
Randy dan Vania masih saling adu tatap kebingungan memberi isyarat dengan mengkerutkan kening mereka. Pak Rahardian sama sekali tidak mengeluarkan amarah nya kepada Vania, padahal kali ini kesalahan nya terbilang fatal karena menginap tanpa izin orang rumah meskipun ia pergi menyusul Randy.
Pak Rahardian lantas memanggil bi Anum untuk segera menyiapkan makan malam, ia benar-benar menunjukkan sikap khawatirnya kepada anak terakhirnya.
" Tolong masakkan makanan kesukaan Vania ya bi Anum," Ucap Pak Rahardian sambil bernada begitu lembut kepada Art nya, bi Anum pun lantas mengangguk ia juga kebingungan atas perilaku tak biasa majikan nya, namun ia tetap mengiyakan perintah majikannya.
" Vania, Ayah khawatir kamu kenapa-kenapa, kali ini Ayah maafkan, namun lain kali kamu harus memberitahu kami kemana pun kamu pergi agar orang tua mu tidak kebingungan mencari mu," Tutur lembut pak Rahardian yang kemudian meninggalkan mereka ke ruang tamu karena ada panggilan telepon dari rekan bisnisnya.
" Ma, tidak biasanya Ayah bersikap seperti itu, ada apa sebenarnya, katakan sama Vania," Vania menatap fokus ke mamanya yang dari tadi menghela nafas.
Bu Sandra pun akhirnya angkat suara karena terus di tanya oleh anak perempuannya.
" Keluarga Lesmana itu rekan bisnis Ayah dalam mengembangkan produk baru yang di perkirakan akan booming di pasaran, setelah tahu anak nya begitu dekat dengan mu, Ayah begitu antusias," Ucap bu Sandra yang sudah tidak bisa bungkam lagi.
" Anak keluarga Lesmana, maksud mama Brian," Ucap Vania terheran-heran.
Bu Sandra lantas mengangguk dan bersuara lagi.
" Tadi siang nak Brian kemari dan mencari kamu sayang, dia bercerita jika kamu dan dia pergi ke pantai Anyer untuk menyusul kakakmu Randy," Ucap bu Sandra mengingat kejadian tadi siang.
" Ayahmu mengenalinya saat rapat tempo lalu katanya keluarga Lesmana memperkenalkan anaknya sebagai pewaris tunggal perusahaan orang tuanya," Ucap bu Sandra masih mengingat pertemuan siang tadi.
Seketika Randy langsung ingat dimana ia pertama kali melihat Brian setelah bu Sandra bercerita, bukan di toko olahraga tempo lalu melainkan di sebuah gedung elit milik keluarga Lesmana grup, kala itu Ayah nya dan dirinya ikut menghadiri Pesta sejenis tasyakuran milik rekan bisnisnya karena anak tunggal mereka akhirnya bersedia menetap di Indonesia dan melanjutkan studi kuliahnya.
" Lalu hubungan nya dengan ku apa ma..?," Ucap Vania bertanya kepada mamanya.
__ADS_1
" Entah lah, namun mama berfikir Ayahmu melihatnya sebagai peluang," Ucap bu Sandra yang akhirnya ikut berlalu karena ingin membantu Art nya memasak.
" Peluang apa sih..?" Ucap Vania ke mama nya yang sudah berjalan ke arah dapur.
" Apasih kak Randy, aku kok nggak paham ya," Tukas Vania sambil mengkerutkan dahinya.
Randy hanya menatap mata Vania tanpa bergeming, bukankah sudah sangat jelas bu Sandra menjelaskan kronologinya begitu detail serta kata peluang yang membuat Ayah nya begitu antusias. Randy hanya mengangkat alis nya sambil membuang nafas begitu dalam, ia malah berlalu juga tanpa menjelaskan kepada Vania.
" Kak Randy, kenapa kakak juga pergi, heran deh kenapa sih dengan orang-orang," Ucap Vania masih terus mengkerutkan kening nya.
Pak Rahardian sepertinya sedang berbunga-bunga hatinya sekarang karena sekali mendayung dua pulau langsung terlampaui, jodoh anaknya seakan datang sendiri dengan menawarkan kerja sama bisnis yang begitu menggiurkan, Vania yang kebingungan serta Randy yang sedang berfikir keras karena takut istrinya di jodohkan.
Ia paham betul jika Pak Rahardian menginginkan Brian sebagai calon menantunya yang memiliki kriteria yang cocok untuk anak kandung satu-satu nya itu.
Vania yang baru menyalakan ponselnya langsung di banjiri puluhan chat serta puluhan panggilan telepon yang tak bisa terjawab, salah satunya dari Brian, ia seakan melupakan telah meninggalkan teman yang setia mengantarkan nya ke anyar dua hari lalu.
Apakah kamu sudah pulang...?
Apa kamu pulang bersama kakakmu, aku mencarimu kemana-mana.
Beberapa chat yang baru terbuka malam hari oleh nya, bahkan si pengirim pesan itu sudah datang langsung kerumah nya untuk memastikan keberadaan nya, Vania yang merasa bersalah langsung menelepon Brian, namun panggilan itu tak kunjung di angkat olehnya.
Apakah ia marah," Gumam Vania di dalam hatinya.
Tiba-tiba pak Rahardian mengetuk pintu kamar Vania, ia masih tersenyum memandang putri cantiknya.
__ADS_1
" Ayo kita makan malam, Ayah tidak ingin anak perempuan ayah yang cantik ini sakit," Ucap pak Rahardian sambil mengelus rambut halus anaknya.
Vania yang melihat tingkah aneh Ayahnya terus mengira-ngira, ia turun dengan masih di rangkul ayahnya, di meja makan semua sudah menunggu kedatangan mereka, baik itu bu Sandra dan Randy sudah bersiap untuk makan malam.
" Ayo kita makan, sebelum makan jangan lupa berdoa Semoga pintu rezeki selalu dibuka oleh yang maha kuasa untuk keluarga kita," Ucap pak Rahardian sebelum memulai makan.
Ia terus memperlihatkan raut bahagianya, kali ini gantian Randy yang merasa terusik, ia begitu tak rela jika Vania akan di jodohkan kepada anak dari keluarga Lesmana Grup. Dalam acara makan malam itu tidak terlihat berbeda dari biasanya, hanya saja Randy terus diam dari biasanya, ia bahkan memakai sendok sedikit kasar saat beradu di piring nya.
Saat sang kepala rumah tangga itu sudah selesai dengan makan malam nya ia menatap ke arah anak perempuan nya yang masih menyuap sendok ke mulutnya.
" Vania besuk ikut ayah ya ke kantor, ada yang ingin ayah kenalkan," Ucap pak Rahardian sembari mengusap bibirnya dengan serbet.
Randy yang sudah muak, lalu pamit undur diri dari meja makan padahal makanan di atas piringnya masih terlihat begitu banyak. Baik bu Sandra maupun pak Rahardian begitu bingung, tidak biasa nya anak pertama nya bertingkah seperti itu, ia adalah anak yang selalu menunggui orang tuanya sampai selesai apalagi soal makan bersama-sama di atas meja makan.
" Vania besuk ada acara di kampus yah, maaf Vania juga sudah kenyang," Wanita cantik itu lalu meninggal kan meja makan menuju tangga.
Pak Rahardian terdiam memandangi kedua anaknya meninggalkan meja makan menyisakan hanya dirinya dan istrinya. Ia tiba-tiba merubah mood yang semula begitu sumringah menjadi raut berfikir.
" Ma, besuk kita menghadiri acara kerja sama bersama keluarga Lesmana, bujuk Vania agar ikut bersama kita," Ucap pak Rahardian yang juga ikut meninggalkan meja makan menuju ke kamarnya.
Bu Sandra hanya mengangguk, sebenarnya ia juga merasakan situasi tegang barusan namun ia mencoba untuk tenang menengahi suasana, dirinya pun juga merasakan ada yang janggal dari kedua putra putrinya.
" Kak Randy," Panggil Vania yang sudah memegang tangan Suaminya.
" Bisakah kita bicara, dari perjalanan meninggalkan apartemen kita belum bicara," Ucap Vania menatap mata Randy yang begitu murung.
__ADS_1
Tim mana nih Readers, kapal yang harus berlabuh...? 🤔