
Perhatian, ini hanya Novel semata, semua tokoh, karakter dalam cerita hanya fiksi belaka, apalagi kesamaan nama tokoh dan latar cerita itu tidak di sengaja, happy Reading 🙂
Brian begitu perhatian kepada Vania yang dari tadi nampak hanya melamun saja, ia memberikan rangkapan jaket nya kepada Vania, ia tahu bahwa disana sedang musim dingin, bahkan Salju sudah mulai turun lebat.
Satu sachet obat pereda rasa mual juga tak lupa ia berikan ke Vania, Mereka mengambil penerbangan malam, agar bisa sampai pagi harinya.
Sekitar 11 jam lamanya mereka akhirnya sampai di bandara italia, Brian menghela nafas melihat negara yg sudah di penuhi salju itu, rasanya kemarin saat ia pulang salju di dekat bandara belum setebal yang sekarang ia lihat, seolah ia tidak bisa pulang ke Indonesia karena harus merasakan musim ke empat di negara ini.
Brian menggandeng tangan Vania agar tidak kedinginan, suhu yang mines 20°C itu membuat jalanan seolah membeku, mereka mencari alternatif tercepat mencapai rumah sakit tujuan , namun sayangnya beberapa taksi bandara berhenti beroperasi karena jalanan yang terlalu licin.
Dengan sigap Brian meminta asisten nya untuk datang menjemputnya, Namun ia lupa jika asisten nya tak ikut bersamanya kembali lagi ke Italia.
Ia meringis menatap Vania yang mendengar ucapan nya yang terdengar kencang di telepon, asisten nya menolak menjemputnya karena keberadaan nya di Indonesia. Vania memutarkan bola matanya seolah selalu konyol jika berhadapan dengan Brian.
Wanita cantik itu berjalan ke arah luar Bandara menengok ke beberapa arah mencari angkutan alternatif lain.
" Kalau jalan kaki jauh tidak ya," Brian mencoba membuka maps dalam ponselnya, jarak yang hampir 4 jam jika ditempuh berjalan kaki membuatnya tersenyum meringis lagi, Vania yang ikutan menatap layar ponsel Brian juga ikutan konyol bersamanya.
" Sana jalan kaki sampai 4 jam," Ucap Vania yang berjalan menerobos tumpukan salju yang begitu lebat.
Pria itu lantas sedikit mempercepat jalan nya karena Vania sudah berjalan sedikit jauh.
Di Persimpangan jalan raya terdapatnya halte tempat menunggu Tram. Fasilitas umum itu nampaknya masih beroperasi meski turun salju yang begitu lebat, Vania dan Brian terduduk di halte menunggu kedatangan kereta dalam kota itu.
Brian lantas memberikan penghangat berbentuk saku kotak di tangan Vania, ia tak ingin wanita disebelah nya membeku karena dingin nya cuaca ekstrem di Negera tersebut.
Meskipun mereka menunggu begitu lama, namun akhirnya mereka bisa merasakan duduk di suhu yang hangat di dalam Tram.
__ADS_1
" Vania, aku harap kamu bisa bersikap lebih dewasa saat nanti bertemu mereka, ingat kita nanti berada dalam rumah sakit tempat orang sakit dan butuh ketenangan," Ucap Brian memberi nasihat pada Vania, meskipun ia selalu saja bertingkah konyol di depan Vania, namun pemikiran nya jauh lebih dewasa.
Setelah memakan kurang lebih 30 menit perjalanan, mereka sampai di rumah sakit ternama di Italia.
Brian mencoba meyakinkan Vania untuk melangkah masuk ke dalam menemui keluarganya. Mata pertama yang melihat kedatangan Vania dan Brian adalah Helena yang kebetulan menatap ke arah pintu masuk ruangan Randy.
" Lho, Vania," Ucap Helena yang nampak terkejut atas kedatangan dua orang menuju ruangan Randy.
Pak Rahardian dan Bu Sandra yang juga berada dalam kamar itu seketika menoleh saat nama Vania disebut calon menantunya.
Pak Rahardian yang melihat secara langsung putri kesayangannya datang menyusul mereka ikutan terkejut.
Vania yang seolah tamu yang tak di harapkan mencoba memberanikan diri melangkah masuk keruangan suaminya dirawat.
Pandangan nya langsung teralihkan kepada seseorang yang sangat ia kenali, ia seolah sedang tertidur dengan lelap memakai alat medis untuk membantu ia bernafas.
Vania berjalan menghampiri, tanpa menyapa kedua orang tua nya serta Helena, ia hanya berfokus pada Randy.
" Ada apa dengan kakakku, kenapa ia terbaring disini," Ucap Vania masih menatap Randy seolah ia tidak percaya bahwa ucapan yang dikatakan Brian padanya adalah benar adanya.
" Vania, kita lebih baik bicara dulu, Ayah bisa jelaskan," Pak Rahardian mencoba meraih tangan Vania, namun dengan tanggap wanita itu menghempaskan nya.
" Separah ini, kalian tidak memberitahu kan kepadaku, apa aku tidak di anggap sebagai keluarga," Ucap Vania meneteskan air matanya.
Pak Rahardian memejamkan matanya, ia tak ingin kedatangan anak keduanya itu membuat masalah menjadi tambah runyam, ia terus membujuk Vania agar mau keluar dari ruangan itu dan berbicara pelan-pelan padanya.
" Aku tahu, Ayah tidak memberi restu pada kami, tapi apakah dengan cara seperti ini Ayah ingin memisahkan kami," Ucap Vania yang menyinggung secara blak-blakan.
__ADS_1
Helena dan Brian yang mendengar ucapan Vania langsung mengkerut kan kening nya masing-masing.
" Ayah kami sudah mengikrarkan janji suci untuk saling setia menemani di kala sehat maupun sakit, jadi tolong jangan lakukan hal semacam ini lagi," Ucap Vania yang terus meneteskan air matanya.
Helena yang semakin tidak nyaman dengan ucapan Vania barusan langsung ikutan angkat bicara.
" Maksud kamu janji suci itu apa..? Jangan bilang kalian," Ucap Helena yang tak ingin mempercayai nya. Vania dengan tersenyum sengit langsung mengangguk.
Dua orang yang belum tahu tentang hubungan pernikahan Vania dan Randy begitu syok dengan anggukan Vania yang berarti janji suci pernikahan.
" Tidak mungkin, kalian kakak adik kenapa bisa seperti itu," Ucap Helena yang gemetaran tak bisa mempercayai nya.
Bu Sandra yang dari tadi hanya menjadi penonton namun ikutan panik akhirnya juga ikut buka suara agar masalah secepatnya diluruskan.
" Mereka bukanlah saudara kandung, tidak memiliki ikatan darah sama sekali, menikah pun tidak dilarang," Bu Sandra berkata dengan tenang sambil menatap ke arah suaminya yang sudah sangat kalut.
" Maafkan Tante ya nak Helena, Randy dan Vania sudah menikah secara siri," Ucap Bu Sandra menghampiri dua wanita yang jaraknya tidak berjauhan.
Helena yang mendengar langsung pengakuan Bu Sandra tidak terima, hatinya begitu sakit bahkan sangat panas terbakar luka yang membara, sebelum Bu Sandra menghampiri nya ia lalu pergi meninggalkan ruangan penuh ketegangan itu.
Vania yang seolah lega telah mengungkapkan nya lantas menatap Brian yang masih mematung di sudut pintu masuk, ia juga sama hal nya dengan Helena begitu syok, namun ia mencoba untuk menenangkan dirinya agar tetap tenang.
Vania yang merasa tidak enak hati dengan Brian lantas menghampiri nya.
" Maafkan aku Brian, yang tak pernah bisa membalas cinta mu, tapi aku selalu menganggap mu sebagian teman terbaik ku, teman setia ku," Ucap Vania mencoba meminta maaf pada pria yang mengantarkan nya sampai kesini.
Meskipun hatinya seolah di sayat oleh pisau yang tajam namun ia tetap mencoba tersenyum di hadapan Vania.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan nya, second lead memang selalu tersakiti 😥