
Alunan musik Jazz di Cafe itu membuat Vania dan Hana menghabiskan waktu mereka hampir seharian disana, kedua sahabat itu masih bercerita tentang seorang Pria yang menggores luka di hati Vania.
" Sudah sore aja ya Van, kamu nggak mau pulang, biasanya jam segini kak Randy udah nongkrong di depan kampus nungguin kamu keluar," Ucap Hana yang terus mengelus pundak sahabatnya.
" Aku nggak mau ketemu dia Han, hatiku sakit kalau melihat nya," Ucap Vania sambil meneguk lagi gelas ke 7 nya di Cafe itu.
" Kasihan kakak kamu, pasti dia khawatir, kamu nggak ngecek handphone, siapa tahu dia telpon kamu," Ucap Hana yang terus menjadi pendengar setia Vania.
" Handphone nya langsung aku matiin habis nelpon kamu tadi," Ucap Vania dengan lesu.
Hana hanya menggelengkan kepalanya.
" Lebih baik kita pulang dulu, kamu istirahat biar kamu tidak sakit, lihat mata kamu pasti tambah bengkak sekarang," Ucap sahabatnya yang begitu perhatian padanya.
Meskipun Vania begitu malas untuk beranjak, namun ia akhirnya menuruti nasihat sahabatnya.
Ia pulang naik taksi lagi tanpa mau membuka handphone nya, benar saja Randy sudah menunggunya di depan kampus, Pria itu terus mencoba menghubungi Vania, ia takut adiknya kenapa-kenapa, Hingga malam sudah menunjukkan pukul 6 malam Gadis yang ia tunggu tak kunjung keluar dari kampus.
Seorang satpam akhirnya menutup gerbang kampus itu.
" Maaf pak, semua mahasiswa sudah pulang memangnya..?," Ucap Randy dengan santun.
" Iya mas, terakhir jam 6, ini saya mau tutup pintu gerbangnya," Ucap pak satpam yang lalu menutup pintu gerbang itu.
Randy menganggukkan kepalanya.
Ia melajukan lagi mobil sport nya ke arah pulang, ia ingin memastikan apakah adiknya itu sudah benar-benar pulang atau belum.
Suara mobilnya memasuki garasi rumah, ia lantas mencari Vania, di meja makan terlihat ada Bu Sandra yang sedang membantu bi Anum menyiapkan makan malam.
" Vania sudah pulang belum ma..?," Ucap Randy yang nampak panik.
Bu Sandra mengangguk dan mengatakan anak keduanya itu sedang tidur di kamar karena kurang enak badan.
Randy menghela nafas lega, ia lalu pergi mandi untuk bersiap makan malam bersama, setelah ia mandi ia mencoba mengetuk pintu kamar Vania.
" Vania, ini kak Randy, Ayo turun makan malam," Ucap Randy sambil mengetuk pintu kamar Vania berkali-kali, Namun sama sekali tak ada sahutan dari pemilik kamar.
__ADS_1
Malam itu Vania tidak mau turun untuk makan, sehingga bi Anum hendak membawakan makanan untuk Vania ke atas.
" Bi, biar saya saja yang membawakan nya ke atas," Ucap Randy yang langsung membawa meja kecil berisi makanan ke kamar Vania.
Namun untuk berjaga-jaga, Randy juga menyuruh bi Anum ikut ke atas hanya untuk sekedar mengetuk pintu kamarnya, ia tahu adiknya itu sedang menghindari nya.
" Non Vania, ini bi Anum, makan dulu non, bi Anum bawakan makanan buat Non Vania," Ucap Bi Anum yang terus mengetuk kamar Vania.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya gadis itu menyahuti nya.
" Vania nggak lapar bi, bawa lagi saja makanan nya," Ucap Vania yang menyahuti dari dalam kamarnya.
" Jangan Non, nanti Non Vania sakit kalau tidak makan, dari pada nanti dimarahin sama Ayah Non Vania, makan sedikit saja biar bisa minum obat," Ucap Bi Anum yang terus mencoba membujuk Vania.
Selang beberapa menit gadis itu akhirnya membuka pintu kamarnya.
Tampak terlihat hanya bi Anum yang sedang membawakan meja kecil berisi makanan, namun saat gadis itu berbalik, Randy yang bersembunyi lalu ikut masuk ke kamar Vania.
" Taruh di sini saja bi...," Ucapan Vania terhenti saat melihat Randy ternyata ikut masuk ke kamarnya.
Pria itu langsung tersenyum tipis menatap Vania sambil membawakan nya obat.
Vania yang melihat bi Anum sudah turun langsung mengusir Randy dengan paksa dengan mendorong nya agar segera keluar dari kamarnya.
Namun pria itu malah menahan tangan Vania dengan tidak terlalu kuat, ia takut melukai adik kesayangannya itu.
" Vania, kakak mau bicara, tolong jangan usir kakak ya," Ucap Randy yang mencoba menenangkan Vania.
Gadis itu terdiam lantas membuang muka.
Randy menghela nafas pelan, ia sebenarnya juga canggung harus berkata mulai dari mana.
" Van, makan dulu ya, kamu jangan seperti ini, nanti kamu sakit," Ucap Randy padanya.
" Buat apa kamu perduli padaku, aku sedang tak selera makan sama sekali," Ucap Vania yang sedang tak memiliki tenaga untuk berdebat dengan kakaknya.
" Vania, kakak minta maaf, maafin kakak ya Vania, tapi kamu jangan seperti ini, kamu bisa sakit, apakah kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi," Ucap Randy yang menatap mata Vania begitu dalam.
__ADS_1
" Apa maksud kakak seperti dulu, ohh... Kakak adik maksud kak Randy..?," Ucap Vania dengan mendekatkan wajah.
Randy terkejut ia sedikit memundurkan badannya, Gadis itu membuatnya kikuk.
Randy langsung mengusap rambut Vania, mencoba mengatur nafasnya dalam-dalam.
" Vania akan terus menjadi adik kesayangan kakak, kakak tidak akan meninggal Vania sampai Vania sudah menikah," Ucap Randy dengan gugup kepada adik kesayangannya.
" Maaf kak, aku sudah tidak bisa menjadi adik mu lagi, aku sudah bilang aku mencintai kakak, perasaan ini sudah tidak bisa seperti dulu lagi," Ucap Vania yang menitik kan air matanya lagi.
" Van, maafkan kakak..,".
Plakkk!!!! Vania menampar wajah Randy dengan sedikit keras.
Pria itu terdiam sejenak, mencoba memberi celah agar Vania bisa melampiaskan emosi padanya.
" Tidak usah meminta maaf jika tidak bisa membalas cinta ini," Vania terus menitikkan air matanya.
" Lebih baik kak Randy keluar, aku sedang tak ingin lihat kak Randy," Ucap Vania yang langsung membuka pintu kamarnya mencoba mengusirnya.
Pria itu terdiam, melihat mata Vania yang sudah enggan menatapnya.
Ia mencoba membujuk adiknya untuk makan lagi namun Vania tetap menolak, dan tetap menyuruhnya untuk keluar, malam itu ia masih menggalaukan kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Pagi harinya suasana rumah nampak sepi, biasanya jam 7 pagi bi Anum sudah menyiapkan roti bakar atau nasi goreng untuk sarapan.
Vania turun dengan mata yang masih mengantuk.
" Lho bi Anum kok cuma buat satu porsi nasi goreng saja, Ayah sama mama kemana Bi..?," Ucap Vania yang nampak celingukan melihat sisi rumah.
" Tuan, Nyonya sama Mas Randy ada jamuan pagi dengan Client nya," Ucap Bi Anum yang mengaduk susu untuk Vania.
" Client, kenapa mama ikut segala bi..?," Vania terheran.
" Iya, katanya Client itu minta ber besan, anaknya kepincut sama mas Randy, syukurlah akhirnya mas Randy ketemu jodohnya," bi Anum tersenyum sambil meletakkan susu hangat yang baru dibuatnya.
Vania terduduk lemas, kenapa sama sekali tak ada yang memberi tahunya bahkan ia tak di ikut sertakan dalam pertemuan itu.
__ADS_1
Readers kalau jadi Vania... apakah bisa kembali jadi adik yang baik saja...?
author sih ngga 😩