Gairah Ranjang Kakakku

Gairah Ranjang Kakakku
Takdir yang begitu rumit


__ADS_3

Langit pun seakan ikut bersedih, awan cerah yang sedari pagi nampak terlihat perlahan bergeser menjadi awan mendung yang gelap, bahkan sedikit bergemuruh di langit.


Vania begitu syok mendengar bahwa Randy pergi keluar negeri bersama Helena, bahkan ia juga melihat kedua orangtuanya pergi berbekal koper dan memasukkan nya ke bagasi mobil, dalam pikiran Vania apakah mereka akan mengadakan pesta pernikahan di luar negeri secara diam-diam dan tidak mengikut sertakan dirinya, Vania kalap dengan pemikiran nya tanpa tahu kejadian yang sesungguhnya.


" Vania tahu, Ayah belum bisa menerima pernikahan Vania dan kak Randy, tapi kami saling mencintai, apapun akan Vania tempuh demi bisa bersama nya, jadi tolong jangan halangi kami," Ucap Vania menyeka air mata di pipinya.


Tak berselang lama rintik hujan turun ikut mengiringi kesedihan nya. Pak Rahardian menghela nafas panjang, sedangkan Bu Sandra lantas memeluk Vania. Keputusan yang di ambil kedua orangtuanya memang begitu pelik.


Malam kemarin, Dokter yang menangani operasi Randy keluar dan memberikan kabar yang membuat ketiga orang yang menunggunya begitu panik.


Operasi memang berjalan lancar namun masih butuh beberapa kali operasi, Karena Sum-sum tulang belakang nya patah dan menjalar ke syaraf lain nya yang membuat kesadaran nya hilang atau dikatakan koma. Dokter yang menanganinya pun menyarankan agar di rujuk di rumah sakit ternama karena kurang fasilitas yang memadahi di rumah sakit itu, namun keputusan pak Rahardian menginginkan nya di obati di luar negeri dengan meminimalisir resiko yang tidak di inginkan, kebetulan di luar negeri ia mengenal relasi Dokter hebat ahli syaraf.


" Ini semua salah Om, Semoga dengan cepat membawa Randy ke rumah sakit luar negeri bisa membuatnya pulih lagi," Ucap pak Rahardian dengan penuh penyesalan.


Bu Sandra terus menangis di pelukan Helena yang berusaha menenangkan nya, ia begitu meratapi nasib malang anak yang dicintainya. Setelah di pindahkan keruangan ICU, mereka menemui Randy dengan keadaan koma dan dengan alat bantu medis.


Meskipun ia terbaring koma, wajahnya tetap berseri, seolah ia memang anak anugrah yang maha kuasa yang dikirimkan untuk menjadi anak mereka, ia masih begitu tampan tak terlihat wajah kesakitan.


Bu Sandra dan pak Rahardian semalaman suntuk menjaga Randy, sepasang suami istri itu meminta Helena untuk pulang dan beristirahat. Lalu paginya mereka bergantian jaga saat Helena kembali. Sebelum sepasang suami-istri itu pulang untuk beristirahat sejenak, mereka sudah meminta surat rujukan agar Randy bisa secepatnya di pindahkan.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang Bu Sandra nampak begitu cemas, ia terus menatap jalanan dari dalam mobil dengan terus mengkerut kan keningnya.


" Apa tidak lebih baik kita memberitahukan keadaan Randy kepada Vania yah, dia juga berhak sebagai adik serta istrinya," Ucap Bu Sandra kepada suaminya yang masih fokus menyetir.


" Biarkan keadaan seperti ini dulu, yang terpenting kita fokus untuk mengobati Randy, kenalan dokter Ayah di Itali bisa di andalkan," Ucap pak Rahardian berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


Bu Sandra menghembuskan nafas sedikit kasar menyikapi keputusan suaminya yang dinilai sedikit tak adil. Bagaimana pun juga keduanya masih berstatus anak mereka yang begitu ia sayangi.


Cuaca yang sebelumnya hanya rintik hujan akhirnya turun dengan deras, Bu Sandra nampak memeluk dengan erat Vania yang menangis dalam pelukannya. Pak Rahardian memejamkan kedua matanya juga menghela nafasnya begitu berat.


Bulan ini Vania harus fokus mengerjakan skripsi nya, karena pak Rahardian tak ingin anaknya mengulang kuliah tahun depan, ia memiliki rencana menjadikan anak kandungnya itu sebagai CEO perusahaan.


Namun pak Rahardian langsung menarik tangan istri nya menaiki mobil meninggalkan garasi rumah, serta meninggalkan Vania di rumah sendirian lagi, bi Anum yang dari tadi menguping dari dalam rumah langsung menemui Vania yang ditinggal kan lagi oleh orangtuanya.


Ia gantian memeluk Vania yang terus menangis, mencoba menenangkan nya, ia juga merasakan iba terhadap anak majikannya yang sudah ia anggap anak sendiri.


Sedangkan kedua orangtuanya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit swasta di persimpangan jalan, hari ini prosedur rujukan di lakukan siang hari dan langsung menerbangkan Randy ke Itali.


Kedua orangtuanya beserta Helena yang semalam membicarakan rujukan itu sepakat untuk berangkat bersama menyewa jet medis secara pribadi, perjalanan pesawat jet itupun memakan waktu semalaman untuk sampai di negara Italia.

__ADS_1


Sesampainya di bandara Athena, Randy langsung mendapatkan fasilitas medis Rujukan sesuai surat dari rumah sakit swasta di Jakarta. Di Sana ia dirawat serta akan menjalani lagi operasi kedua perbaikan sum-sum tulang belakang.


Kurang lebihnya 3 hari, orangtuanya Bu Sandra dan pak Rahardian akan bermalam di Negara orang, selebihnya Helena yang akan merawat Randy selama di Italia, berbekal relasi yang kuat mereka yakin Randy akan segera pulih.


Helena menunggu di koridor rumah sakit meregangkan otot kakinya yang selama semalaman penuh berada di pesawat Jet, matanya tak sengaja melihat seseorang yang begitu familiar akhir-akhir ini, padahal dengan susah payah ia hindari selama ini.


" Brian ".


Apa yang ia lakukan disini, Helena bertanya-tanya sambil mengalihkan wajahnya agar tidak diketahui oleh nya, Pria itu berjalan lurus melewati nya menuju sebuah ruangan lain di samping koridor.


Helena yang mencoba agar tak di kenali nya langsung bernafas lega saat ia hanya melewati nya tak mengenali, Apakah ini yang dinamakan takdir, berusaha menghindari sekuat apapun pada akhirnya akan bertemu juga, meskipun sudah keluar dari Indonesia tetap saja bertemu walaupun di negara lain. Keberadaan Brian yang tiba-tiba membuat gelisah hati Helena, apalagi kedatangannya di rumah sakit ternama ini untuk therapist pemulihan ingatan.


" Lho, Om dan Tante kok disini, siapa yang sakit," Ucapan Brian begitu lantang terdengar di sudut koridor menyapa orang yang ia kenal di negara orang.


Helena yang mendengar itu seketika langsung lemas, ia seakan lupa bahwa ia kesini bukan sendirian melainkan bersama Calon mertuanya. Sebentar lagi Brian akan tahu jika ia juga ikut serta bersama Bu Sandra dan pak Rahardian di rumah sakit ini.


" Nak Brian, kebetulan sekali ya, kok bisa ketemu disini, Tante dan Om sedang menunggu kakak Vania yang sakit," Ucap Bu Sandra menjawab pertanyaan Brian yang mengejutkan mereka karena tiba-tiba datang menyapa mereka.


Percakapan itu seakan menunggu giliran namanya untuk disebut, yang bisa membuat jantungnya berhenti berdetak. Meskipun saat ini Brian belum mengingatnya namun itu seolah bom waktu yang suatu saat akan terungkap kebenaran nya.

__ADS_1


__ADS_2