Gairah Ranjang Kakakku

Gairah Ranjang Kakakku
Aku harus bagaimana


__ADS_3

Pak Rahardian jatuh bersimpuh tepat di lorong rumah sakit yang membuat Bu Sandra berlarian untuk segera menolong suaminya. Dokter John yang mendengar pekikan istri kenalan nya langsung tanggap dan keluar untuk menolong nya.


" Tenang saja Bu Sandra, beliau hanya kelelahan saja, tidak ada hal gejala serius," Ucap dokter John menenangkan Bu Sandra yang nampak sangat khawatir.


Helena akhirnya yang menjaga Randy seharian karena Bu Sandra menjaga pak Rahardian yang juga di rawat di ruangan umum.


" Lhoh anda tunangan Randy ya," Ucap seseorang yang kebetulan berpapasan dengan Helena saat wanita itu keluar sejenak dari ruangan ICU.


Seketika mata Helena terbelalak menatap Pria yang terus ia hindari, dengan sigap Helena hanya menjawab pertanyaan Brian dengan mengangguk dan berusaha menghindar.


" Tunggu sebentar kak, Helena benar bukan," Ucap Brian mengingat-ingat nama nya.


Namun Helena ingin segera terus menghindar, namun sayangnya kecepatan nya tak sepadan dengan Brian yang begitu gesit. Tangan nya berhasil di genggam oleh Brian yang masih ingin mengajak nya bicara.


" Kak Helena boleh kah kita berbicara sebentar," Ucap Brian yang langsung skakmat Helena.


Wanita itu kini tak bisa menghindar lagi, ia mengangguk terlihat sekali wajah lesu nya mengikuti Brian yang mengajaknya duduk di depan ruangan Randy di rawat.


Mereka tak langsung bicara, beberapa kali terdiam dulu baru di menit kedua Brian mulai buka suara.


" Maaf kak Helena, sebenarnya aku hanya ingin bertanya, ah.. maksudku tentang pertemuan kita di pantai dan di Bandara saat itu," Ucap Brian yang menghentikan ucapannya karena melihat wajah Helena yang seketika pucat pasi.


" Kau tidak apa-apa kak Helena, apa aku mengganggu mu," Ucap Brian yang nampak panik melihat wajah Helena begitu berkeringat.


" Tidak.. tidak apa-apa," Jawab Helena yang berkata sedikit terbata.


Namun sayangnya perbincangan mereka terpotong saat sepasang suami istri bermarga Widjaya datang menemui mereka.


" Lho, Om Rahardian kok sudah jalan-jalan," Ucap Helena mengalihkan pembicaraan ke arah pak Rahardian dan Bu Sandra yang baru datang.


" Iya nih Helena, Ayah Randy susah banget di bilangin untuk istirahat dulu, katanya sudah sembuh terus," Gerutu Bu Sandra yang menatap wajah suaminya sedikit kesal.

__ADS_1


" Tidak apa-apa Ma, Ayah sudah sehat kok, masa jaga anak yang sedang sakit, Ayah ikut-ikutan sakit," Ucap pak Rahardian yang ikut menimbrung duduk menjadi orang ketiga untuk Brian dan Helena.


" Eh ada nak Brian, sudah selesai kemo nya..?," Tanya Bu Sandra yang sukses membuat perbincangan mereka teralihkan.


Brian lantas mengangguk dan sekedar mampir sejenak untuk menengok Randy yang masih terbaring di ruang ICU.


" Brian duluan ya Tante, Om dan kak Helena," Ucap Brian berpamitan setelah beberapa menit berbincang.


Helena yang tadi begitu pucat pasi akhirnya bernafas lega kembali, untungnya ada yang menolongnya di saat yang begitu genting, jujur saja ia belum siap untuk berhadapan dengan Brian apalagi sampai ingatan nya kembali dan membuat orang-orang sampai tahu rahasia kelam nya.


Brian berjalan ke arah koridor, menyusuri nya hingga pintu keluar, ia masuk ke dalam mobil nya setelah supir nya membuka kan pintu.


Dalam perjalanan nya ia mengingat perkataan pak Rahardian tentang Vania. Anak kedua nya itu tak di beri tahu tentang kondisi kakaknya, hal itu membuat otak nya berfikir tentang hal yang janggal.


" Apa iya sih Vania tidak tahu," Gumam Brian berbicara sendiri.


Hari ini adalah tepat seminggu ia di negara Italia, sore ini pun ia berencana untuk pulang ke Indonesia, niatnya ia ingin sekali menemui Vania karena sudah beberapa hari tak bertemu dengannya, bahkan terakhir di kampus pun ia tak sempat menemuinya karena Vania begitu terburu-buru saat itu.


Hingga suara dari maskapai Indonesia terdengar pagi harinya saat ia sudah landing di negara nya. Ia langsung menyuruh sopir nya untuk melaju ke arah rumah Vania, entah kenapa ia tiba-tiba memiliki firasat tidak enak.


" Permisi bi, apakah Vania sudah berangkat ke Kampus..?," Tanya Randy kepada Art setia keluarga Widjaya.


" Eh Den Brian ya," Ucap Bi Anum bertanya kepada seseorang yang menyapa nya pagi-pagi sekali.


" Non Vania masih di rumah, belum pergi Den, tapi sepertinya non Vania tidak enak badan," Ucap bi Anum berkata sedikit khawatir mencemaskan kondisi anak majikannya.


Tanpa berfikir panjang Brian langsung masuk ke dalam rumah dan naik kelantai atas mengetuk pintu kamar Vania.


Tok...Tok...Tok!!!


" Van, buka pintu kamarnya, ini Brian," Ucap Brian begitu lantang mengetok pintu kamarnya.

__ADS_1


Setelah beberapa kali mengetuk barulah Vania keluar, wajahnya begitu berantakan, rambutnya acak-acakan namun masih saja begitu cantik, ia bahkan keluar masih mengenakan piama tidurnya, orang yang melihatnya hanya akan iba melihat wajah cantik itu begitu berantakan.


" Vania, kamu tidak apa-apa," Ucap Brian yang terkejut melihat mata sembab Vania yang begitu tebal.


Namun Wanita cantik itu hanya menggeleng, ia seolah tak ingin berbicara sedikit pun, bahkan terlihat beberapa tumpukan makanan yang sama sekali tak terjamah olehnya.


" Kamu kenapa..?," Ucap Brian lagi meyakinkan prasangka nya.


Namun Vania hanya tertunduk lesu, ia tiba-tiba memeluk tubuh Brian dan menangis begitu sendu.


" Aku sedih, saat ia membutuhkan ku aku tidak bisa di sisinya," Ucap Vania lirih.


Brian terus menerka perkataan Vania yang harus benar-benar ia dengarkan karena sedikit tidak jelas terdengar.


" Maksud kamu Randy," Ucap Brian menjawab perkataan Vania.


Vania langsung melepaskan pelukannya setelah nama Randy di sebut oleh nya.


" Kamu tahu keadaan kakakku," Ucap Vania yang nampak terkejut.


Brian hanya menghela nafas, mengingat perkataan pak Rahardian kemarin tentang Vania yang tidak tahu menahu keadaan Randy. Dengan sigap Brian mengangguk menatap mata sayu Vania yang begitu memprihatinkan.


" Kakak kamu dirawat di rumah sakit luar negeri, kemarin tidak sengaja aku berpapasan dengan kedua orang tua mu dan calon kakakmu di sana," Ucap Brian yang memberitahu Vania tanpa tahu kejadian yang sebenarnya.


" Di luar negeri, bersama Helena," Ucap Vania begitu syok mendengar perkataan Brian.


Seketika tubuhnya lunglai seolah tak bisa tegap berdiri, dengan tanggap Brian memegangnya agar bisa seimbang tak tersungkur ke lantai.


" Tega nya mereka terhadapku," Ucap Vania menangis lirih.


Bi Anum yang juga berdiri di samping Brian lantas ikut membantu Vania yang semakin tak bisa menjaga keseimbangan nya, karena memang ia tak makan selama 2 hari, akhirnya Vania pingsan.

__ADS_1


__ADS_2