Gairah Ranjang Kakakku

Gairah Ranjang Kakakku
Rindu yang tak tertahankan


__ADS_3

...Perhatian...


Ini hanyalah Novel semata, semua tokoh, karakter dalam cerita hanya fiksi belaka, apalagi kesamaan nama tokoh dan latar cerita itu tidak di sengaja, happy Reading 🙂


Suasana menjadi hening dan begitu mencekam bagi Helena atas pertanyaan Brian yang kali ini memberikan Skakmat untuknya. Serta begitu bertubi-tubi padanya, seolah ia tak diberikan kesempatan untuk menarik nafas begitu dalam.


" Tapi kenapa kak Helena selalu menghindari ku, apa jangan-jangan kakak punya rahasia yang disembunyikan," Ucap Brian berjalan mendekat ke arah Helena lagi yang kali ini benar-benar membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


Helena menatap Brian penuh kecemasan, ia menggigit bibirnya ketakutan. Brian masih melongo melihat Helena yang masih terpaku tak bergeming atas pertanyaan nya barusan.


" Kak, kenapa diam," Brian menatap wajah Helena yang berkeringat dingin.


Pria bermata sipit namun memiliki lipatan mata itu malah semakin kebingungan, bukanya mendapatkan jawaban ia malah di ajak untuk berfikir lagi. Ia juga merasa bersalah karena membuat Helena seakan ketakutan padanya.


" Baiklah kak, kalau tidak mau menjawabnya, kita bisa bicara kan lain kali saja," Ucap Brian lantas pergi menuju pintu keluar.


Namun sebelum ia benar-benar keluar, terdengar suara yang keluar dari mulut Helena. Sebuah jawaban terlontar begitu Alami mendukung bakat aktingnya dengan suasana sedih.


" Kita pernah bertemu di Paris," Ucap Helena spontan, wanita itu berkata sambil gemetaran.


" Apa di Paris," Brian membalikkan badannya seolah mengingat-ingat tentang dirinya di Paris.


Ia lalu mendekati Helena lagi, namun tetap saja ia tak mengingat tentang Paris yang berhubungan dengan wanita di depannya. Namun lagi-lagi, Semakin di fikirkan ingatan itu gagal menampakkan ingatan nya.


" Maaf tapi aku tidak ingat, aku memang di Paris beberapa kali saja, terakhir kecelakaan yang membuat hampir separuh ingatan ku hilang," Ucap Brian ingin menjelaskannya pada Helena.


Helena yang semula ketakutan dan gemetaran langsung berubah menjadi tenang.


" Tidak apa-apa jika kau tidak ingat, sebenarnya aku takut untuk menemui karena Mobil taxi yang bertabrakan dengan mu adalah mobil taxi yang aku tumpangi, meskipun itu murni karena kecelakaan namun aku merasa bersalah dan tidak enak untuk menemui mu," Ucap Helena mencoba bakat aktingnya lagi.


Meskipun hal yang ia ceritakan benar namun seolah ia bisa membuat cerita menjadi berbeda.


Brian lalu menarik nafas begitu dalam dan menghempaskan nya, ia mengangguk dan mengerti kenapa selama ini Helena menghindarinya padahal sebenarnya ada rahasia lain yang ia sembunyikan.

__ADS_1


" Ternyata penumpang mobil Taxi itu kamu, tapi apakah kamu tidak apa-apa saat itu, apa mengalami cedera juga," Brian seketika mengkhawatirkan nya.


Namun Helena langsung menggelengkan kepalanya.


" Aku tidak apa-apa, hanya luka ringan saja," Ucap Helena yang sekarang mulai bisa tenang dan tersenyum tipis.


Lawan bicaranya di depan nya lantas bernafas lega, ia juga mengerti bahwa kejadian saat itu adalah murni kecelakaan karena Medan di jalanan yang begitu licin karena cuaca buruk.


" Lupakanlah kenangan pahit itu kak Helena, kita buka lembaran baru, tidak ada yang perlu minta maaf dan memaafkan," Brian memegang kedua pundak Helena yang gampang sekali ia raih, Ia mencoba menenangkan Helena.


Namun sebelum Brian mencoba untuk meninggalkan Apartemen nya, Helena menahan salah satu tangannya.


" Tunggu sebentar Brian, aku ingin bicara mengenai Randy dan Vania," Ucap Helena menatap mata Brian tajam.


Brian yang mengkerut kan keningnya lantas berbalik lagi untuk ketiga kalinya. Selain berbakat berakting, Helena juga pintar menghasut orang lain.


" Apakah kamu rela kehilangan Vania," Ucap Helena memulai menghasut dengan langsung menyerang hati Brian.


" Apa rencana mu," Ucapan Brian membuat Senyuman Helena semakin mengembang.


***


Sementara di dalam mobil yang terdapat beberapa Bodyguard, Randy dan Vania saling menyenderkan kepala mereka.


" Kak, aku sangat rindu, Bagaimana keadaan kakak yang sebenarnya," Vania masih mengelus tangan Randy yang ada dalam genggamannya.


Randy hanya tersenyum, menatap arah ke jalanan yang begitu rimbun akan Pepohonan yang begitu hijau menyejukkan matanya.


" Kabar kakak baik, Apalagi bisa bertemu kamu Lagi Vania," Ucap Randy mencium rambut Vania yang masih melekat di otaknya aroma wanginya.


Vania lantas tersenyum, ia juga begitu bahagia bersama-sama lagi dengan suaminya tanpa ada gangguan dari Ayahnya dan Helena.


Randy masih nampak menatap pepohonan yang terus ia lewati sepanjang perjalanan, hampir seminggu ia dirumah sakit dan di sambung di Apartemen membuatnya begitu jenuh.

__ADS_1


Ia menorehkan senyuman, meskipun hal lain apa yang akan ia lewati setelah ini.


" Kita hadapi bersama kak, jangan pernah tinggalkan aku," Vania semakin mendekap erat tubuh Randy.


Body guard yang disewa Brian seolah hanya menjadi obat nyamuk di dalam mobil itu.


Brian sudah mempersiapkan tempat tinggal sementara untuk mereka menginap, dan para Bodyguard itu masih ia sewa untuk menemani dan menjaga mereka.


" Silahkan Nona, Tuan," Ucap salah seorang body guard membuka kan pintu untuk mereka berdua setelah mobil telah berhenti.


Nampak sebuah Villa yang begitu asri yang sengaja di sewa oleh Brian untuk mereka. Vania dan Randy pun turun, Vania seolah tidak sabar untuk merebahkan badannya karena merasakan badannya yang terlalu lelah dan ingin segera beristirahat. Randy yang masih memakai bantuan tongkat di bantu Vania memapahnya.


" Kak, lebih baik kakak istirahat dulu," Ucap Vania lantas beranjak menuju pintu.


Namun Randy malah menarik tangan nya hingga Vania jatuh tepat menindih badannya.


" Ya ampun kak, apakah sakit," Ucap Vania khawatir yang langsung ingin beranjak dari badan Randy.


Namun suami nya itu malah terus menahan nya dan malah mencium bibir Vania yang begitu merekah.


" Sayang, aku juga sangat rindu padamu," Ucap Randy berbisik pelan di telinga Vania penuh hasrat.


Wanita itu juga sama hal nya dengan nya, meskipun badannya saat ini begitu lelah, namun mendengar suara Randy yang begitu s*xy membuat rasa lelah itu seolah sirna berganti dengan hasrat yang menggebu-gebu.


Vania tersenyum mengangguk menerima pertempuran mereka yang telah lama liburan panjang. Udara di luar ruangan yang begitu dingin berganti menjadi suasana hangat dan semakin panas membara. Seolah gairah ranjang mereka tak mengenal waktu dan keadaan.


🍒🍒🍒


Turun salju tapi hangat jika bersama orang yang dicintai, tapi sayangnya othor masih jomblo, cuma bisa berhalu seperti mereka 😭


Othor masih berusaha menulis, tolong beri semangat, terimakasih banyak untuk para Readers yang masih setia membaca cerita othor yang lambat.


sehat selalu dimanapun kalian berada.

__ADS_1


__ADS_2