
Jalanan ibu kota nampak sedikit lenggang di Minggu pagi ini, namun keluarga Widjaya nampak sibuk untuk tetap ke kantor. Selain karena masalah semalam, sang CEO pak Rahardian sedang berusaha keras untuk membangun kembali perusahaan nya dari ancaman kebangkrutan.
Anak pertama nya juga turut membantu, ia juga tak pernah mengambil cuti ataupun sejenak libur di minggu pagi nya. Berbagai cara di lakukan agar perusahaan rintisan Ayahnya dapat bangkit lagi.
Sedangkan investor utama yang dengan sukarela memberi pendanaan hanya perusahaan milik keluarga pak Anton Candradinata. Dalam ruangannya yang nampak sepi Randy memikirkan tentang rencana pertunangan nya dengan Helena.
Meskipun ia sama sekali tak menaruh hati pada Helena, namun demi kemajuan perusahaan Ayahnya, ia harus rela menerimanya, hanya saja ada perasaan lain yang terus mengganjal di hatinya, bagaimana dengan Vania, ia telah menikahi gadis itu dan begitu sangat menyayangi nya, benar kata Vania, ia tak mungkin rela jika harus di madu.
Randy memijit kepalanya karena pusing memikirkan hal itu. Jam makan siang pun tiba, seseorang mengetuk pintu ruangan nya, yang tak lain dan tak bukan adalah Ayahnya Pak Rahardian Widjaya, karena hanya mereka berdua yang lembur bekerja.
Siang nya sang ayah mengajak nya untuk makan siang di sebuah restoran terdekat. Tak biasanya kedua Ayah dan anak itu sedikit canggung, sebelum makanan yang mereka pesan datang mereka hanya diam tak membahas apapun hingga akhirnya pak Rahardian membuka percakapan nya.
" Maafkan Ayah semalam, Ayah tidak sengaja menampar kamu," Ucap Pak Rahardian sedikit kikuk.
Randy hanya tersenyum tipis, ia juga sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.
" Randy tidak mempermasalahkan nya, hanya saja Vania, dia anak Ayah, jangan menamparnya jika masih bisa dibicarakan baik-baik," Ujar Randy berbicara menatap gelas di depan nya.
" Ya, Ayah akui memang Ayah salah semalam, karena sudah terbawa emosi, Ayah akan berbicara baik-baik dengan Vania," Jawab Pak Rahardian sambil sedikit mengangguk kan kepala nya.
" Apakah kamu punya rasa kepada Vania," Tanya pak Rahardian mendadak.
Randy langsung terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Ayahnya, untung saja ia sedang tidak meneggak minuman di depan nya, kalau tidak ia bisa ketahuan karena ia bisa menyemburkan minuman itu tepat di muka Ayahnya, karena itu adalah kebiasaan nya dari kecil, yang tidak bisa berbohong.
" Apa maksud Ayah, Randy mana mungkin memiliki perasaan kepada adik sendiri," Ucap Randy dengan tenang, namun yang sebenarnya begitu tegang.
Pak Rahardian yang mendengar jawaban dari Anak pertamanya itu langsung mengangguk sambil tersenyum.
" Berarti kamu bisa bertunangan dengan Helena, tanpa paksaan dari Ayah," Pak Rahardian langsung mengucapkan kalimat yang membuat Randy tidak bisa mengatakan tidak.
__ADS_1
Pria berparas tampan itu sedikit menghela nafasnya pelan, ia lalu menganggukkan kepalanya menjawab ucapan lawan bicara nya.
Pak Rahardian langsung berdiri sambil menepuk pundak anaknya, ia tak menunggu makanan datang.
" Setelah makan siang, pulanglah beristirahat, jangan terlalu memaksakan diri," Pak Rahardian pergi meninggalkan Randy yang masih terduduk menunggu makan siang mereka yang belum datang, ia masih terdiam saat makanan yang belum sempat di makan Ayahnya datang. Ia mengerti maksud perkataan yang di ucapkan Ayahnya barusan. Sepertinya pak Rahardian memang tidak akan merestui hubungan nya dengan anak kandung nya Vania larissa.
Setiap hari Vania selalu di antar jemput oleh Randy, namun ia sama sekali tak membawa gadis cantik itu ke apartemen nya, pernikahan siri itu seakan hanya status agar Vania tidak menghindari nya.
Padahal yang sebenarnya terjadi karena ia bingung harus bagaimana, ia membagi fokus nya pada dua orang perempuan.
Setelah mengantar Vania kuliah, ia langsung berkerja dan selalu bertemu Helena karena wanita itu selalu menyempatkan makan siang bersamanya.
Sore harinya saat ia selesai dari kantor, ia langsung mengantar Helena pulang lalu menjemput Vania dan pulang bersama.
Randy bukan lah tipe Pria Cassanova yang bisa hidup dengan lebih dari satu perempuan, ia begitu stres dengan hadirnya kedua perempuan di hidupnya.
Yang satu adalah istri sah nya di mata agama, yang satu lagi wanita yang sebentar lagi menjadi tunangannya yang direstui masing-masing keluarga.
----****----
Kedua insan yang akan bertunangan itu nampak sibuk mencari fitting baju bersama, Seperti biasa Helena selalu menempel kemanapun Randy berada, hingga sama sekali tak memberi celah Vania untuk bersama, padahal ia belum menuntaskan malam pertama bersama istri nya.
Hingga tak terasa acara Pertunangan yang di majukan lebih awal itu akhirnya terlaksana. Acara yang tidak terlalu megah yang hanya mengundang karyawan-karyawan mereka saja.
Randy nampak sedang merapikan dasi nya sambil menunggu Helena di hias oleh penata rias. Ia terus menatap handphone nya menunggu seseorang membalas pesan nya, namun sayangnya orang itu tak kunjung memberi kabar untuknya.
Helena yang menatap dari cermin, melihat kegelisahan calon tunangan nya dan langsung menanyai nya.
" Kenapa sayang, kamu terlihat gelisah dari tadi," Helena bertanya pada Randy tanpa menoleh padanya karena masih di rias.
__ADS_1
Namun Pria itu malah langsung pergi dengan mengatakan kata maaf untuk calon tunangan nya.
" Maaf Helena, sekarang aku harus pergi dulu," Ucap Randy yang langsung pergi meninggalkan tunangan nya yang masih di rias.
" Kamu mau kemana Randy!!!!!," Helena berteriak sangat kencang membuat nya berdiri namun tak sempat mengejar Pria itu.
Ia memandang punggung pria itu yang berlalu pergi tanpa alasan, ia terduduk lesu di pinggiran kasur membayangkan bagaimana ia harus menghadapi keluarganya beserta tamu undangan yang hadir karena kaburnya mempelai pria.
Randy pergi meninggalkan gedung resepsi pertunangan nya tanpa diketahui siapapun.
Ia diam-diam menuju parkiran dan menaiki mobilnya, ia terus menghubungi gadis itu namun sama sekali tak ada jawaban.
Tanpa berpikir panjang ia mengemudikan laju mobilnya, sepertinya ia tahu dimana Vania berada.
Ia menuju Apartemen miliknya, tepat seperti dugaan nya, gadis yang ia cari-cari berada disana, ia nampak sedang merenung di ruangan outdoor apartemennya.
Randy berjalan mendekati nya dengan ikut menatap pemandangan perbukitan di luar.
" Aku tahu kamu pasti sangat marah padaku dan bahkan membenciku," Ucap Randy yang berdiri di samping Vania.
Gadis itu masih menikmati pemandangan itu tanpa mau beradu argumen dengan pria yang sudah menjadi suaminya.
" Vania, aku tidak memiliki pilihan selain melaksanakan perjodohan ini, tolong maafkan aku, aku tidak masalah jika kamu membenciku, bahkan jangan memberi maaf untukku," Randy berkata semakin sendu sambil menitik kan air matanya.
Vania menatap nya tanpa menjawab sepatah katapun, ia langsung mendekatkan wajah nya kepada Randy, menyentuh bibir hangat nya yang begitu merekah.
Kedua insan itu saling membalas ciuman hangat mereka yang kian memanas.
" Bisakah kita lakukan sekarang," Ucap Vania berbisik lembut di telinga Randy.
__ADS_1
Keduanya saling bertatapan dengan hasrat yang sudah lama terpendam.