Gairah Ranjang Kakakku

Gairah Ranjang Kakakku
Cemburu


__ADS_3

Perjamuan makan malam itu bernuansa sangat akrab, selain bertujuan perjodohan juga membicarakan kerja sama bisnis antar perusahaan.


Helena terus memandang Randy dengan kagum, teman semasa kecilnya yang seperti malaikat kini berubah menjadi Pria dewasa yang sangat menggoda, tak hentinya Helena menatap kesempurnaan paras itu.


" Oh iya, kamu Vania ya adik Randy," Ucap Helena dengan mengalihkan pandangannya ke Gadis bergaun hitam yang juga terlihat sangat cantik.


" Wah, kamu sudah besar ya Vania, dulu padahal masih kecil banget, Masih saja cantik dan imut," Ungkap Helena yang masih terlihat gemas jika mengingat Vania saat masih kecil.


" Iya, dia tetap cantik dan imut, seperti saat masih kecil," Randy ikut menimbrung memuji Vania, ia juga menatap adiknya itu dengan senyuman yang begitu tulus.


Vania hanya tersenyum tipis dan mengangguk, ia terus membuang muka jika tak sengaja saling bertatapan dengan kakaknya. Helena dan Randy di beri ruang untuk saling pendekatan, mereka berbicara di atas balkon. Saling mengingat masa kecil, kenakalan bersama layaknya anak kecil, kadang keduanya tertawa bersama jika mengingat kenangan itu.


Vania menatap kedua Pria dan wanita yang sangat akrab itu dengan begitu kesal. Padahal selama ini tak ada satupun wanita di samping kakaknya yang bisa membuatnya tertawa lepas selain dirinya.


Siapa dia, bisa menggantikan posisiku, Vani menatap pemandangan itu dengan mengepalkan tangannya lalu pergi ke kamarnya, ia sangat muak dan tak mau lama-lama dengan perjamuan membosankan itu.


                           ---***---


Malam yang dingin sangat terasa hingga menusuk ke tulang, Randy melepaskan Jaz yang dipakainya dan di berikan kepada Helena, wanita itu memakai gaun tanpa lengan yang membuatnya nampak kedinginan.


" Makasih ya Ran, aku berharap hubungan kita bisa berjalan baik, dan aku sangat setuju dengan rencana kedua orang tua kita," Helena tersenyum dan meraih tangan Randy yang begitu hangat.


Pria itu hanya diam tak menjawab, ia hanya menorehkan senyuman tipis lalu menatap pemandangan keluar. Hatinya sangat bimbang, namun ia memiliki alasan kuat untuk menyetujui perjodohan ini.


Hingga malam yang sudah mulai larut, Keluarga Widjaya mengantar kepulangan keluarga Pak Anton Candradinata hingga menaiki mobil mereka.

__ADS_1


" Lho Vania kemana yah, ma..?," Tanya Randy yang mencari-cari adiknya.


" Dia masih kurang enak badan katanya, makanya ijin balik lagi ke kamar," Bu Sandra langsung menjawabnya.


Randy menghela nafas, ia benar-benar sangat merindukan adiknya, sudah tiga hari ini ia tidak dapat berbicara dengan adiknya karena Vania memang membatasi bertemu dengan nya.


Sebenarnya bukan karena ada Helena melainkan karena Vania, ia tetap tersenyum dalam perjamuan malam itu, sepanjang perjamuan, Randy terus mencuri-curi pandang ke arah adiknya, begitu cantik dan mengagumkan nya ia malam itu, membuat Randy ingin terus menatapnya.


Bohong jika ia sama sekali tak menaruh perasaan kepada adiknya, Randy sama hal nya dengan Vania, memiliki perasaan istimewa selain sebagai kakak dan adik.


Namun ia harus bisa memendam perasaan itu karena hutang Budinya kepada keluarga Widjaya, sudah di adopsi dan di besarkan sebagai anak sendiri masih juga menginginkan anaknya, ia berpikir seperti duri dalam daging jika ia melakukan itu.


Namun ungkapan perasaan Vania malam itu membuatnya goyah, sangat sekali ia juga mengatakan padanya bahwa ia juga mencintai Vania, bahkan bisa ber madu kasih seperti pasangan pada umumnya.


Namun lagi-lagi karena status dia yang dari awal adalah seorang kakak yang seharusnya tetap menjadi kakak yang baik untuk adiknya.


Ia terus mengecek handphone jikalau Vania membalas pesannya, namun dari 23 pesan dan 126 panggilan, tak ada satupun yang dibalas Vania.


Pikiran nya dipenuhi oleh gadis cantik itu.


Entah kenapa hari ini ia ingin sekali melihat Vania, karena akhir-akhir ini gadis cantik itu sudah berangkat terlebih dahulu tanpa sarapan bersama keluarga nya.


Beralaskan demi mengejar skripsi, mengingat sebentar lagi ia akan lulus, kedua orangtuanya memaklumi tanpa curiga. Namun hanya Randy yang mengetahui kejadian yang sebenarnya, Vania hanya ingin menghindari nya.


Pagi harinya, entah kenapa setelah sarapan Ia ingin melancarkan aksi membolos kerja yang tak pernah ia lakukan, dan hal itu memang tidak sia-sia.

__ADS_1


Randy akhirnya bisa melihat Vania, gadis itu sedang mengobrol bersama teman-teman di campus nya. Saat ia hendak menghampiri gadis cantik itu, tiba-tiba seorang Pria berpakaian serba hitam ala anak motor melajukan motor sport hitam dan menghampirinya, ia menurunkan kaca helm dan berbicara dengan Vania.


" Ayo sama aku aja, yang lain udah nungguin di Cafe," Ucap pria itu yang membuat Vania langsung mengangguk dan membonceng padanya.


Randy yang melihat hal itu langsung menyalakan lagi mobilnya dan ikut membuntuti dari belakang. Sebelum mereka benar-benar ke Cafe ternyata mereka mampir dulu ke sebuah toko olahraga.


Vania dan teman laki-laki nya itu memilih sebuah racket dan suttle cock, rupanya ada rekan satu angkatan yang sedang berulang tahun dan akan dirayakan di Cafe, sebelum akhirnya di bawa ke Casier, mereka malah asyik tertawa seperti ada kenangan tersendiri yang membuat hal itu lucu bagi mereka.


Randy yang sudah tidak tahan mengekor mereka berdua, akhirnya langsung menggeret tangan Vania. Sontak kedua nya kaget seakan seperti di grebek sedang berselingkuh.


" Apa sih kak Randy," Ucap Vania yg langsung melepaskan genggaman Randy, apalagi teman laki-laki nya juga tidak suka akan aksi spontan Randy barusan.


" Santai bang, kenapa kasar sama Vania," Ucap teman Vania, yang langsung membuat kericuhan dalam toko itu.


Keduanya saling melemparkan bogem mentah, hingga perkelahian tak terelakkan. Ketiga nya akhirnya di gelandang oleh satpam penjaga toko olahraga itu dan akhirnya berujung jalur damai.


Vania berjalan ke depan dengan rasa kesal, kedua pria yang berjalan di belakangnya, saling menahan luka memar mereka karena sudah terjadi baku hantam berkali-kali, bahkan penjaga toko tersebut tidak mampu memisahkan mereka berdua.


" Brian, maafin aku ya, kayaknya aku nggak bisa Datang ke acara Ulang tahun Gerrald, boleh titip saja hadiahnya," Ucap Vania memelas mengulurkan hadiah ulang tahun itu. Teman seangkatan yang bernama Brian Mahendra itu mengangguk sambil masih menatap tajam ke arah Randy.


Sedangkan masih ada satu lagi pria di belakang nya, Ia menatap kakak laki-lakinya yang terlihat memar di bibir kanannya dan mengeluarkan sedikit darah, Pria itu masih memakai pakaian kantor lengkap beserta Jaz yang kini ia tenteng. Vania menghela nafas panjang lalu menggandeng kakaknya.


" Ayo kita pulang," Ucap Vania yang masih merasa kesal dengan insiden barusan.


Kalo sama-sama suka ngapain tidak jujur babang ganteng 🤭

__ADS_1


Terimakasih banyak ya teman Readers sudah mengikuti cerita Randy & Vania...Butuh kritik yang membangun nih 😍


__ADS_2