
Halo Readers, konten bermuatan dewasa, diharapkan bijak dalam membaca ya 🤫
Di pusat kota tepatnya di pertokoan, kedua orang itu seakan menjadi sorotan, bukan karena peristiwa baku hantam barusan namun karena Pria yang mengikuti Vania dari belakang, meskipun muka nya lebam dan berdarah, bahkan kemeja nya kusut dan kancing yang lepas di bagian atas namun membuat kesan sexy yang mempesona apalagi rambut yang biasanya tertata rapi menjadi acak-acakan membuat sensasi ketampanan nya meningkat.
Vania yang terheran atas sorotan orang-orang ke arahnya nampak kebingungan, ia lalu menoleh ke arah orang yang masih mengikuti nya dari belakang. Astaga, pantas saja banyak yang melihat ke arah ku, Batin Vania yang langsung menggandeng tangan kakaknya.
" Ayo kita pulang," Ucap Vania yang merasa masih kesal dengan insiden barusan.
Bukan nya pulang namun Randy malah membelokkan mobilnya di sebuah Apartemen di pinggiran kota.
" Kita kemana," Ucap Vania yang nampak asing dengan tempat itu.
" Apartement kakak," Ucap Randy singkat yang langsung melepaskan sabuk pengamannya dan segera membukakan pintu mobil Vania.
" Kakak beli Apartement," Ucap Vania yang nampak keheranan.
Pria itu hanya mengangguk lalu gantian menggandeng Vania menuju lift ke lantai 12. Apartement yang termasuk menengah keatas dengan fasilitas yang terbilang lengkap dan mewah.
Tidak ada yang tahu tentang Apartemen ini, atau bahkan hanya dirinya yang tidak tahu, batin Vania yang berprasangka.
Randy langsung membawakan minuman jus jeruk dari dalam kulkas dan menuangkan nya ke dalam gelas, ia tahu bahwa adiknya itu sangat suka dengan apapun yang berbau dengan jeruk.
Vania masih melihat-lihat sekeliling, ia lalu duduk di atas sofa rasfur yang begitu nyaman.
" Minum dulu jus jeruk nya Van, kamu pasti sangat suka," Ucap Randy yang terlihat baik-baik saja padahal masih ada noda darah di bibirnya.
Vania menghela nafas panjang, ia begitu iba melihat luka lebam di wajah kakaknya.
__ADS_1
Ia tahu betul, Kakaknya adalah tipikal orang yang tidak mau terlibat dalam perkelahian dan cenderung menghindari, dan tidak pernah membolos, namun kali ini untuk pertama kalinya ia membolos kerja.
" Kakak tidak masuk kerja..?," Tanya Vania yang melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 11 siang.
Pria itu tersenyum dan menggeleng kan kepala nya.
Vania menghela nafas lagi, ia beranjak mengambil Kompresan untuk luka lebam kakaknya dan mengobati nya dengan kotak P3K.
" Kenapa harus berkelahi, aku hanya diantar teman kampus ku membeli kado, Karena teman angkatan kami mengundang di acara ulang tahunnya," Ucap Vania yang masih mengobati bibir Randy dengan obat merah.
" Maafin kakak, kakak kalap, kakak tidak bisa terus diam-diaman seperti ini," Ucap Randy yang sedikit meringis karena merasa sedikit perih.
" Aku lagi ingin sendiri, lagian kan kak Randy sebentar lagi akan bertunangan, harusnya kamu urusin tuh Helena," Ucap Vania yang tiba-tiba teringat dengan kemesraan mereka berdua malam tadi, ia semakin menekan kasa di bibir Randy yang membuat sang kakak semakin meringis kesakitan.
" Ahh.. Vania... sakit," Randy mengaduh agar adiknya sedikit pelan mengobatinya.
" Vania, kakak minta maaf...," Belum selesai bicara Vania langsung memotong ucapan Randy.
" Maaf terus, maaf terus, kalau masih menyakiti hatiku untuk apa mengucapkan kata maaf," Vania meninggikan nada bicaranya.
Randy langsung memeluk Vania dengan erat, karena kata maaf seakan salah untuk di ucapkan.
" Vania... Kakak terpaksa menerima perjodohan itu karena perusahaan kita sedang membutuhkan suntikan dana yang besar, kakak tidak tega jika Ayah harus berpikir sendiri, sedangkan kakak juga berkerja di perusahaan," Ucap Randy dengan begitu lembut sambil mengelus rambut Vania dengan lembut.
" Tapi kenapa harus dengan perjodohan, kita bisa mencari jalan keluar yang lain," Ucap Vania melepaskan pelukan kakaknya.
Randy mengusap rambut halus gadis itu dengan sangat lembut.
__ADS_1
" Perusahaan sedang terdesak Van, kita harus mendapatkan investor dengan waktu cepat, tapi kakak berjanji kakak akan berusaha agar perusahaan kita bisa normal kembali," tutur kakaknya dengan nada yang sangat lembut.
" Kenapa kak Randy harus menjelaskan padaku, apa kak Randy bisa membalas perasaan ini," Vania menatap dalam mata Randy.
Pria itu sudah tidak bisa lagi menahan perasaan nya, ia melupakan segala janjinya kepada pak Rahardian tentang menjaga anak semata wayangnya itu.
Dengan segala hasrat yang sudah terpendam sekian lama akhirnya luluh juga, dengan arogan Randy tiba-tiba mencium bibir lembut Vania, ia benar-benar menyentuh bibir merekah itu dengan desiran hasrat yang begitu membara.
Vania begitu terkejut, cinta yang bertepuk sebelah tangan itu akhirnya terbalaskan, bunga yang sudah layu dan mengering itu tiba-tiba bermekaran lagi, begitu segar membasahi hatinya, dengan sepenuh hati Vania membalas ciuman hasrat itu, seketika ruangan itu menjadi saksi adegan romantis yang begitu panas, antara kedua insan yang masih berstatus kakak dan adik.
Randy melepaskan baju Vania, begitu pula dengan dirinya. Ia meremas dada Vania yang begitu ranum, bahkan ia mulai menciumi leher serta dada gadis cantik itu, ia benar-benar memperlakukan Vania sebagai gadis yang ia cintai bukan sebagai adik yang biasa ia lindungi.
Percintaan itu berlanjut di sebuah kamar, Randy menggendong tubuh Vania seperti pengantin baru yang akan melakukan malam pertama mereka. Hingga tak ada sehelai pun kain yang menutupi badan kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu.
Randy terus menciumi badan Vania yang seputih susu, aroma Citrus bercampur bunga Camelia tercium dalam wanginya aroma badan Vania. Hingga Randy terhenti dalam sebuah muara sensitif gadis cantik itu.
Ia menenggelamkan wajah nya untuk menciumi dan merasakan dengan lidah nya lekuk indah nan menggoda itu.
Vania langsung menarik sprei dalam kamar itu dengan kuat, ia merasakan sensasi sentuhan nikmat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, permainan lidah yang begitu piawai itu membuat ia mengejang, hingga c@iran cint@ itu keluar dengan sendirinya.
Vania lalu meraih adik kecil Randy dan meng*lum nya, ukuran yang begitu besar membuatnya sedikit kesulitan untuk memasukkan nya ke dalam bagian dalam bibirnya.
Randy juga sama halnya dengan dirinya, ia begitu bergetar merasakan kenikmatan yang juga perdana baginya, nafasnya terengah-engah sesaat sebuah cairan mendorongnya untuk keluar.
Vania hanya menutup matanya, ia tak sempat menghindar dari semburan cairan putih kental yang mengenai wajahnya. Randy yang merasa tak berdosa malah tersenyum lalu mengambilkan tisu untuk Vania.
" Maaf ya sayang, kamu malah jadi maskeran," Goda Randy sembari mengusap wajah Vania dengan tisu di tangannya.
__ADS_1
Aduh author malah jadi ikutan gerah nih, butuh Ice... 🥵