Gairah Ranjang Kakakku

Gairah Ranjang Kakakku
Ikatan Darah


__ADS_3

...Perhatian...


Ini hanyalah Novel semata, semua tokoh, karakter dalam cerita hanya fiksi belaka, apalagi kesamaan nama tokoh dan latar cerita itu tidak di sengaja, happy Reading 🙂


Bandara yang begitu padat terasa sesak, apalagi untuk mencari orang dalam kerumunan itu. Saat keduanya hendak terbang menuju pesawat yang di pesan, sebelah tangan Randy di tahan oleh seseorang.


" Randy tunggu sebentar aku ingin bicara," Ucap seorang wanita memakai sweater tebal berwarna coklat gelap.


Vania yang mengenal betul siapa wanita itu lantas menepis tangan nya.


" Helena, sudah aku bilang berkali-kali, kak Randy sekarang suamiku, kenapa kamu begitu keras kepala sekali," Ucap Vania bernada tinggi.


Helena hanya tersenyum mencoba membuat Vania kesal.


" Aku hanya ingin berbicara dengan tunangan ku, bukan berbicara dengan mu," Ucap Helena yang membuat kesabaran Vania di uji.


Namun sebelum Vania bersuara lagi, Helena sudah menyaut duluan.


" Randy, Aku tahu keberadaan Ayah kandung mu, beliau sekarang sedang terbaring di rumah sakit menunggu kedatangan mu," Ucap Helena meraih tangan Randy lagi.


Vania malah tertawa, mendengar ucapan Helena barusan yang ia anggap sebagai bualan.


" Kak Randy percaya dengan nya..?," Ucap Vania meyakinkan Randy.


" Terserah kamu Randy mau percaya dengan ku atau tidak, tapi yang pasti Ayahmu lah yang mendonorkan sum-sum tulang belakangnya padamu, aku rasa Ayah angkat mu juga mengetahuinya," Ucapan Helena langsung membuat Randy berpikir dua kali.


Ia teringat dengan wasiat dari mendiang ibu kandungnya bahwa Ayahnya masih hidup, ibunya juga berpesan agar bisa menemui Ayahnya dan memberikan surat yang ia tinggalkan juga untuk suaminya.


Vania terus menggeret tangan Randy untuk segera meninggalkan Helena yang mencoba memprovokasi nya.


" Kak, Ayo pesawat kita sebentar lagi terbang," Vania terus mengajak Randy untuk segera beranjak.

__ADS_1


Namun Pria itu malah mematung memikirkan sesuatu, hingga geretan tangan Vania di tepis olehnya. Begitu kuat hingga Vania hampir terjatuh. Vania tercengang mendapati tingkah suaminya yang tiba-tiba melepaskan tangan nya dengan kasar.


Brian yang sudah berdiri di belakangnya langsung menangkap tubuh Vania yang hendak terjatuh.


Randy menundukkan kepalanya, wajahnya yang tadi ceria bisa segera berkumpul dengan keluarga nya lagi seketika murung saat Helena datang yang memang benar memprovokasinya.


" Maafkan aku Vania, kakak tidak bisa ikut dengan mu pulang ke Indonesia sekarang, ada hal yang harus kakak selesaikan," Ucap Randy dengan berat hati meninggalkan Vania di bandara. Helena nampak tersenyum puas berjalan mengekor pada Randy.


Vania tersungkur, kaki nya terasa lemas untuk berdiri, Brian dengan sigap meraih tangan Vania dan memapah nya ke arah kursi tunggu di sisi bandara. Randy mengikuti ucapan Helena, mencoba mempercayai nya.


Mereka lalu melaju meninggalkan Bandara menuju rumah sakit tempat Ia pernah dirawat.


" Apakah aku bisa mempercayai mu Helena," Ucap Randy bertanya tanpa menoleh ke arah Helena.


Helena mengatakan iya dan terus meyakinkan nya agar mempercayai nya.


Mereka akhirnya tiba di rumah sakit swasta terkemuka itu, dengan sigap Helena membawa nya menemui Asisten Mr.Craight yang masih menunggu di ruang koridor.


" Aku membawa Tunangan ku, ia bernama Randy Widjaya yang kala itu menerima operasi sum-sum tulang belakang di rumah sakit Italia," Ucap Helena kepada Asisten yang terlihat sudah beruban.


Pria tua itu terlihat memperihatinkan, terbaring lemah di atas kasur rumah sakit dengan bantuan alat medis begitu banyak.


Dengan pelan Randy berjalan menemui Pria tua yang diyakini sebagai orang tua kandungnya.


Asisten setia Mr.Craight juga mendekati tuan nya yang terbaring dengan bantuan alat medis begitu banyak.


" Tuan, Ada seseorang yang ingin bertemu anda, saya rasa ia adalah orang yang sedang anda cari-cari," Ucap Asisten nya sembari memberi kode isyarat kepada Randy untuk lebih mendekat ke arah ranjang.


Meskipun Mr.Craight sudah terbaring lemah namun ia masih bisa berinteraksi dengan orang yang mengunjungi nya.


Matanya yang sudah rabun menatap wajah Randy, mata coklat terang yang indah seperti mata seseorang yang sangat ia kenal dan rindukan.

__ADS_1


" Azhalea, semoga kamu melihatnya, Putra kita telah tumbuh menjadi Pria yang tampan dan Mandiri," Ucap Mr.Craight berbicara sedikit susah dengan Aksen Belanda nya yang begitu kental.


Suasana sendu dalam ruangan itu menjadi saksi bisu tentang bertemunya seorang Ayah dan anak yang telah terpisah begitu lamanya.


Randy seketika mengeluarkan air matanya tak kala nama ibu kandungnya disebut barusan.


" Maafkan Ayah Nak, Ayah terpaksa pergi meninggalkan ibumu disaat ia sedang mengandung mu, bahkan hidupmu begitu berat tanpa adanya orang tua kandung di samping mu," Ucap Mr.Craight dengan masih memakai Aksen Belanda yang begitu kental.


Randy terus mengangguk kan kepalanya, ia adalah Pria bijaksana yang tak memandang suatu perkara dari satu sudut pandang saja.


" Semua sudah menjadi takdir, bahwa ibu harus pergi begitu cepat," Ucapan anak kandungnya membuat Mr.Craight semakin sendu mengingat istrinya yang ia tinggalkan dulu.


" Ayah bahagia bisa menemukan kan mu meskipun umur Ayah tidak akan lama lagi, setidaknya sebelum dipanggil yang maha kuasa, Ayah bisa menemukan putra yang sangat Aku rindukan," Ucap Mr.Craight mengeluarkan air mata bahagia.


" Iya Ayah," Ucap Randy yang membuat Mr.Craight terkejut, betapa tangis bahagia beneran keluar dari matanya yang nampak sudah sayu.


Bahkan Pria tua itu meminta sebuah pelukan dari Putranya, dan dengan senang hati Randy memeluk Ayah kandungnya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


Dua orang yang menjadi saksi haru itu terdiam ikut merasakan suasana hangat pertemuan yang melodramatis, baik Helena maupun Asisten setia Mr.Craight.


Keduanya di ijinkan berbincang lebih dekat layaknya sepasang anak dan Ayah. Helena dan Asisten Pribadi itu lalu keluar dari ruangan ICU itu.


Wanita itu langsung menelepon Brian yang saat itu masih di bandara menemani Vania.


" Apakah kau masih disana.. Ya, aku membawa nya kesini.. Tolong tahan Vania sampai aku bisa mengambil lagi hati Randy," Ucap Helena berbincang lewat telepon dengan Brian lalu mematikan nya.


Sedangkan di Bandara, Vania masih duduk terpaku di kursi tunggu.


" Van, lebih baik kita pulang dulu ke Indonesia, aku yakin Randy pasti akan menyusul pulang ke Indonesia," Ucap Brian memberikan saran sambil menepuk pundak Vania pelan.


Akhirnya, Randy ketemu sama Ayah kandungnya.

__ADS_1


Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya, terus pantengin ya Guys..


Terimakasih banyak atas dukungannya, berusaha update setiap hari ♥️


__ADS_2