
Di dalam kamar Vania, Randy masih terus membujuk wanita cantik dalam genggaman nya untuk tidak terlalu tersulut emosi, ia terus mengingatkan Vania selalu berbicara santun kepada Ayahnya.
" Iya aku turuti ucapan kak Randy," Ucap Vania dengan nada sedikit malas.
Mereka sudah tak membatasi lagi hubungan mereka dalam rumah itu, jika Randy dan Vania menginginkan tidur bersama mereka akan tidur semau mereka baik itu di kamar Vania maupun di kamar Randy.
Setiap malam Vania selalu menggantikan perban di punggung Randy, namun kondisi nya begitu menghawatirkan, luka nya kian memerah.
" Kak, besuk ke dokter yuk, luka nya perlu di obati," Ucap Vania yang terus khawatir setiap melihat punggung Randy.
" Ini kan juga di obati, tidak perlu khawatir nanti juga akan sembuh dengan sendirinya," Ucap Randy meyakinkan Vania.
Wanita cantik itu hanya menghela nafas panjang, mengalihkan pandangan nya ke tempat lain.
Tringggg....!!!!
Handphone Randy berbunyi dalam saku celananya, tertera dalam layar ponselnya.
" Helena".
" Siapa..?," Ucap Vania seolah tak tahu padahal sudah melihat nama yang tertera di ponsel Randy.
" Ah, ini Helena, aku angkat sebentar ya," Ucap Randy sedikit ragu karena tatapan Vania langsung berubah tak biasa.
" Sayang..!!!, Ayo ketemu aku sudah sangat rindu," Ucap Helena dengan keras dari sebrang telepon yang membuat Randy menjauhkan handphone nya.
Mereka lantas bercakap-cakap dalam panggilan telepon itu yang sudah tak terdengar lagi di telinga Vania. Wajah Vania seketika masam begitu mendengar nama Helena, entah mengapa ia sangat membencinya karena sudah menjadi pelakor jalur restu ayahnya di kehidupan pernikahan nya.
Vania yang malas mendengar perbincangan Randy dan Helena dalam telepon itu lantas pergi meninggalkan kamar nya dan berjalan ke arah balkon. Ia merenung memandang bintang-bintang di langit yang begitu indah berkelap-kelip, tak lama kemudian Randy menyusulnya dan ikut bergabung memandangi langit.
__ADS_1
" Vania, kakak akan berbicara pada Helena besuk, dan berbicara padanya untuk membatalkan pertunangan," Ucap Randy menatap wajah Vania dengan tersenyum.
" Benarkah," Ucap Vania yang langsung sumringah mendengar ucapan Randy barusan.
" Tentu, Lebih cepat lebih baik agar tidak ada yang semakin terluka," Ucap Randy sambil menatap langit yang begitu gemerlap.
Keduanya Terhanyut dalam malam indah yang bertabur bintang dan tergoda untuk bergelut dalam ranjang yang hangat.
Mereka memutuskan ke kamar Randy dan saling menautkan ciuman panas yang menggairahkan, satu persatu mereka menanggalkan baju hingga hanya selimut yang menutupi badan mereka, seperti biasa gemelut panas itu di awali dengan saling memainkan lidah mereka.
Dengan permainan yang cantik, Randy membuat Vania tak berkutik karena kenikmatan malam itu yang begitu dahsyat, rasanya kedua nya sangat rindu dengan permainan ranjang panas mereka yang begitu menggairahkan, hingga malam berlalu menjadi pagi. Randy membisikkan kalimat manja di telinga Vania.
" Selamat pagi Honey, ayo kita mandi," Ucap Randy dengan suara Barito nya yang begitu hangat di telinga Vania.
" Aaa, aku mau lagi sayang," Ucap Vania membalikkan badan nya dan memeluk Randy, mata mereka saling bertemu dan menyentuh bibir dengan cepat.
" Satu ronde lagi yuk," Ucap Vania menggoda dengan nada manja.
" Ayo di kamar mandi," Ucap Randy yang langsung menggendong tubuh Vania ke kamar mandi sambil tertawa bersama.
Mereka benar melanjutkan lagi gemelut panas mereka di pagi hari itu dengan tambahan guyuran air shower yang semakin membuat panas pagi hari mereka.
Tepat jam delapan pagi mereka turun dan ikut bergabung dalam sarapan pagi itu, di sana sudah ada kedua orang tua mereka serta bi Anum yang masih sibuk menyiapkan susu panas di meja makan.
Vania dan Randy langsung ikut duduk dengan sikap seperti biasanya seolah tak terjadi adu mulut kemarin malam.
Pak Rahardian yang melihat raut wajah bahagia kedua anaknya langsung terheran, biasanya jika terlibat adu mulut dengan Ayahnya, Vania yang paling lama bisa berdamai lagi dengan Ayahnya.
Pak Rahardian hanya mengangguk menanggapi situasi pagi yang tak pernah ia temui itu. Vania terus memperlihatkan raut wajah ceria yang sangat cerah, secerah pagi ini, ia terus menatap wajah Randy yang duduk tepat di seberang nya.
__ADS_1
Pak Rahardian langsung tersadar, seolah ia lupa jika kedua anak mereka itu telah menikah secara siri, ternyata perubahan drastis itu dari Randy.
Pak Rahardian terusan menatap gantian ke arah kedua anaknya yang juga menyantap sarapan pagi bersama. Ia menggelengkan kepalanya merasakan pening lagi jika mengingat aksi nekat kedua anak mereka.
Tiba-tiba ia kehilangan nafsu makan nya dan segera meninggalkan meja makan untuk segera berangkat kerja.
Bu Sandra yang ternyata juga menatap kehangatan pengantin baru itu tiba-tiba juga ikut tersenyum, karena ia mengingat masa muda nya dulu saat masih pengantin baru dengan suaminya itu, begitu hangat dan romantis.
Namun saat tersadar dari lamunan nya seketika senyum itu memudar mendapati pak Rahardian yang berpamitan kerja dan meminta istrinya mengiringi nya berangkat kerja.
Ia merasakan sifat hangat suaminya itu memudar, yang ada hanyalah rasa ambisius yang membutakan nya.
" Ayah berangkat dulu ma," Ucap pak Rahardian yang sempat melirik dengan tajam ke arah kedua anaknya yang masih menyantap sarapan di meja makan.
Terlihat sekali perasaan tidak sukanya yang sebenarnya tidak bisa ia tutupi. Sesampainya di kantor, ia mengulangi ultimatumnya seperti hari kemarin kepada anaknya Randy.
" Jauhi Anak saya, kamu seperti tidak ada malunya sudah di kasih hati minta jantung, kamu sudah bertunangan dengan Helena, lebih baik kamu menceraikan anak saya, sebelum semua orang tahu tentang pernikahan aib kalian," Pak Rahardian membisikkan kata pelan namun begitu menusuk sanubari Randy.
Pria itu tertunduk, ia tak bisa menjawab dengan cepat keputusan yang diminta Ayahnya.
" Maaf pak Rahardian, saya memang menghargai dan menghormati anda sebagai Ayah saya sendiri, namun saya sangat mencintai anak anda Vania, dan saya tidak bisa melepaskan nya," Ucap Randy mantap tanpa menatap mata Ayahnya.
Pak Rahardian hanya mengangguk sambil memegang pelipis nya yang begitu pening.
" Jangan memberitahukan apapun tentang hubungan mu dengan Vania kepada siapapun termasuk Helena, atau aku... akan mengirim Vania keluar negeri untuk melanjutkan studi nya di sana," Ucap pak Rahardian yang seakan sudah tak menganggap Randy sebagai anaknya.
Pria berpawakan tinggi itu terdiam, setelah ancaman untuk memisahkan nya dengan Vania keluar dari mulut Ayahnya sendiri. Ia hanya bisa mengangguk mengikuti alur yang di inginkan Ayahnya, karena demi Vania untuk terus bersama nya apapun ia akan lakukan dan suatu saat restu itu yang akan keluar dari mulut Ayahnya.
thanks kak masih setia dengan Gairah ranjang kakakku..
__ADS_1
terimakasih atas dukungan nya ..