
Suasana dalam ruang tamu begitu menegangkan. Kalimat yang dilontarkan pak Rahardian seketika membuat seisi ruangan ikut tegang.
" Vania dan Randy, Ayah ingin bertanya kepada kalian berdua, jawablah dengan sejujurnya," Ucap pak Rahardian yang membuat jantung kedua anak mereka semakin kencang.
" Apa kalian berdua memiliki hubungan khusus..?," Ucap pak Rahardian mengimbuhkan.
"Apa maksud ayah, ya kami memiliki hubungan layaknya kakak dan adik," Ucap Vania yang malah membuat kemarahan Ayahnya semakin memuncak karena malah bertele-tele.
" Jujur saja, apa lagi kamu Vania kamu sudah tahu sejak kapan bahwa Randy bukan anak kandung keluarga Widjaya alias Ayah dan mama mengadopsi nya," Ucap pak Rahardian begitu keras membuat siapapun disana seakan teriris hati mereka mendengar kalimat Adopsi.
" Ayah kenapa berkata sangat kasar seperti itu, dia juga anak ayah meskipun bukan lahir dari rahim mama," Ucap Vania yang berteriak membuat kesabaran pak Rahardian tak terbendung.
PLAKKK!!!!!
Pak Rahardian menampar wajah Vania hingga tersungkur di lantai. Randy langsung membantu Vania berdiri, ia tak kuasa menahan perasaan di dadanya yang begitu bergejolak.
" Vania tahu saat kita berbicara bersama di ruang tamu sebulan yang lalu, sejak saat itu kami mulai hubungan bersama hingga ke jenjang yang serius yaitu menikah," Ucap Randy yang masih membantu Vania berdiri dan memeluknya. Pak Rahardian semakin menjadi-jadi amarahnya, ia gantian menampar wajah anak laki-laki nya dengan tamparan yang begitu keras hingga mengeluarkan sedikit darah di bibirnya.
PLAKKK!!!!!
Orang tuanya itu gantian menampar wajah Randy, bahkan melepaskan ikat pinggang nya dan menyuruh Randy menunduk ke bawah menghadap lantai. Pria itu dengan gentleman menuruti perkataan Ayahnya.
Pak Rahardian lantas menyambuk nya berkali-kali dengan ikat pinggang nya, tak puas hanya dengan ikat pinggang ia meraih kayu untuk memukuli punggung anak laki-laki nya dengan kemarahan yang begitu luar biasa.
Baik bu Sandra dan bi Anum yang menyaksikan kebengisan kepala rumah tangga itu lantas menutup mulut dan begitu syok. Vania dan bu Sandra terus menahan Ayahnya agar segera menghentikan cambukan nya yang begitu pilu membuat Randy mengeluarkan suara kesakitan nya.
__ADS_1
" Sudah Yah, kasian kak Randy, Ayah tidak sayang lagi dengan nya," Vania terus melerai Ayahnya yang begitu beringas.
Sedangkan Randy hanya diam merasakan kesakitan cambukan Ayahnya berulang-ulang padanya. setelah puas melampiaskan kemarahan nya, pak Rahardian membuang kayu yang ia pegang dan segera meninggalkan anak-anak nya masuk ke dalam ruang kerjanya.
Seketika semua yang menjadi saksi dalam ruangan itu mencoba membantu Randy untuk berdiri, terlihat sekali Randy meringis menahan rasa sakit di punggungnya.
" Astaga Sayang, maafkan Ayahmu ya Randy, mama tidak bisa membantu kamu tadi," Ucap bu Sandra dengan berlinang air mata melihat kondisi anak laki-laki nya yang terlihat payah.
Randy hanya tersenyum menatap mata bu Sandra, ia bahkan mengucapkan kalimat dengan nada yang terkesan bahagia.
" Randy lega sudah memberi tahu yang sebenarnya kepada Ayah, ternyata tidak semenakutkan yang Randy kira," Ucapnya dengan tersenyum mencoba berdiri namun jatuh tersungkur lagi.
Bi Anum dengan tanggap mengambilkan air es untuk mengompres punggung Randy yang terkena cambukan tadi. Setelah ia membuka baju nya, terlihat dengan jelas luka-luka cambukan yang lebam begitu memerah bahkan ada yang berdarah.
Ketiga wanita yang melihat luka menganga itu langsung ngilu dan membantu mengobati nya.
Vania menatap wajah Randy yang menahan rasa sakit, ia pun sama begitu bahagia karena sudah jujur kepada ayahnya dan tidak menutupi lagi hubungan mereka.
" Apapun yang terjadi, kakak maksudku suami mu ini akan terus bersama kamu," Ucap Randy yang masih menahan rasa sakit Mencoba menenangkan Vania dan mencium kening Vania.
Bi Anum yang dari tadi menjadi saksi kemesraan cinta mereka seakan masih tidak percaya jika mereka telah menikah.
" Bibi masih tidak percaya Den Randy sama non Vania sudah menikah, tapi kalian kan memang bukan saudara kandung sih jadi sah-sah saja," Ucap bi Anum yang ikut memberi restu.
Sedangkan pak Rahardian masih termenung di meja kerjanya dengan mata tajam menatap fokus ke luar jendela kamarnya. Bu Sandra yang menyusul nya lantas Mencoba berbicara baik-baik dengan suami nya, ia mengambilkan perban dan kain kasa untuk membalut luka memar di tangan nya yang begitu brutal tadi memegang kayu, dengan tutur lembut bu Sandra memberanikan diri untuk berbicara dengan suaminya.
__ADS_1
" Ayah, berilah restu kepada mereka, Randy dan Vania saling mencintai, mereka bukanlah saudara kandung jadi sah-sah saja jika mereka menikah," Ucap bu Sandra dengan tutur bahasa lembut dan berhati-hati.
" Sejak kapan kamu tahu hubungan mereka, apa saat kamu melarangku menyelidiki mereka kamu sudah mengetahuinya..?," Ucap pak Rahardian yang memojokkan istrinya dengan kalimat pertanyaan yang di lontarkan nya.
Bu Sandra hanya menunduk sambil menghela nafas, ia pun mengangguk tanpa berani menatap wajah suaminya. Pak Rahardian langsung memejamkan matanya dan memijit keningnya yang dirasa begitu pening, ia juga menghela nafas begitu dalam.
" Kenapa kamu tidak bilang padaku saat itu," Pak Rahardian semakin memojokkan bu Sandra.
" Karena waktu itu bukanlah waktu yang tepat untuk menyampaikan padamu," imbuh bu Sandra angkat suara.
Pak Rahardian memejamkan matanya lagi mendengar jawaban istrinya barusan.
" sekarang pun bukan waktu yang tepat, karena Randy sudah bertunangan dengan Helena anak dari keluarga Candradinata, apa yang harus kita jelaskan kepada mereka," Pak Rahardian semakin bingung dibuatnya.
" Pertunangan masih bisa di batalkan, tapi kalau pernikahan sudah sakral untuk dibatalkan," Ucap bu Sandra kepada suaminya yang semakin pusing.
Pak Rahardian hanya menatap mata istrinya, kepala nya terasa sangat pusing memikirkan tentang anak mereka. Sedangkan kedua anak mereka sudah terang-terangan dan berani untuk menghabiskan malam bersama di kamar Randy.
Vania mengantarkan Randy di kamarnya karena kondisi punggungnya yang masih mengkhawatirkan, ia juga memberikan obat penghilang rasa sakit kepada Randy.
" Temani aku Van, aku begitu merindukan kamu," Ucap Randy yang sangat bahagia bisa bersama istrinya malam ini tanpa takut ketahuan orang tua mereka lagi.
" Kakak janji akan menikahimu secara resmi di mata negara," Ucap Randy mencium bibir Vania yang begitu hangat.
Ciuman itu lantas di sambut hangat oleh Vania. Berhubung punggung Randy masih sakit, gaya apa nih yang cocok untuk menghabiskan malam bersama malam ini, Vania dengan inisiatif mendominasi badan Randy dan menciuminya dengan penuh cinta.
__ADS_1
Terimakasih banyak atas dukungan nya ya readers tercinta, masih banyak banget nih typo yang belum ke koreksi, nanti bakal othor perbaiki secepatnya.
Salam hangat ❤️