seperti biasa, dia mengira Sagar pasti akan pulang larut malam. Karena ada banyak hal yang harus suaminya selesaikan. Walau sakit, dia tetap berangkat bekerja untuk memenuhi tanggung jawab nya.
' Bagus sih, setelah bertemu pria tadi aku jadi menyadari perasaanku yang sebenarnya kepada kakak sekarang. Tapi bagaimana aku menyampaikan perasaan ini kepadanya? ' Pikir Nadira bingung dan gelisah.
Ckiittt,
Suara pintu rumah terbuka. Nadira langsung terperanjat melihat ke sumber suara. Dia melihat Sagar melepaskan sepatunya. Nadira menatap nya heran karena biasanya Sagar tidak pernah pulang se sore ini.
" Eeh, sudah pulang ya? Bagaimana lukanya. " Nadira menghampiri Sagar. Dan membantu Sagar melepaskan jaz nya.
" Sudah tidak terlalu sakit di bandingkan tadi. " Sagar mengangkat tangan nya dan menunjukkan kepada Nadira jika tangan nya sudah membaik.
" Besok aku akan pergi ke rumah sakit. " Kata Sagar.
" Aku ikut juga! " Pinta Nadira.
" Oke, besok aku akan mengabarimu kapan kita pergi ke sana. Karena aku harus melihat waktu luang ku dan harus reservasi terlebih dahulu.
Nadira hanya bengong mendengarkan Sagar.
" Habisnya, kamu manis sekali dengan wajah yang seperti itu. " Kata Sagar setelah mencium kening Nadira.
" Jadi Terima itu! " Kata Sagar dengan tersenyum. Wajah Nadira merona merah karena malu dan perasaan yang berbunga-bunga. Hati nya semakin tidak karuan. Semakin kencang detakan jantung Nadira setelah Sagar mencium nya.
" Ta-pi ada yang ingin aku sampaikan. " Kata Nadira memberanikan diri.
" Iya aku tau. " Sagar memotong ucapan Nadira. Karena ia baru menyadari sesuatu.
" Hari ini aku tidak mengatakan kata-kata manis kan? " Sagar menghela Nafas.
' Kok jadi itu? Maksudku bukan seperti itu. ' Batin Nadira.
" Aku selalu berfikir kamu itu sangat cantik. Ini bukan kata-kata manis. Tapi, ini adalah faktanya. Aku harap kamu mengerti itu. Jujur tadi pagi saat kamu mencuci rambut ku, dan aku melihat pakaian mu basah semua, sebenarnya aku sangat kesulitan untuk menyembunyikan perasaanku. Kadang-kadang kamu sangat keterlaluan karena terlihat sangat cantik. " Kata Sagar berterus terang. Betapa sulitnya bagi dia menyembunyikan perasaan gelisah nya tadi pagi. Dia tidak mungkin kan menyerang Nadira begitu saja. Bisa jadi setelah itu Nadira akan membencinya dan marah kepadanya sepanjang waktu. Mana ada seorang pria yang bisa menahan hawa nafsu nya jika berada di kamar mandi berdua dengan keadaan basah-basahan, terlebih lagi wanita itu gadis yang cantik gadis yang paling ia cintai.
"PPFFttt! Hahaha. " Nadira tertawa mendengar omongan Sagar. Yang berbeda dari apa yang ia maksut kan.
" Kenapa kamu malah tertawa seperti itu? " Tanya Sagar heran.
__ADS_1
" Habisnya omongan kakak beda sekali dengan apa yang ingin aku katakan. " Nadira menahan tawanya.
" Ah? Bukan itu? " Sagar ternyata salah.
" Bukan lah. "
" Lalu apa yang ingin kamu katakan? "
Nadira mendekati Sagar.
" Sepertinya waktu nya tidak cocok untuk membicarakan hal ini. Tapi, kakak juga selalu berkata di waktu yang tidak cocok dalam membicarakan segala hal. Aku pikir hal ini akan jadi hal biasa untuk kakak. Aku harap kakak jangan berfikir macam-macam. " Kata Nadira. Sembari memeluk Sagar.
Sagar semakin bingung di buat Nadira.
" Pertama kali aku bertemu dengan kakak. Aku merasa rendah diri, berfikir kakak tidak boleh berada di sebelahku karena kakak terlalu bersinar untukku. Karena itu, selama ini aku sangat takut kepada kakak. "
Sagar sangat terkejut mendengar pengakuan Nadira selama ini mengapa dia sangat takut kepadanya.
' Jadi, selama ini dia menganggap tidak pantas bersanding denganku? Dia pasti sangat kesulitan selama ini. ' Batin Sagar sedih.
" Jujur saja, sekarang ini juga aku masih sangat tegang. " Nadira menatap Sagar dengan muka memerah karena menyembunyikan rasa malunya.
Sagar menunggu kelanjutan dari ucapan Sagar.
" Itu, aku..." Rasanya kata-kata itu sangat sulit untuk di lontarkan, semua hanya bisa tertahan di kerongkongan.
" Anu.. Itu... "
" Apa? " Tanya Sagar sudah tidak sabar lagi. " Kak! Aku sepertinya lebih menyukai kakak. "
Bagai tersambar petir di siang bolong, Sagar sangat kaget mendengar ungkapan yang di lontarkan Nadira barusan. Dia kembali memasang pendengaran nya, karena ia takut itu hanya salah dengar.
" Iya, aku sangat menyukai kakak. "
" Katakan sekali lagi?! " Sagar memegangi kedua pipi Nadira.
" Aku suka sama kakak. "
__ADS_1
Sagar langsung memeluk Nadira dengan perasaan sangat bahagia.
" Terimakasih. " Sagar mencium kepala Nadira. Setelah itu dia ******* bibir mungil Nadira. Dan Nadira semakin memeluk erat tubuh Sagar.
" Hahahah! " Mereka berdua langsung tertawa setelah saling melepas ciuman.
" Aku sangat berterimakasi kepadamu Nadira. " Kata Sagar dengan gembira, karena akhirnya Nadira membalas perasaan nya juga. Akhirnya titik terang hubungan mereka mulai terlihat.
****
Keesokan harinya Nadira mengantarkan Sagar ke depan pintu untuk berangkat ke kantor, layaknya seorang istri yang ada di film atau sinetron.
" Nanti aku telfon ya, saat mau berangkat ke rumah sakit. "
Nadira mengangguk sembari memberikan tas Sagar.
" Selamat bekerja ya. " Kata Nadira penuh kasih sayang. Dia mulai menunjukkan perhatianya tanpa malu-malu lagi.
" Uuhh aku tidak mau pergi bekerja. " Sagar memeluk Nadira.
" Aku sedang sakit loh, apa aku ambil cuti saja ya? " Kata Sagar merajuk. Cinta memang bisa merubah segalanya. Sagar yang biasanya bersikap dan memiliki aura dingin dan kejam yang di takuti semua orang, bisa bersikap seperti anak kecil karena sangat bucin kepada istrinya. Dia bahkan seperti kehilangan harga diri di hadapan Nadira.
" Sudah cepat pergi bekerja! Nanti kakak terlambat ke kantor. " Nadira mendorong Sagar hingga keluar rumah.
Walau pun Sagar adalah orang nomor satu dalam perusahaan nya, tapi dia tidak ingin memberikan contoh yang tidak baik untuk bawahan nya. Dia selalu datang lebih awal, dan pulang paling akhir. Sikap nya yang sangat disiplin membuat para karyawan sangat menghormati dan segan kepadanya.
" Kan kakak sendiri yang bilang, jika hari ini sangat sibuk di kantor! Ada banyak hal yang harus di urus. " Kata Nadira sembari menutup setengah pintu.
" Apa aku berhenti bekerja saja ya, supaya bisa dekat dengamu sepanjang waktu. " Sagar mengintip dari luar.
Nadira membuka kembali pintu rumah dan mencium pipi Sagar dengan mesra.
" Cepat pergi bekerja! " Kata Nadira dengan manis.
" Iya deh, sekarang aku pergi kerja. " Sagar tersenyum setelah mendapat kecupan dari istrinya. Ciuman Nadira bagaikan sumber kekuatan baginya saat ini.
Bersambung....
__ADS_1