
...Perhatian...
Ini hanyalah Novel semata, semua tokoh, karakter dalam cerita hanya fiksi belaka, apalagi kesamaan nama tokoh dan latar cerita itu tidak di sengaja, happy Reading 🙂
Helena melangkah kan kakinya mundur secara perlahan menatap kedua mata Brian.
" Apakah kita pernah bertemu sebelumnya sebelum kecelakaan itu," Ucap Brian mengulangi lagi perkataan nya.
Helena masih diam membisu, ia masih terpaku tak bersuara sedikitpun. Brian masih menunggu jawaban Helena, sepenggal ingatan yang tak sengaja memutar sebuah memori di kepalanya.
Helena lantas menjawab pertanyaan Brian yang kedua kalinya dengan gelengan kepala yang terlihat ragu.
" Aku mengingat wajahmu sebelum kecelakaan itu terjadi,"Â Brian membuat lawan bicaranya yang sedari tadi membisu semakin pucat.
" Apakah kita bertemu saat di pameran," Brian berkata lagi memperjelas sepenggal ingatan di kepala nya.
Jika semakin di ingat kepalanya terasa pening begitu hebat, bahkan dokter psikiater nya mewanti-wanti agar tidak terlalu memaksakan mengingat.
" Aduh," Brian mengaduh memegangi kepalanya yang mulai pusing.
Seorang perawat yang kebetulan lewat langsung membantu nya memberikan obat penenang, efek samping dari obat penenang membuatnya terlelap.
Untuk kesekian kalinya dewi Fortuna berpihak pada Helena, ia dapat lolos dari pertanyaan skakmat Brian. Wanita itu terduduk melamun di kursi koridor, ia menggigiti kuku tangan nya karena rasa panik berlebihan yang ia alami.
Kenapa ia mengingat nya..? Apakah ingatan nya akan kembali pulih. Helena terus berbicara dalam hatinya masih sambil menggigiti kuku.
Ia menggelengkan kepalanya meyakinkan bahwa Brian tidak mungkin bisa mendapatkan ingatan seutuhnya lagi.
Saat Helena beranjak, tak sengaja ia menabrak kawanan Perawat dan dokter yang tergesa-gesa membawa pasien unit gawat darurat.
Helena menatap sekilas seorang pasien pria tua yang sudah susah sekali untuk bernafas dan di beri selang oksigen menuju intalasi gawat darurat.
__ADS_1
" Maaf Nyonya," Ucap salah seorang perawat kepada Helena, wanita dengan tatapan melamun nya lantas mengangguk.
Ia hanya menatap kawanan perawat dan dokter berlalu membawa pasien hingga ke ujung koridor. Tatapan nya masih tak fokus, di pikiran nya masih mengingat tentang Brian yang mengingat tentang dirinya di masa lalu.
Di sela melamun nya karena kegundahan, Dua orang dokter berjalan berlalu di depanya sambil bercakap-cakap dengan langkah kaki yang cepat.
" Mister Craight memilih rumah sakit ini untuk menemukan putra nya, tapi kata Perawat, tunangan nya membawanya pergi tanpa meninggalkan alamat pasti," Percakapan yang begitu terdengar membuat lamunan Helena buyar.
Ia merasa seolah percakapan itu ada kaitannya dengan dirinya dan Randy, karena hanya dia yang menyuap dokter dan perawat untuk ijin meninggalkan rumah sakit tanpa memberikan identitas serta alamat yang pasti.
Lalu siapa Mr.Craight...?
Kata dokter itu ia mencari Putranya jangan-jangan, Tanpa berpikir panjang Helena menemui ruangan gawat darurat yang sedang melakukan operasi.
Salah seorang perawat keluar hendak membawakan sesuatu.
" Permisi Suster, bisakah saya tahu siapakah yang sedang di Operasi di dalam," Ucap Helena memohon kepada suster yang baru saja keluar dari ruangan Operasi.
Mr. Craight, Helena mengulangi mengucapkan nama itu, ia begitu penasaran dengan orang tersebut.
Ia lantas mendatangi Dokter kenalan nya yang ia suap kemarin, ia menanyakan siapa Mr. Craight itu dan siapa putra yang dicarinya.
" Putranya belum lama menerima donor sum-sum tulang belakang dari Ayah kandungnya yaitu Mr.Craight, namun sayangnya anaknya sudah pergi saat beliau baru sampai," Ucapan Dokter kenalan nya membuat Helena seolah yakin bahwa putra yang di cari Pria tua itu adalah Randy.
" Tapi kenapa beliau di Operasi," Tanya Helena yang kebingungan.
" Beliau memang sudah memiliki riwayat penyakit jantung sebelum mendonorkan sum-sum tulang belakang nya," Imbuh Dokter kenalan nya.
Helena mengangguk dan berterima kasih atas informasi yang diberikan dokter kenalannya itu.
seperti nya ia memiliki peluang lagi untuk mendapatkan kesempatan bersama Randy kembali. Dewi Fortuna memang sedang bersamanya.
__ADS_1
Hal itu sedikit mengalihkan pikirannya tentang Brian, obat penenang yang diberikan perawat hanya bertahan sekitar satu hingga dua jam saja.
Setelah bangun nanti, Apakah Brian akan menghujaminya dengan pertanyaan lagi.
Rasa kecemasan kembali lagi membuat hati Helena tidak tenang, ia terus mondar-mandir mencari alasan apa agar bisa membuat Brian percaya padanya tanpa menaruh kecurigaan.
Helena kembali keruangan Brian yang terlihat masih terlelap di kamar rumah sakit. Meskipun saat ini ia masih terlelap namun nanti begitu bangun entah bagaimana Helena menghadapi nya. Langkah Helena terhenti saat tangan nya di tahan oleh Brian.
" Kak Helena, aku ingin bicara lagi dengan mu, tolong jangan menghindar lagi," Ucap Brian tiba-tiba bangun mengagetkan Helena.
" Kak, apakah kita pernah mengenal sebelumnya, tolong jawab dengan jujur," Ucap Brian menghilangkan tatapan tajam nya.
Helena yang semakin pucat pasi hanya bisa menggelengkan kepalanya terus, Brian tahu jika Helena sedang berbohong.
" Tolong jujur kak, entah kenapa ingatan tentang kamu kadang selalu muncul tiba-tiba," Ucap Brian memelas memohon kepada Helena agar mengatakan yang sebenarnya. Akhirnya Helena bersuara karena terus di desak oleh Brian dengan tatapan memelas nya.
" Iya sebenarnya aku memang mengenalmu sebelum kecelakaan terjadi, kita adalah tim di sebuah komunitas seniman di kota Paris," Ucap Helena berkata kejujuran namun tidak menyebutkan fakta lainnya.
Brian lantas mencoba mengingat itu, memang benar sepenggal ingatan nya tentang komunitas seni di Paris, namun terkadang juga di sebuah tempat yang tak dapat ia ingat.
" Iya aku mengingat nya," Ucapan Brian membuat lega di hati Helena.
" Kita memang satu tim di komunitas seni namun sayangnya kita dulu tidak terlalu dekat, hanya sekedar kenal lewat wajah saja, jadi mungkin tidak terlalu penting, karena siapapun pasti juga kadang akan lupa," Ucap Helena pintar berkata membumbui setiap kalimat nya dengan menyihir siapapun yang sedang berbincang dengannya langsung bisa mempercayai nya.
Brian lantas mengangguk mencoba mempercayai ucapan Helena barusan. Ia lantas mencoba meminta maaf kepada Helena karena telah menanyainya dengan pertanyaan yang terkesan memojokkan nya.
" Maaf ya kak Helena," Ucapan Brian seolah bersalah dan tak enak hati padanya karena berusaha mengorek informasi yang berlebihan.
Helena lantas mengangguk menerima permintaan maaf dari Brian, hal yang ia kira akan berdampak besar hari ini ternyata masih bisa di tunda karena benar ternyata Brian belum mendapatkan ingatan nya sepenuhnya. Helena pun bernafas lega, Ratu akting itu pun mulai lagi melancarkan misi kedepannya.
Sepertinya Akan ada pertemuan antara Ayah kandung dan anaknya. Lalu apakah Brian bisa kembali mengingat semua ingatannya.
__ADS_1
Terus dukung ya para Readers hingga tamat. thank you 💕