
Malam panjang pun berlalu, Vania dan Randy terlelap dalam pelukan mereka yang begitu hangat. Seperti nya malam ini mereka tidak jadi memadu kasih bersama karena kondisi Randy yang terlihat begitu memprihatinkan, melainkan mereka hanya ingin tidur bersama saja.
Suasana pagi harinya seperti saat pak Rahardian mencoba menampar Vania kala itu, tak ada sarapan pagi seperti biasanya karena anggota keluarga Widjaya memilih untuk sarapan masing-masing di luar dan berangkat pagi-pagi sekali. Meski pun kondisi Randy masih memperihatinkan namun ia adalah tipe orang pekerja keras, pantang baginya untuk membolos kecuali hal yang terlihat begitu penting, bahkan luka lebam di sekujur punggungnya juga masih membutuhkan pengobatan dari dokter.
Begitupun pak Rahardian pergi menaiki mobilnya, Vania dan Randy pun juga sama mereka nampak melaju dalam satu mobil bersama. Bu Sandra yang ditinggal di rumah pagi-pagi sekali itu, hanya termenung sambil memandangi ke luar jendela rumahnya, terlihat dedaunan yang basah dan berembun.
Bi Anum selalu setia menemani majikan nya yang sudah ia anggap saudaranya sendiri, ia menyeduh kan secangkir teh hangat beraroma melati kesukaan Bu Sandra. Wanita berkepala lima itu tersenyum, ia menyambut hangat teh buatan bi Anum dan duduk bersama di meja makan yang nampak kosong, kedua wanita yang sudah terlihat beruban itu memulai perbincangan mereka.
" Maaf Nyonya, saya juga tidak tahu tentang hubungan Den Randy sama Non Vania, bibi juga bingung memikirkan mereka nyonya," Ucap bi Anum memulai perbincangan dengan majikannya.
Namun Bu Sandra hanya tersenyum sambil menyeruput teh hangat nya. Ekspresi nya nampak membuat Art itu bingung, ia lantas mencerna nya sendiri.
" Apa Nyonya sudah tahu sebelumnya tentang hubungan Den Randy dan Non Vania..?," Ucap bi Anum bertanya dengan serius. Bu Sandra yang masih tersenyum lantas mengangguk.
" Apakah Nyonya merestui mereka..?," bi Anum bertanya lagi kepada Bu Sandra.
Dengan mantap wanita paruh baya itu mengangguk yang membuat Art nya kaget bukan main.
" Nyonya begitu berlapang dada dan begitu bijaksana, dulu saya juga sempat berfikir demikian, toh Den Randy dan Non Vania kan bukan saudara kandung, jadi sah-sah saja di mata agama," Ucap bi Anum yang begitu memuji Bu Sandra.
Karena Bu Sandra tak ingin anaknya bernasib sama seperti dirinya dahulu.
Sedangkan suasana di kantor sedikit ricuh hari ini, rumor yang ternyata benar merebak cepat di kalangan karyawan Firma grup, entah siapa yang membocorkan nya tapi gosip beredar dengan sangat cepat. Banyak sekali yang menatap kedatangan Randy dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Ia tak menggubris nya sama sekali dan langsung menuju ruangan nya, namun aneh nya dalam ruangan manager itu terlihat kosong, bahkan barang-barangnya nampak tidak berada di tempatnya.
Seorang sekretaris nya datang dan mengatakan untuknya segera menghadap kepada Presdir perusahaan yakni Ayahnya pak Rahardian Widjaya.
Randy mengangguk, ia menghela nafas panjang sebelum benar-benar masuk keruangan Ayahnya.
Tok..tok..tok..!!!
Randy mengetuk pintu ruangan bertuliskan Presdir, Randy memberanikan diri masuk keruangan Ayahnya yang terasa mencekam baginya.
" Masuk," Pak Rahardian berkata dengan sedikit lantang kepada seseorang yang mengetuk pintunya, padahal ia sudah tahu siapa yang menemuinya pagi-pagi sekali ini.
" Permisi yah, maksud ku pak Presdir, Saya Randy Pratama selaku manager ingin bertanya mengenai ruangan yang terlihat nampak kosong....," Belum selesai berbicara, ucapan nya di potong oleh lawan bicaranya.
" Tapi pak," Ucap Randy mencela ucapan Ayahnya.
" Tidak ada tapi, kamu bisa kembali bekerja," Ucap pak Rahardian menyuruh Randy untuk meninggalkan ruangan nya.
Randy mencoba mengatur nafasnya, ia pun mengangguk menuruti perkataan Ayahnya dan kembali bekerja.
Dalam ruangan direksi banyak sekali team yang terbagi dalam meja itu, saat Randy duduk di kursi yang ditunjukkan sekretaris nya dulu banyak sekali mata tertuju padanya. Entah mengapa mata-mata itu memandangnya seolah ia adalah penghianat perusahaan yang tak layak untuk duduk di kursi itu.
Namun Randy sama sekali tak menggubrisnya, ia kembali bekerja dengan jabatan baru nya kali ini sebagai karyawan staf biasa.
__ADS_1
Entah apa tujuan pak Rahardian menurunkan jabatan nya, namun bagi netizen yang bergosip yang tak lain dan tak bukan karena dia memanglah anak adopsi yang tak akan bisa mendapatkan kursi CEO dalam perusahaan Firma Widjaya grup.
Namun Randy adalah anak yang berbudi baik, ia tak ingin memberi tahukan masalah pekerjaan nya kepada Mama serta istrinya Vania, karena ia tak ingin akan ada cekcok lagi dalam keluarga mereka hanya karena masalah pekerjaan nya.
Seperti biasanya di sore hari tepat pukul 4 Randy mengemasi tas kantor nya untuk bersiap pulang, namun anehnya ketua direksi dalam divisi itu malah memberikannya pekerjaan lain agar ia tidak jadi pulang.
" Kerjakan semua berkas ini, dan jangan pulang sebelum selesai," Ucap Pria berperut buncit kepada Randy dengan sedikit membentak.
Randy terdiam memandangi berkas yang bertumpuk sangat tinggi di atas meja nya, lalu memandang pria berperut buncit itu berlalu pulang menenteng tas kerja nya. Entah mengapa ia serasa di asing kan hanya karena ia diturunkan dari jabatannya yang selama ini ia pegang.
Randy hanya tersenyum sengit, menghela nafas panjang lalu duduk kembali ke kursinya untuk mengerjakan berkas-berkas yang baru datang itu, Hari semakin larut dan satu persatu orang-orang dalam ruangan itu telah mengemasi tas kerja nya, menyisakan dirinya seorang diri yang terkesan tak dianggap.
Hingga hari sudah petang barulah tumpukan berkas itu selesai ia kerjakan, ia melihat jam di tangan nya, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Ia langsung teringat Vania, apakah ia masih menunggunya di pintu Kampus. Dengan gesit Randy mengemasi tasnya dan segara berlalu meninggalkan kantor menuju kampus Vania.
Ternyata benar, wanita berparas cantik itu masih menunggui nya di depan gerbang pintu kampus. Randy yang menghampiri Vania dengan terengah-engah lantas mendapatkan pelukan hangat dari istrinya.
" Akhirnya kak Randy datang juga, aku kira kakak akan berubah pikiran karena peristiwa kemarin," Ucap Vania yang nampak sumringah melihat suaminya masih teguh untuk mempertahan kan hubungan mereka meski belum mendapatkan putusan restu dari sang Ayah.
Kalau menurut othor sih Lama kelamaan juga pak Rahardian luluh, tapi gak tahu kapan ✌️
Terimakasih atas dukungan nya ya kakak readers..
__ADS_1
sehat selalu..