
Mobil sport putih nampak terparkir di halaman kampus menunggu seseorang, meskipun hari sudah nampak gelap namun ia yakin jika wanita pujaan nya belum pulang dan masih menunggunya untuk menjemputnya.
" Akhirnya kak Randy datang juga, aku kira kakak akan berubah pikiran karena peristiwa kemarin," Ucap Vania yang nampak sumringah melihat suaminya masih teguh untuk mempertahan kan hubungan mereka meski belum mendapatkan putusan restu dari sang Ayah.
Randy yang mendengar ucapan Vania barusan langsung terheran, ia tersenyum sambil mengelus rambut halus Vania.
" Kenapa berfikiran seperti itu, kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu begitu saja," Ucap Randy sambil memeluk badan Vania yang begitu hangat untuk di peluk.
Kedua nya melaju meninggalkan kampus dan pulang ke rumah, keteguhan hati mereka sangat kuat untuk meminta restu sampai Ayah mereka menyetujui nya.
Sesampainya di rumah terlihat pak Rahardian beserta istrinya Bu Sandra nampak menunggu mereka di meja makan, Randy dan Vania yang masuk bersama langsung mematung sejenak, Pria berparas tampan itu mencoba melepaskan genggaman tangan nya, namun Vania malah semakin mempererat nya.
Vania mencoba menarik tangan Randy untuk segera naik ke lantai atas dan tak ikut makan malam bersama. Namun hal itu membuat pak Rahardian buka suara.
" Kalian berdua makan malam lah bersama kami," Ucap pak Rahardian yang tanpa mengeluarkan sedikit senyuman nya.
Namun Vania seakan tak menggubris, ia terusan menarik tangan Randy hingga menaiki anak tangga.
Pria yang ditarik nya sedikit menahan dan mencoba berhenti sejenak.
" Kami mandi dulu yah, baru kami akan ikut makan malam bersama," Ucap Randy membalikkan badan nya dengan menjawab ucapan Ayahnya.
Vania yang melihat aksi spontan Randy langsung menghela nafas panjang, ia sama sekali tak mau menatap wajah Ayahnya.
Guyuran air shower hangat merileksasi kan tubuh mereka yang seakan sangat lelah dengan hari ini, namun tidak dengan Randy yang terasa perih di punggungnya setiap jatuhnya air shower setiap tetesnya.
__ADS_1
Setelah mandi, Vania langsung datang ke kamar Randy untuk mengoleskan obat lebam di punggungnya, beberapa kali pria itu meringis merasakan perih yang terus menghujam punggungnya.
" Kak Randy, apa lebih baik di bawa ke dokter saja, luka lebam nya semakin menganga," Ucap Vania yang nampak khawatir setelah mengoleskan obat di punggung Randy.
Namun Pria itu hanya tersenyum, ia menggeleng tak ingin di bawa kerumah sakit dan beranggapan luka di punggungnya akan sembuh dengan sendirinya. Pria itu mengusap rambut halus Vania dan tersenyum menatap lekat-lekat mata indahnya, ia lantas mencium kening wanita yang sudah sah menjadi istrinya lalu berkata dengan lembut.
" Ayo kita turun, Ayah dan mama sudah menunggu kita untuk makan malam bersama," Ucap Randy melemparkan senyum manisnya.
Namun Vania menolak dengan menggelengkan kepalanya.
" Jika ingin meminta restu dari Ayah kita harus bisa mengambil hatinya, bukannya malah membuatnya semakin kesal dengan menghindari nya," Ucap Randy mencoba membujuk Vania dengan perkataan lembut nya.
" Tapi kak...," Ucapan Vania langsung di sumpal dengan jari Randy menutup ke bibirnya.
Pria itu langsung membawa Vania untuk bersedia turun bergabung dalam makan malam bersama. Vania berjalan dengan tampang lesu, ia sebenarnya memang sedang marah kepada Ayahnya atas perilaku beringas nya kepada suaminya.
Kedua orangtuanya nampak hanya menyantap makan malam bersama tanpa adanya obrolan hangat seperti biasanya, suasana dalam meja makan itu nampak begitu kosong dan sepi. Namun kedatangan Randy seolah ingin menghidupkan suasana dalam meja makan malam itu.
" Maaf ya Ayah dan mama, jadi lama karena kami mandi dulu," Ucap Randy memasang raut wajah tersenyum.
Pak Rahardian hanya mengangguk dan menyuruh kedua anak mereka untuk duduk. Suasana dalam meja makan malam itu terlihat tegang, karena Vania sama sekali enggan untuk berbicara dengan Ayahnya apalagi untuk menatap wajahnya.
" Randy bagaimana dengan punggung mu," Ucap pak Rahardian sedikit mengkhawatirkan anak laki-lakinya.
" Baik yah, Ini sebentar lagi sembuh kok," Jawab Randy dengan antusias mendengar Ayahnya mengkhawatirkan nya.
__ADS_1
Pak Rahardian hanya mengangguk mendengar jawaban anak nya barusan, belum juga tenang suasana dalam makan malam itu pak Rahardian malah berkata lagi yang membuat Vania tak ingin hanya tinggal diam.
" Ayah sengaja memindahkan mu agar kamu belajar untuk memulai dari bawah, semoga kamu tidak keberatan," Ucap pak Rahardian menyeruput teh hangat nya tanpa menatap kedua mata anak mereka.
Randy yang menganggukkan kepalanya hendak menjawab langsung diserobot oleh Vania yang sudah sangat geram dengan percakapan mereka.
" Apa maksudnya Ayah memindahkan kak Randy, di bagian mana..? Apa jangan-jangan sebagai karyawan biasa," Ucap Vania memulai percekcokan di atas meja makan.
" Gila, setelah berdedikasi di perusahaan selama bertahun-tahun Ayah dengan entengnya mau menyingkirkan kak Randy," Vania terus menggelengkan kepalanya penuh rasa kesal yang sudah tak terbendung lagi.
" Dan perlu Ayah tahu, luka di punggung kak Randy semakin merah dan menganga, tapi dengan entengnya ayah tidak meminta maaf hanya menanyakan keadaan nya saja, luka nya harus di bawa ke dokter agar mendapat perawatan intensif, Ayah lupa telah memukul nya dengan kayu, atau ayah pura-pura lupa," Ucap Vania yang sudah nampak begitu geram.
Pak Rahardian langsung menurunkan teh yang baru ia angkat dengan menatap mata Vania.
" Maafkan Ayah, namun kali ini ayah masih belum menerima hubungan kalian, Ayah masih berharap agar kalian sadar dan segera mengakhiri hubungan kalian," Ucap pak Rahardian berintonasi tegas yang membuat Vania langsung membanting sendok nya dan pergi meninggalkan meja makan, tak lupa untuk menggeret tangan Suaminya agar tidak tinggal diam di kursi yang terkesan panas itu.
Suasana yang tadi nampak telah cair kini membeku lagi bahkan seolah lebih dingin dari hari kemarin. Pak Rahardian membanting kain penyeka mulutnya lantas pergi juga meninggalkan meja makan dan hanya menyisakan Bu Sandra yang dari tadi hanya menjadi penonton setia.
" Vaniaaa... Jangan seperti itu dong sayang," Ucap Randy melepaskan genggaman tangan Vania yang membawanya ke lantai atas.
" Apa kak Randy sudah gila, Ayah begitu jahat sama kakak, tapi kakak malah diam saja tanpa melawan nya," Ucap Vania yang nampak sudah sangat gregetan mengingat perkataan ayahnya tadi.
" Demi Restu Ayah apapun akan kakak lakukan sebisa kakak," Ucap Randy menggenggam tangan Vania mencoba terus meyakinkan.
" Kakak bodoh, aku juga kesal dengan kak Randy," Vania meninggalkan Randy dan membanting pintu kamarnya.
__ADS_1
Maaf ya Guys, ini lagi perkembangan konflik, tapi tetep kok kemesraan Vania dan Randy tidak pernah pudar.