
Vania menjulangkan senyuman nya memandang teman satu angkatan nya bernama Brian Mahendra Lesmana.
" Kenapa sih, senyuman kamu seram banget Van, firasatku jadi nggak enak nih," Ucap Brian yang membuat dirinya melepaskan helm nya memegangi bulu di lehernya karena merinding.
Meskipun terkesan berandalan namun Brian adalah pria baik yang selalu ada jika Vania membutuhkan nya.
" Jauh banget ke Anyer Van, nggak ada yang lebih jauh Lagi," Ucap Brian yang langsung kaget mendengar pantai Anyer disebut oleh Vania.
" Kalau nggak mau ya sudah," Ucap Vania yang mulai melangkah lagi, namun sebelum wanita cantik itu melangkah lagi Brian menahan tangan nya dan menyetujui nya.
Sudah menjadi rahasia umum jika Brian menaruh perasaan terhadap Vania, jangankan pantai Anyer ke ujung dunia pun ia akan antarkan untuk wanita pujaan hatinya. Setelah menyetujui nya Vania naik ke atas motor itu, mereka pergi meninggalkan kampus dan membolos diam-diam.
Kala itu hari sudah siang, Brian kembali ke rumahnya yang jaraknya tak jauh dari kampus.
" Lho kok belok," Ucap Vania protes.
" Pantai panas Van, harus pakai sunblock kalau nggak kulit ku yang bening ini bisa terbakar," Ucap Brian sambil terkekeh.
Vania dengan mata yang terkesan julid langsung mengikuti Brian masuk ke dalam kawasan perkomplekan.
" Wah, besar banget rumah majikan kamu Brian," Ucap Vania nyeleneh.
" Besar emang, makanya bisa gaji aku puluhan juta," Timpal Brian cengegesan tak terpengaruh.
Vania langsung memanyunkan bibir khas nya pertanda kesal karena kalah berbicara.
Pria dengan tinggi menjulang 183cm itu sedang mengambil tas ransel nya dan mengisi beberapa baju.
" Buat apa bawa baju," Vania mengkerutkan alisnya.
" Jaga-jaga, siapa tahu kita main air disana kan basah," Brian berkelit.
Vania hanya menggelengkan kepalanya dan menghela nafas.
__ADS_1
Mereka akhirnya berangkat, keduanya mulai berkendara menaiki motor sport yang dikendarai Brian, serta atribut yang safety untuk berkendara, jarak yang ditempuh lumayan jauh kurang lebihnya memakan waktu hampir 3 jam.
Tepat di pesisir pantai Anyer Brian dan Vania sampai, mereka memilih untuk duduk sejenak di Cafe yang begitu teduh dengan es kelapa yang menyambut.
" Sering-sering aja ya Van kita kesini," Ucap Brian yang begitu kehausan menenggak es kelapa.
Namun wanita cantik itu sama sekali tidak menyahut, ia sibuk berkutat dengan telepon genggam nya.
Tiba-tiba Brian terfikir kan sesuatu.
" Jangan bilang kami nyusul kakak kamu kesini Vania," Ucap Brian dengan mata yang membulat.
Wanita cantik itu sama sekali tak bergeming ia masih saja sibuk dengan ponselnya, sibuk menghubungi seseorang.
Namun tanpa bicara pun Pria yang masih memegang es kelapa muda itu mengerti, ia lantas menggelengkan kepalanya, pasalnya hubungan nya dengan Randy kurang baik sejak kejadian di toko Sport tempo lalu.
" Van, kakak kamu sudah besar, kenapa sih harus kamu susul juga," Brian memprotes Vania.
" Kalau kamu keberatan, pulang saja sana," Vania malah mengusir Brian.
Wanita cantik itu menghela nafas karena tingkah konyol Brian, tak berselang lama Randy mengirimi nya pesan singkat, kalau dirinya tak bisa pulang karena Helena ingin menginap di Villa. Vania yang membaca pesan itu langsung membulatkan matanya kesal.
" Brian ayo kita ke Villa di pesisir pantai ini," Geret Vania spontan yang membuat Brian tersedak karena belum selesai meminum es kelapa nya.
Benar saja, di dekat pesisir pantai itu terdapat Villa yang begitu elegan, serta dua orang yang di cari-cari Vania, mereka nampak duduk menikmati sunset di pesisir pantai.
Pemandangan itu membuat nya terbakar api cemburu, meskipun Randy sebenarnya tidak ingin pergi honeymoon dengan Helena tapi tetap saja suasana itu seakan adalah aksi perselingkuhan yang di benarkan keluarga mereka.
Sebelum Vania benar-benar melabrak mereka, Brian menarik tangan wanita cantik itu.
" Vania, itu adalah hak kakak kamu, kenapa kamu mencampuri urusan mereka, lebih baik kita disini saja memantau dari jauh," Ucap Brian yang memesan kan Vania es kelapa, sebelum ia berbicara lagi Brian membungkam nya dengan es kelapa muda yang begitu segar di padu dengan pemandangan Sunset di pesisir pantai.
Vania akhirnya patuh dengan duduk di kursi yang terdapat es kelapa muda yang begitu pas dengan suasana Sunset yang begitu terlihat jelas di pesisir pantai, wanita itu membuang nafas setiap memantau dari kejauhan kedua orang di depan mereka.
__ADS_1
Bahkan Randy & Helena memang terlihat seperti pasangan pada umumnya, Helena tidak perlu gentar memamerkan kemesraan nya di khalayak ramai, tidak seperti dirinya yang harus membatasi, hal itu membuat hatinya begitu sakit.
Matanya terpejam sejenak menatap Sunset yang hampir tenggelam, di sisinya masih ada Brian yang masih setia menemani nya.
" Terimakasih ya Van, suasana disini sangat damai membuat hatiku tenteram,"Ucap Brian yang membuyarkan pandangan fokus Vania.
" Memang nya kamu merasa tidak tenteram selama ini...?," Vania bertanya pada Brian dengan nada yang masih sedikit mendengus.
Pria di sampingnya itu tersenyum, masih menatap Sunset yang sudah tinggal setengah.
" Semua orang pasti memiliki masalah yang membuat hatinya tidak tenteram, baik dia kaya ataupun dia miskin," Ucap Brian yang tiba-tiba bernada serius.
Ucapan Brian barusan berhasil membuat Vania mengalihkan pandangannya, Ucapan itu benar adanya, setiap orang, termasuk dirinya, ia merasakan hati yang tidak tenteram karena dengan adanya Helena yang mengusik hubungan nya dengan Randy, Vania menatap cakrawala dengan hati nya yang begitu sakit karena ia harus rela bermadu bersama wanita lain yang bahkan diberi restu oleh orangtuanya sendiri.
" Sudah gelap Van, mau pulang atau menginap," Ucap Brian membangunkan lamunan Vania.
Wanita cantik itu tersadar dari Lamunan nya dan menatap kedua target nya, namun kursi yang mereka diami nampak terlihat kosong, sepertinya ia kehilangan jejak Randy & Helena.
" Kemana pergi nya Kakakku..?," Tanya Vania yang berdiri dengan panik.
Namun Brian malah menaikkan kedua bahu nya pertanda tidak tahu, Pria bertubuh jangkung itu malah berjalan memutar badan meninggalkan Vania.
" Lho, kamu mau kemana Brian...?," Vania berteriak kepada teman seangkatan nya itu yang sudah terlihat menjauh.
Vania yang takut kegelapan menatap pantai langsung berlari mengejar langkah Brian yang terlihat menuju ke arah Sebuah Villa.
" Villa Nusa Bhinneka"
Berslogan kan, Bersama dalam keberagaman & Melayani dengan sepenuh hati. Vania nampak melihat papan reklame di depan Villa yang terlihat elegan berhiaskan lampu neon putih terang.
Brian nampak melangkah ke dalam, apakah ia ingin mengajak Vania bermalam disana..?
Jangan berprasangka dulu ya teman Readers..🤫
__ADS_1
Terimakasih banyak atas dukungannya, semoga kita selalu diberi kesehatan dan limpahan rezeki 🤲