Gairah Ranjang Kakakku

Gairah Ranjang Kakakku
Aku ingin mengingatmu


__ADS_3

Perhatian, ini hanya Novel semata, semua tokoh, karakter dalam cerita hanya fiksi belaka, apalagi kesamaan nama tokoh dan latar cerita itu tidak di sengaja, happy Reading 🙂


***


Helena nampak mondar-mandir di pintu kamar, ia masih waspada jika Vania dan Brian menemukan keberadaan mereka. Randy mendekati Helena yang sedari tadi mondar-mandir tidak jelas, ia nampak berjalan memakai tongkat karena tidak mau bergantung dengan kursi roda.


" Kamu kenapa Helena, dari tadi mondar-mandir di depan pintu, apa kamu sedang ada masalah," Randy bertanya kepada lawan bicaranya yang masih terlihat tidak fokus.


" Ah, iya aku tidak apa-apa, kamu kenapa meninggalkan kamar sayang, kamu masih perlu banyak istirahat," Helena berucap khawatir mengajak nya untuk masuk kembali ke kamar.


" Aku bosan ingin bertemu keluarga ku, kapan mereka sampai," Randy bertanya lagi yang membuat Helena kelabakan, namun dengan kepiawaian nya berkelit ia dapat menjawab pertanyaan Randy dengan lancar.


Randy yang mendengar jawaban Helena hanya bisa menghela nafas, sedari kecil ia tidak pernah sakit maupun cedera yang membutuhkan pemulihan lama, rutinitas nya pun sehari-hari begitu padat, wajar jika ia begitu bosan hanya berbaring di kasur seharian, sudah terhitung tiga hari ia siuman semenjak di rumah sakit.


Ia terus menghela nafas membolak-balik buku yang sudah ia baca berulangkali. Seperti nya penyembuhan nya lebih cepat dari perkiraan, bahkan sendi-sendi tulang nya tidak terasa begitu nyeri jika di gerakkan.


***


Vania terduduk di koridor rumah sakit, wajahnya terlihat lelah, bahkan ia nampak melamun, Brian yang melihatnya dari kejauhan lantas menyodorkan segelas susu coklat hangat untuknya, Pria itu menghentikan aktivitas nya sejenak menanyai bagian informasi rumah sakit yang ia datangi.


" Minum dulu, jangan khawatir kita pasti akan segera menemukan mereka," Ucap Brian yang selalu mengatakan kalimat optimis nya kepada Vania.


Vania hanya mengangguk, ia lalu menyeruput susu coklat hangat yang terasa begitu menenangkan baginya.


" Vania, bolehkan aku bertanya tentang hal yang sedikit membuatmu kesal," Mata mereka langsung bertemu, Vania langsung mengkerut kan sedikit alisnya namun mengangguk.


Brian tersenyum tipis, walaupun mungkin Vania tidak terlalu respect akan pertanyaan nya setidaknya ia sudah mencoba untuk bertanya.


" Apakah kamu tahu tentang Helena," Ucap Brian sedikit kikuk untuk bertanya.


Benar saja Vania memang tidak respect sama sekali tentang hal yang bernama Helena, ia berdecak kesal saat nama itu disebut bahkan ingin beranjak pergi.


" Maafkan aku Van," Brian langsung menahan tangan Vania yang hendak beranjak pergi meninggalkan nya.

__ADS_1


Namun Vania langsung memejamkan matanya sesaat, seharusnya ia tak perlu terbawa suasana toh Brian hanya bertanya padanya, walaupun ia tidak tahu apa motivasi nya bertanya kepadanya.


Vania lantas mengurungkan niatnya untuk pergi, ia duduk lagi di kursi dan menatap Brian yang terlihat merasa bersalah. Vania menghela nafas begitu panjang dan menjawab pertanyaan Brian yang dinilainya begitu menyebalkan.


Kenapa juga harus menceritakan wanita menyebalkan itu disaat situasi yang genting seperti ini, Vania mulai menjawab pertanyaan Brian dengan sedikit malas.


" Dia anak dari kolega Ayahku, memang sedari kecil sering bermain bersama kami dulu," Ucap Vania terus memutar bola matanya.


Brian hanya mengangguk mendengar jawaban Vania.


" Memangnya kenapa," Vania nampak heran.


Brian hanya menggeleng, dan berkata hanya ingin bertanya saja.


" Dia seorang Seniman Pelukis di Paris, padahal katanya dia sudah tak mau kesana, tapi akhir-akhir ini malah kembali kesana, memang wanita labil," Umpat Vania begitu puas dengan tertawa sengit.


" Paris," Brian seakan seperti mengingat sedikit potongan ingatan nya, namun sayangnya ia masih tak bisa mengingatnya dengan jelas, yang ia ingat hanya saat ia tersadar di rumah sakit di Paris akibat kecelakaan saat itu.


Namun belum sempat Brian berkata, seseorang datang menghampiri mereka, nampak nya ia orang Kedubes di Belanda.


" Seperti nya aku bisa membantu kalian," Ucap nya dengan aksen Belanda.


Brian yang mengerti bahasanya langsung mengangguk dan mengajak Vania untuk beranjak meninggalkan rumah sakit. Di dalam mobil Pria berjambang itu memberikan kertas tentang informasi hunian Helena, ia nampak memiliki 2 real estate di pusat kota.


Brian menatap Vania yang sudah begitu gemas ingin segera menemui mereka, bahkan orang kepercayaan nya itu memberi tahu jika semua hunian nya di jaga ketat oleh keamanan.


" Lebih baik kalian kesana membawa keamanan juga," Ucap orang kedubes itu memberi saran.


Brian mengangguk dan menyewa beberapa body guard untuk mengawalnya mendatangi kedua tempat Helena.


Salah satu real estate itu nampaknya kosong, hanya ada beberapa satpam yang berjaga, hingga akhirnya mereka ke Real estate selanjutnya yang tepat di pusat kota Amsterdam, seolah Brian yakin bahwa Helena dan Randy disana.


" Vania, kita selesaikan dengan kekeluargaan, kita bisa mendiskusikan bersama," Ucap Brian mewanti-wanti Vania yang nampak sudah siap tempur.

__ADS_1


Vania hanya mengangguk, entah ia benar menurut perkataan Brian atau tidak. Real estate yang mereka datangi ternyata penjagaan nya lebih ketat dari yang mereka kira, nampaknya Brian kalah jumlah membawa bodyguard.


Tapi ia tetap optimis, karena ia datang tidak ingin mengajak duel melainkan berdiskusi secara kekeluargaan. Sambutan tak ramah memang langsung mereka dapatkan begitu sampai di pintu Apartemen, namun Brian tetap mencoba beramah-tamah.


" Kami hanya ingin menemui Nona Helena sebentar," Ucap Brian begitu santun berbicara aksen Belanda.


" Nona kami sedang tidak disini, kalau tidak percaya kalian bisa masuk untuk melihat," Ucap salah seorang pimpinan mereka yang juga beramah-tamah dengan Brian yang nampaknya ia kenali.


Mereka akhirnya mengijinkan Brian dan lainnya untuk masuk mengecek tentang keberadaan Helena, benar saja sekalipun mereka berpencar tetap tidak menemukan keberadaan Helena. Brian yang yang juga mengingat pimpinan itu adalah kenalan nya langsung mendekati nya.


" Tolonglah aku, beritahu keberadaan Nona kalian," Bisik Brian ke telinga pimpinan para penjaga itu.


" Aku tidak mungkin mengkhianati bos kami, tapi kalian coba cari lagi saja di pinggiran kota," jawab nya juga berbisik.


Brian yang mengerti lantas mengangguk, menepuk pundak nya pelan. Mereka akhirnya pergi dengan berpamitan begitu santun tanpa adanya pertikaian sedikitpun yang di harapkan Vania.


" Lho kok kita pulang, siapa tahu Helena hanya bersembunyi dan menyembunyikan kak Randy di kamar lain," Ucap Vania yang seolah tak terima untuk pulang.


Brian hanya tersenyum dan mengajak Vania untuk segera masuk ke mobil.


" Tenang saja orang itu juga kenalan ku, dia bisa di andalkan, kita cari di pinggiran kota saja, seperti nya ia hanya menyewa tempat saja supaya tidak tercatat di kedubes," Brian berkata leluasa kepada Vania saat sudah mengendarai mobilnya.


" Caranya bagaimana, pinggiran kota juga luas," Vania nampak cemas.


Pintar banget ya Helena, tapi sepandai-pandainya tupai melompat ia pasti akan jatuh juga.


Request dari Readers upadate Visual,


Helena Candra Dinata


( Keturunan Tionghoa murni)


__ADS_1


__ADS_2