Gairah Ranjang Kakakku

Gairah Ranjang Kakakku
Firasat Ayah


__ADS_3

Seusai kepulangan keluarga pak Anton Candradinata, seperti biasa pak Rahardian selalu ingin mengajak anak pertamanya untuk mengobrol bersama, namun kali ini Vania tidak langsung naik ke kamarnya, ia ikut menimbrung dalam perbincangan.


" Helena adalah wanita berkelas lulusan S2 fakultas luar negeri, sekarang menjadi pelukis terkenal, apalagi ia adalah anak dari Pak Anton Candradinata, Ayah rasa karir mu akan lebih baik," Ucap pak Rahardian tersenyum sambil menyeruput kopi yang belum sempat ia minum tadi.


" Ayah kenapa sih, selalu mengatur hidup kak Randy, memaksa dia untuk selalu belajar giat hingga lulus S2, sampai pasangan saja ayah yang menjodohkan nya, dia sudah dewasa yah, ia berhak atas hidupnya sendiri, jangan selalu memaksa nya sebagai alat untuk kemajuan perusahaan," Ucap Vania yang langsung menerjang ayahnya.


Pak Rahardian yang mendengar itu langsung tersentak, dari dulu Vania memang selalu seperti itu, ia tidak ingin ayah nya mencampuri kehidupan nya, namun kali ini yang di bahas adalah Randy, Pria yang baru tadi menikahinya. Siapa pun tidak ada wanita yang ingin di madu, meskipun itu bukan kehendak mereka.


" Vania, kamu masih sakit," Ucap pak Rahardian mencoba memahami maksud anak perempuan nya.


" Hati ayah yang sakit, karena merasa selalu tidak puas dan memaksakan kehendak kepada anak sendiri," Ucap Vania yang meninggikan nada bicaranya.


Pak Rahardian yang merasa Vania sudah keterlaluan langsung berdiri dan menampar wajah anaknya, namun Randy melindungi gadis itu, yang akhirnya mengenai wajahnya.


Pak Rahardian tak sengaja menampar wajah Randy, ia menghentikan langkah kaki nya dan seketika langsung merasa bersalah.


" Luapkan emosi Ayah pada Randy saja, jangan kepada Vania, ia adalah anak Ayah yang berharga," kata-kata Randy begitu santun namun memiliki arti yang menusuk.


Sang Ayah yang sudah merasa kalap akhirnya pergi ke arah kamarnya meninggalkan kedua anaknya di ruang tamu itu.


Bu Sandra dan bi Anum juga ikut terkejut mendengar suara keributan dari arah ruang tamu, keduanya tadi sibuk di dapur memasak untuk menyiapkan makan malam.


Setelah kejadian itu seperti biasa Vania langsung naik ke atas kamarnya dengan memijaki anak tangga dengan kasar namun kali ini dengan berderai air mata.


" Ada apa Ran, kok mama dengar ribut-ribut," Ucap Bu Sandra menanyai Randy yang masih menatap Vania berlalu ke kamarnya.


" Hanya salah paham saja ma, tolong mama tenangkan Ayah, biar Randy yang mencoba bicara dengan Vania," Ucap Randy yang juga menyusul Vania naik ke lantai atas.


Dia melihat adik yang sekarang menjadi istrinya itu menangis.

__ADS_1


" Vania... Kakak boleh bicara," Ucap Randy yang langsung masuk karena pintu kamar gadis itu tidak di tutup.


Namun gadis itu sama sekali tak mau bicara, ia terus larut dalam kesedihannya.


" Vania, kamu tidak boleh bicara tidak sopan dengan orang tua kamu sendiri, apalagi sampai menyudutkan nya seperti itu," Tutur Randy berbicara pelan dengan gadis yang masih nampak cantik meskipun mata nya sembab.


" Siapa yang tidak sakit hati, pasangan nya dipaksa bermadu meskipun itu bukan keinginan nya, karena akar permasalahannya ada di orang tua kita, ia selalu memaksakan apapun keinginan nya kepada kakak," Vania menatap mata Randy dengan kesenduan.


" Aku tidak ingin kakak di miliki siapapun, kamu sekarang adalah milikku, hanya milikku," Vania memeluk badan Randy dengan erat.


Di ruangan lain, Bu Sandra juga sedang menenangkan suaminya yang nampak masih menahan emosinya, Pria tua itu seakan mencerna setiap ucapan anak kandungnya.


" Apa jangan-jangan Vania suka dengan Randy ya ma," Ucap pak Rahardian yang langsung menerka isi hati anaknya.


Bu Sandra langsung menyangkal perkataan suaminya.


" Ngomong apa sih Ayah ini, mereka itu bersaudara yah, tidak mungkin lah Vania suka dengan kakaknya sendiri," Ucap Bu Sandra dengan bersunggut.


Setelah dirasa Vania sudah tenang Randy beranjak untuk kembali ke kamarnya, namun tangannya di tahan oleh Vania.


" Kakak mau kemana, kita belum menuntaskan malam pertama kita," Ucap Vania berkata pelan pada Randy.


Pria itu yang langsung teringat bahwa mereka sudah menikah langsung merinding sekujur badannya.


Malam pertama yang belum tuntas, bagaimana ia harus melakukan nya, di ranjang Vania, atau di ranjangnya, kalau sampai ketahuan oleh orangtuanya bisa-bisa ia di penggal.


" Sayang, maaf ya kita lagi di rumah, kalau sampai ketahuan bisa membuat masalah menjadi runyam," Randy mencoba meminta pengertian Vania.


Gadis itu mengangguk mengerti. Akhirnya malam ini mereka menunda lagi bermain sepak bola menerobos gawang, meskipun keadaan begitu sulit memisahkan mereka dengan jarak, baik Randy maupun Vania tetap teguh pada cinta mereka.

__ADS_1


Sebelum benar-benar meninggalkan kamar Vania, Randy memberikan ciuman panas nya dengan penuh gairah hingga membuat Vania bergetar seluruh tubuhnya.


" Besuk kita lakukan di Apartemen ya sayang," Bisik menggoda Randy yang semakin membuat badan Vania bergetar hebat.


Malam ini mereka tidur masing-masing di kamar mereka, keyakinan cinta itu masih teguh menanti saat yang tepat untuk meminta restu dari Ayah dan Mamanya.


Keesokan paginya, keluarga widjaya nampak tidak melakukan rutinitas sarapan pagi mereka, karena sang kepala rumah tangga langsung berangkat ke kantor begitupun Randy dan Vania yang berangkat naik mobil bersama.


Hanya ada bu Sandra dan bi Anum di rumah yang juga enggan untuk sarapan, Bu Sandra duduk di kursi makan sambil melamun memikirkan ucapan suami nya semalam, namun lamunan itu tak berlangsung lama karena bi Anum membuyarkan nya.


" Pagi-pagi sudah melamun saja Nyonya," Tukas bi Anum sambil meletakkan segelas teh hangat beraroma melati untuk bu Sandra.


" Bi kira-kira sesama saudara apakah bisa saling jatuh cinta..?," Tanya bu Sandra kepada bi Anum yang juga ikut duduk menemani nya.


" Ya tidaklah nyonya, kan bersaudara masak bisa jatuh cinta," Jawab bi Anum yang memberi argumen.


" kalau misalnya bukan saudara kandung..?," Tanya bu Sandra lagi.


" Kalau bukan saudara kandung, bisa saja," Jawab bi Anum yang sesaat kemudian langsung menutup mulutnya.


" Apa Den Randy sama Non Vania," Jawab bi Anum lagi yang menatap mata bu Sandra seakan tak percaya.


Bu Sandra hanya menatap bi Anum dengan lesu, ia hanya tak bisa membanyangkan jika firasat suaminya itu benar.


" Pertunangan Randy & Helena sebentar lagi, aku hanya tidak ingin pertunangan itu batal," Ucap bu Sandra dengan menyeruput teh hangat beraroma melati di depan nya.


Sedangkan bi Anum hanya mengangguk tanpa berkomentar menyanggah perkataan majikan nya.


Sepertinya kedua orang tua nya memang belum merestui ya Readers 😕

__ADS_1


Vote, komen & like ya teman-teman author do'ain di lancarkan rezeky nya 🤲🏻


__ADS_2