Gairah Ranjang Kakakku

Gairah Ranjang Kakakku
Pesisir Pantai


__ADS_3

Pemandangan Sunset itu telah tenggelam dan memudarkan cahaya di sekitar, Pandangan ke arah pantai juga terlihat sangat gelap, hanya tinggal hawa dingin yang merasuk hingga ke tulang.


Papan iklan Reklame sebuah Villa yang begitu terang menyambut kedatangan Vania yang mengikuti langkah Brian yang sudah mendahuluinya. Pria itu nampak berdiri di depan meja resepsionis seperti sedang mereservasi sebuah kamar. Vania yang melihat nya langsung menarik tangan Brian dengan paksa.


" Apa-apaan kamu Brian, sudah gila ya kamu memesan kamar di disini," Ucap Vania mendengus kesal namun mengecilkan volume nadanya.


" Kamu mau pulang malam-malam, lagian aku pesan 2 kamar Van, gila apa aku bawa anak orang pesan cuma satu kamar," Ucap Brian kembali lagi ke meja resepsionis sembari mengulurkan kartu debit berwarna hitam.


Vania menggaruk kedua tangan nya kikuk, bahkan ia lupa membawa uang lebih karena terlalu terburu-buru ingin menyusul Randy.


" Brian, nanti aku ganti uang kamar nya setelah kita pulang ke Jakarta ya," Ucap Vania nampak tidak enak hati.


" Santai saja, tidak usah kamu pikirkan, ayo kita makan dulu, dari tadi kita belum terisi makanan," Ucap Brian yang sudah memegang perutnya karena cacing-cacing yang sudah berdemo.


Mereka makan malam di sebuah restoran sunda di dalam Villa, semua serba lesehan yang membuat kental nya suasana budaya Jawa Barat di padu alunan musik angklung yang mendayu-dayu.


Brian membawa Vania duduk di meja paling ujung, rupanya dari tadi Brian memang memantau target Vania. Tepat di sebrang meja mereka, Randy & Helena sedang asyik menikmati hidangan makan malam itu.


" Ikan Gurame atau ikan Nila," Tanya Randy yang masih melihat buku menu kepada Vania.


Namun wanita cantik itu tidak menjawab, sepertinya ia sudah melihat Randy & Helena di meja sebrang, sebelum Vania beranjak Brian langsung menahan tangan Vania.


" Makan dulu, baru menemui mereka, ingat dari tadi siang kita belum makan," Ucap Brian yang masih menatap buku menu.


Vania terduduk lagi dan membuang nafasnya.


" Ikan Gurame," Imbuh Vania sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Brian yang mendengar nya langsung menutup buku menu dan memanggil waitres, ia memesan Ikan Gurame bakar dua porsi seperti keinginan Vania.


Sepanjang acara makan malam, Vania hanya terus memandangi target nya yang tengah makan, karena keduanya lebih dahulu makan, mereka sudah mendahului untuk kembali ke kamar yang mereka reservasi.


Vania langsung berdiri untuk mengikuti mereka, namun Brian dengan cepat meraih lagi tangan Vania.


" Mereka pasti menginap disini, jangan khawatir, lebih baik habiskan makan mu dulu, takutnya kamu sakit," Brian mencoba membujuk Vania yang masih memandangi targetnya telah berlalu keluar restoran.


Wanita cantik berambut coklat gelap itu kembali ke meja makan nya dan melahap ikan gurame bakar yang ia pesan dengan kasar, ia memasang wajah kesal dan terus membunyikan sendok yang beradu di atas piring, Brian hanya menghela nafas melihat tingkah wanita di depan nya, Hingga akhirnya makan malam mereka telah selesai, Brian yang masih membayar di meja kasir di tinggalkan oleh Vania yang sudah tidak sabar menemui Randy.


Dengan sigap pria seangkatan nya itu berlari mengejar Vania yang telah naik ke lantai atas dan menarik tangan nya.


" Vania, kamu bisa tenang sedikit tidak, kenapa kamu bertingkah seolah mau melabrak Orang yang sedang berselingkuh," Ucap Brian  yang masih belum melepaskan tangan Vania.


Vania hanya terdiam membuang muka tak ingin menatap wajah Brian, ucapanya barusan memang benar adanya, Ia memang ingin melabrak mereka berdua, bahkan ingin sekali ia menjambak rambut Helena yang sudah berani sekali bermesraan dengan suaminya.


" Apa..., Astaga Vania, kakak mu sudah besar, bahkan dia lebih tua dari kamu, apa yang kamu cemaskan," Brian bertolak pinggang menatap Vania dengan konyol.


" Lebih baik kita tidur, kita seharian lelah di perjalanan, kita lanjutkan besok," Ucap Brian memberikan kunci kamar kepada Vania, lalu berlalu masuk ke kamar lain yang dipesan nya.


Malam itu ia sama sekali tak bisa tidur apalagi di kamar yang asing, ia terus memikirkan Randy, apakah mereka juga memesan dua kamar atau memilih menghabiskan malam bersama, namun ia percaya bahwa suaminya itu dapat menjaga iman nya, tapi jika Helena yang memaksa bagaimana..? Pikiran Vania terus merancu tak karuan, ia terus gelisah hingga tak sadar jam sudah lewat tengah malam, ia pun terlelap hingga pagi datang.


Tok...Tok...Tok!!!


Terdengar suara ketukan pintu yang begitu keras dari arah luar.


" Vaniaaaa....," Ucap seseorang memanggil namanya. Ia lalu membuka matanya dengan masih sangat malas, ia bahkan lupa jika hari ini ia berada di sebuah Villa, lalu dengan sigap ia membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Ia melihat Brian yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya dari tadi mengetuk dan memanggil namanya. Ia keluar dengan tampang mengantuk dan rambut yang masih acak-acakan.


" Apaan sih, pagi-pagi udah berisik banget," Vania menggerutu dengan wajah yang masih mengantuk.


Brian menghela nafas panjang.


" Pagi bagaimana, ini sudah siang, tuh Kakakmu sedang berada di pesisir pantai bersama tunangan nya," Ucap Brian memberitahu Vania.


Wanita itu langsung membuka matanya lebar-lebar mendengar nama Randy disebut. Ia bergegas cuci muka dan sisiran seadanya, namun sebelum ia keluar dari kamarnya, Brian menahan nya.


" Mandi dulu baru kesana, aku membawa baju kakakku, sepertinya muat di badan mu," Ucap Brian yang langsung mengarahkan Vania ke kamar mandi.


Brian yang menunggui nya di kamar lantai atas memandang ke bawah dari jendela, ia terus menatap kedua insan yang masih asyik bercengkerama di pesisir pantai. Ia masih berfikir kenapa Vania begitu nekat ingin merusak kebahagiaan kakak nya.


Apakah dugaan nya kali ini benar..? Brian masih memegang minuman kaleng yang baru dibukanya.


" Brian, Ayo...," Seru Vania yang sudah selesai mandi dan mengenakan baju yang ia bilang milik kakaknya, bahkan ukuran badan yang diperkirakan Brian sangat tepat, begitu pas di pakai Vania.


" Benar kan dugaan ku, sangat pas dengan kamu," Ucap Brian memandang kagum ke arah Vania.


Wanita itu begitu cantik dengan kaos T-shirt putih susu yang sebenarnya memang sengaja ia beli, karena ia sebenarnya adalah anak tunggal.


" Ayo kita ke pesisir pantai sambil minum es kelapa muda," Ajak Brian yang menyampirkan tangan kanan nya di bahu Vania.


Tepat di depan Villa, Vania menatap Randy dan Helena yang asyik bercengkerama di pesisir pantai, kali ini Brian tidak bisa menahan nya lagi, Vania berjalan ke arah mereka dengan tatapan penuh kebencian, Brian yang hanya sebagai teman hanya bisa mendampingi Vania melancarkan aksinya.


Semangat Vania, Othor dukung 💪🏻 Kalau Readers tim mana nih...?

__ADS_1


__ADS_2