
...Perhatian...
Ini hanyalah Novel semata, semua tokoh, karakter dalam cerita hanya fiksi belaka, apalagi kesamaan nama tokoh dan latar cerita itu tidak di sengaja, happy Reading 🙂
Vania tersenyum menyambut Ajakan Suaminya, mereka bercumbu dan saling bertukar Saliva, namun tiba-tiba Vania menghentikan ciuman nya.
" Sayang, bukankah kamu masih masa pemulihan," Vania tiba-tiba menghentikan ciuman panasnya saat teringat bahwa Randy masih masa pemulihan.
Muncul kekecewaan di raut wajahnya yang masih begitu tampan, Vania menarik nafas panjang menasehati Randy.
" Kamu masih seorang pasien yang di anjurkan untuk beristirahat untuk pemulihan," Vania menjauhkan bibir Randy saat Pria itu hendak mencium nya lagi.
" Aku sangat rindu padamu," Ucap Randy berusaha menggoda Vania lagi.
Namun Wanita cantik itu tetap menggelengkan kepalanya dan malah menyelimuti badan Randy dengan selimut yang begitu tebal dan hangat.
Vania lalu beranjak dan menyuruhnya untuk istirahat, ia mengatakan tak ingin menggangu istirahat nya.
" Tapi aku tidak terganggu sayang," Seru Randy yang tidak di gubris Vania.
Wanita itu melangkah meninggalkan pintu keluar dan menutup nya pelan. Saat ia berbalik, betapa terkejutnya ia saat Brian tiba-tiba berada di belakangnya.
" Astaga Brian, kamu bikin aku jantungan," Vania memegangi dadanya yang berdebaran. Brian malah tersenyum merasa tidak bersalah.
" Apa kakak kamu, maksudku suami mu baik-baik saja," Ucap Brian mengkhawatirkan Randy yang ia lihat tadi masih memakai tongkat untuk berjalan.
Vania langsung mengangguk, ia sedikit canggung kepada Brian, bagaimana pun juga Pria yang berdiri di hadapannya adalah orang yang begitu baik padanya.
" Brian aku..," Perkataan Vania langsung di potong Brian yang tak ingin mendengar lanjutan ucapan Vania.
" Tolong jangan menolak ku Sekarang, perjuangan ku belum selesai, aku ingin berjuang sampai akhir," Ucap Brian yang terlihat begitu menyedihkan di hadapan Vania, Wanita cantik itu merasa tidak tega padanya.
" Jangan sedih seperti itu, lebih baik kamu istirahat juga, saat kita sampai di Belanda kita sama sekali belum istirahat," Ucap Brian meminta Vania untuk segera istirahat.
__ADS_1
Vania tersenyum dan mengangguk. Brian pergi meninggalkan Vania, ia masuk ke kamar untuk menenangkan diri sejenak. Ia mengingat ucapan Helena tadi yang sekarang mengganggu pikirannya, ia langsung teringat lagi perbincangan nya siang tadi.
" Apa rencana mu," Ucapan Brian membuat Senyuman Helena semakin mengembang.
Helena mengajak Pria itu untuk duduk manis berbincang sebuah strategi padanya.
" Kartu Randy ada di keluarga nya terutama orang tua angkatnya, sedang kartu Vania ada di Randy, kita bisa bermain dalam sistim rantai itu," Ucapan Helena langsung menghasut hati Brian.
Ingin sekali rasanya ia bermain licik, mengikuti permainan Helena namun ia tidak ingin membuat Vania menderita karena mempermainkan hatinya, namun ucapan Helena terus membayangi pikirannya yang mencoba bersih.
Meskipun sekarang ia membantu Vania agar bisa bersatu dengan Randy, namun sebenarnya ia sedang menunggu saat yang tepat untuk mengambil hatinya, mungkin suatu saat hati Wanita pujaannya bisa terbuka untuknya dan mau menerima dirinya.
Hari sudah semakin sore, matahari yang menampakkan sinar malu-malu nya kini tenggelam membuat udara dingin itu semakin menjadi.
Brian mencoba untuk memejamkan matanya, ia juga sama hal nya dengan Vania, merasa lelah dan butuh istirahat.
Namun sayangnya Ucapan Helena terus terngiang di pikiran nya. Brian mengkerut kan keningnya dalam matanya yang terpejam mencoba tidur. Namun suara Helena terus memenuhi isi pikirannya, Wanita itu berhasil menghasutnya.
" Ahh, sial," Brian berdecak kesal, ia terus menggelengkan kepalanya berharap tidak mengikuti langkah kotor Helena, namun sayangnya ajakan itu semakin menginginkan nya untuk ikut hadir dalam sebuah kerja sama.
Brian terus memejamkan matanya dalam, ia sudah gila kenapa harus mengikuti kata hatinya yang begitu egois dan culas.
Tak lama menekan bel, Helena keluar dan membukakan nya pintu.
Wanita itu berdiri di depannya dengan senyuman yang begitu mengembang.
" Aku ingin bekerja sama," Ucap Brian langsung ke intinya tanpa mau bertele-tele.
Helena lantas menyuruhnya masuk dan merundingkan kerja sama mereka.
" Tenang saja, Om Rahardian ada di pihak kita, dia pasti akan membantu kita untuk memisahkan mereka berdua.
" Apa langkah mu selanjutnya," Brian bertanya pada Helena yang begitu percaya diri.
__ADS_1
Brian benar-benar mengikuti alur permainan Helena, sang Ratu akting itu memberikannya panggung untuk berperan dengan skenario yang ia buat.
" Lebih baik kamu berjalan sesuai alur saja dulu, buat mereka percaya padamu," Helena berkata dengan begitu bahagia, setidaknya musuhnya sekarang menjadi sekutu yang saling menguntungkan.
Namun saat Brian mengangguk tiba-tiba kepala nya terpikirkan suatu kejadian yang ia anggap pernah ia lakukan, sedikit pening jika ia semakin mengingat.
Helena yang dari tadi memperhatikan nya langsung terkejut.
" Brian, kamu kenapa," Ucap Helena panik.
Brian menatap wajah Helena yang kian memudar dalam pandangannya, lalu tiba-tiba berubah menjadi gelap. Dalam ruangan rumah sakit, seorang dokter mengatakan keadaan Brian kepada Helena.
" Tidak apa-apa, ia hanya terlalu kecapaian, seperti nya faktor kurang istirahat juga," Ucap salah seorang dokter yang terdengar samar di kuping Brian.
Rupanya tadi ia pingsan, dan di bawa Helena kerumah sakit terdekat karena takut ia kenapa-kenapa.
" Ah, kepala ku pusing," Brian nampak sedikit bangkit dari kasur nya dan memegangi kepalanya yang begitu pening.
Helena yang mengetahui Brian sudah sadar lantas membantu nya untuk sedikit beranjak dari kasurnya.
" Bagaimana keadaan mu Brian, apakah kamu baik-baik saja, apakah kamu mengingat suatu kejadian," Ucapan Helena terdengar menginterogasinya.
Namun Brian masih terdiam dan sama sekali tak bergeming.
" Apakah kita pernah bertemu sebelumnya," Ucap Brian yang langsung membuat Helena terkejut.
" Apa maksudmu bertemu, iya aku wanita yang menumpang di taxi yang beradu kecelakaan dengan mu kala itu," Ucap Helena sedikit gagap lagi.
" Maksud ku, jauh sebelum kita kecelakaan bersama waktu itu." Brian semakin memperjelas semuanya, seolah membuat pertanyaan skakmat untuk Helena.
Mata Helena langsung membulat sempurna, jantung nya yang sudah bisa tenang kini berdegup kencang karena rasa ketakutannya, Otak nya yang begitu pintar akan tipu muslihat kini tak bisa berpikir jernih, ia bingung harus menjawab apa, bahkan lidah nya terasa kelu untuk berbicara.
Apakah Brian mengingat nya ???
__ADS_1
Helena langsung melepaskan tangan nya di lengan Brian, ia melangkah sedikit mundur, rasa cemas nya kembali lagi dan kini terasa semakin nyata membuatnya tidak tenang. Helena terus menggelengkan kepalanya, saat Brian mulai menatap fokus matanya.
Terimakasih banyak atas dukungan Readers sekalian, Maafkan othor yang sok sibuk jarang update, masih othor usahakan nih ðŸ˜