
Pagi yang cerah itu membuat hati Vania semakin hancur, ia merasa orangtuanya begitu kejam padanya. Mengapa begitu cepat ia menjodohkan Randy, padahal baru kemarin ia menyatakan cinta padanya.
" Katanya yang jadi calon Den Randy cantik, tinggi, putih terus...," Ucapan bi Anum terhenti karena Vania membanting sendok yang baru di genggam nya, gadis itu kembali ke kamarnya, ia menaiki tangga dengan kesal, bahkan berbicara dengan bi Anum tambah membuatnya kesal.
Ia membanting pintu kamarnya, ia juga meluapkan kekesalannya dengan mengacak-acak meja riasnya. Kenapa ia begitu dibuat sakit hati dan di gores luka berkali-kali, ia benar-benar begitu mencintai kakaknya, dan tak ingin siapapun bisa merebut pria itu darinya.
" Kita lihat saja, siapa yang akan menang," Vania mengucapkan kalimat itu dengan luapan emosi.
---****----
Dalam perjamuan pagi, janji temu dengan Client, terdapat seseorang yang terus merasakan kegelisahan di hatinya.
Pria itu terus merasa tidak nyaman, namun ia berusaha untuk tetap tenang, perbincangan sesama orang tua itu terasa tidak menarik untuk usia anak pertamanya yang masih berjiwa muda.
" Haduh keasyikan berbincang sampai lupa ada nak Randy, Maaf ya nak Randy, anak Paman masih di luar negeri, siang ini dia landing, jadi nanti malam bisa bertemu pas makan malam, benar begitu pak Rahardian," Ucap kolega nya yang mengembangkan senyumannya.
" Tentu Pak Anton, kita kan mau ber besan," Ucap Pak Rahardian ikut mengembangkan senyumannya.
Randy hanya ikut tersenyum tipis, meskipun sebenarnya ia belum ingin dijodohkan, namun jika itu permintaan dari Ayahnya, ia tidak dapat menolak nya.
Siang harinya mereka akhirnya mengakhiri perjamuan pagi itu, Orangtuanya dan Randy pun pulang ke rumah. Setelah memarkirkan mobil Sedan nya di garasi, Bu Sandra dan Randy langsung bergegas masuk dengan kepentingan mereka masing-masing.
" Bi Anum, hari ini ada acara makan malam dengan Kolega, bantu saya menyiapkan hidangannya ya," Tutur Bu Sandra lembut pada Art yang telah setia menemani keluarga mereka.
Bi Anum yang sudah paham akan maksud Bu Sandra langsung mengelus dadanya karena bahagia, ia sangat menyayangi Randy seperti anaknya sendiri, setelah mendengar bahwa perjodohan itu berjalan lancar betapa bahagianya ia, akhirnya anak yang juga ia sayangi akan melepas masa lajangnya.
" Bi Anum, Vania sudah bangun belum bi..?," Ucap Randy yang langsung menanyakan Vania.
__ADS_1
" Sudah Den, cuma sepertinya Non Vania masih kurang enak badan," Ucap Bi Anum sambil memotong sayuran.
Ia bingung harus berbuat apa, jika ia mengetuk pintu kamarnya pasti Vania tidak akan membukakan pintu. Entah mengapa, ia begitu tersiksa dengan situasi sulit ini, Siang Harinya Bu Sandra mengetuk pintu kamar Vania, ia membawakan bubur serta buah potong untuk anak perempuannya.
Tak lama gadis itu membukakan pintu untuk mama nya, tapi dengan memperhatikan sekeliling.
" Kenapa sayang," Ucap Bu Sandra yang nampak bingung dengan tingkah putri nya.
Vania yang tidak menemukan Randy langsung meringis, ia masih mengira pria itu akan bersembunyi seperti saat bersama bi Anum. Sebelum mama nya menurunkan meja kecil berisi bubur dan buah potong, Vania langsung menghujani nya dengan pertanyaan.
" Kenapa Vania tidak di ajak dalam jamuan pagi tadi," Ucap Vania pada mamanya yang langsung terkejut.
" Sayang, kamu kan lagi sakit, lihat wajah kamu pucat sekali, mana tega kami membawa kamu, lagian acara nya nanti malam kok, anak kolega Ayah baru landing dari pesawat siang ini jadi acaranya di adakan malam ini," Ucap Bu Sandra yang langsung menyuapi anaknya dengan bubur.
" Vania tidak nafsu makan ma," Gadis itu langsung menyingkirkan sendok yang hampir mendarat ke mulutnya.
" Ma, memang benar kak Randy akan dijodohkan," Ucap Vania pada mamanya dengan nada lemas.
" Iya, kakak mu itu sudah dewasa, sudah pantas untuk menikah, Ayah berusaha mencarikan yang terbaik untuknya," Ucap Bu Sandra yang masih menyuapi Vania.
Tanpa ia sadari air mata menitik di pipi gadis itu, rasanya begitu sakit tak bisa meraih seseorang meskipun ia berada di dekat kita.
" Lho kok nangis, sayang.. mama ngerti pasti kamu takut kakakmu tidak bisa bersama kamu terus ya," Ucap Bu Sandra yang langsung memeluk putri nya.
Sambil menepuk-nepuk punggung Vania Bu Sandra menenangkan nya.
" Tenang Vania, meskipun kakak mu kelak menikah, ia akan sering mengunjungi kita kesini," Ucap Bu Sandra yang seakan juga tak rela anak pertamanya pergi meninggalkan mereka, namun itu adalah jalan setiap orang melewati fase hidupnya.
__ADS_1
" Malam ini dandan yang cantik, kita akan menyambut calon Kak Randy dengan spesial," Ucap Bu Sandra yang tidak tahu isi hati Vania.
Gadis itu langsung bermuram durja mendengar ucapan Mamanya barusan, ia berharap acara itu batal agar tidak ada yang mendekati kakak laki-laki nya.
---***---
Jamuan makan malam itu akhirnya terlaksana, sebuah mobil sedan mewah memasuki parkiran rumah keluarga Widjaya. Di dalam mobil itu terlihat Kolega sekaligus teman dekat Pak Rahardian. Kali ini ia membawa istri dan anaknya yang baru saja pulang ke Indonesia.
" Selamat datang Pak Anton dan Bu Jihan," Tuan rumah itu menyambut hangat tamu spesial nya malam ini.
" Wah, Cantik banget ya anak pak Anton ini," Ucap Bu Sandra yang memberikan punggung tangannya.
Wanita itu adalah Helena Candra Dinata, Putri tunggal dari pemilik perusahaan pendanaan multinasional, wanita itu berusia 28 tahun hanya terpaut satu tahun lebih muda dengan Randy. Ia memiliki paras wajah yang cantik, bodi proporsional, berkulit putih, dan tinggi sama persis seperti yang dikatakan bi Anum.
Vania yang juga berdandan sangat cantik malam ini, menatap rivalnya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan sinis. Sedangkan Randy terus menatap adiknya yang terus memperlihatkan tatapan menyeramkan nya.
" Hai Randy, kita bertemu lagi, masih ingat aku tidak, kita dulu yang membuat rumah pohon di taman lho," Ucap Helena menjabat tangan Randy dengan penuh tatapan kagum.
Randy langsung teringat dirinya 15 tahun silam yang menangis seharian dalam rumah pohon itu, saat mengetahui kenyataan bahwa ia bukanlah anak kandung keluarga Widjaya, rumah pohon itu adalah saksi betapa hancur dan terlukanya hatinya.
" Ah iya, tentu aku ingat Helena," Ucap Randy yang juga menjabat tangan Wanita bergaun merah itu.
Kedua pasangan orang tua itu saling tersenyum atas pertemuan kembali yang mulus ini, namun tidak dengan Vania yang terbakar Api cemburu melihat Randy tersenyum kepada wanita lain, selain dirinya.
Kira-kira, Randy akan menerima perjodohan ini tidak ya... ???🤔
Terima kasih atas kesediaan teman readers untuk memberikan dukungan nya.. sehat selalu, dan selalu dilimpahkan rezeki 🤲
__ADS_1