
Suara percakapan mereka terdengar lantang di sudut koridor, Brian nampak terheran mencari-cari seseorang yang ia cari tidak kunjung ia lihat.
" Tante dan Om sama siapa lagi kesini, kok ada yang kurang..?," Ucap Brian celingukan melihat ke segala arah.
Pertanyaan Brian seolah membuat jantung Helena berhenti, kenapa ia yang berinisiatif bertanya. Wanita yang menguping di lorong koridor itu memejamkan matanya kalut, takut ketahuan jika ia memang bersama keluarga Widjaya kesini.
" Maksud kamu, Hel..?," Ucap Bu Sandra yang langsung di potong oleh lawan bicaranya.
" Vaniaa.., kok dia gak ada Tante, apa dia tidak ikut kesini," Ucap Brian mengatakan nama Vania begitu lantang.
" Vania sedang ada skripsi, jadi tidak ikut, bukan nya nak Brian juga satu angkatan sama Vania ya," Ucap pak Rahardian ikut nimbrung berbicara.
Perbincangan mereka membuat si penguping lega, jantungnya mulai ber irama lagi dengan teratur.
" Ah iya om, Brian minta waktu kelonggaran soalnya mau berobat kesini," Ucap nya sambil menggaruk sedikit kepalanya yang tidak terasa gatal.
Pak Rahardian dan Bu Sandra mengangguk, mereka lantas menceritakan keadaan Randy yang mengkhawatirkan, kedua orang tua itu juga meminta kepada Brian untuk merahasiakan nya dari Vania agar tidak menggangu skripsi nya.
" Kamu kan tahu, jika Vania dan Randy adalah kakak adik yang saling menyayangi, jadi Om dan Tante tidak memberitahu kan keadaan kakak nya yang harus di rujuk ke ke rumah sakit luar negeri," Ucap Pak Rahardian berbicara dengan memelas.
Brian yang mendengar cerita itu lantas mengangguk dan mengerti kondisi saat ini, ia juga menceritakan kedatangannya di rumah sakit ini setelah Bu Sandra bertanya kepada nya.
" Brian dulu pernah kecelakaan Tante, setelah sadar dari koma ingatan Brian hilang sebagian, bahkan Brian tidak mengenali Ibu Brian sendiri waktu itu, di rumah sakit ini Brian Kemoterapi untuk dapat mengingat lagi, Syukur sebagian ingatan Brian mulai kembali," Ucap Brian kepada Bu Sandra dan pak Rahardian.
Helena yang mendengar percakapan mereka langsung terduduk lagi di kursi karena jantung yang tadi perlahan berirama mulai berdenyut dengan cepat lagi.
Ia mencemaskan perkataan Brian barusan yang mulai dapat mengingat kembali, apakah ia sudah mengingat tentang dirinya dulu, meskipun hanya cinta satu malam tapi telah membuatnya hamil dan keguguran.
__ADS_1
" Tante dan Om, Brian duluan mau kemoterapi lagi, nanti pasti Brian datang kesini menjenguk kakak Vania," Ucap Brian berpamitan pergi.
Kedua orang tua itu mengangguk. Helena bernafas begitu lega, akhirnya Brian pergi, setelah kepergian Brian, barulah Helena keluar dari persembunyiannya di lorong koridor.
" Maaf Tante Om, Helena tadi habis dari toilet," Ucapnya masih sedikit syok mendengar percakapan tadi.
Bu Sandra lalu tersenyum, ia pun mengajak Helena untuk makan siang bersama di sebuah kantin yang jaraknya tak jauh dari rumah sakit.
" Terimakasih ya Helena, kamu memang baik menemani Randy sampai kesini," Ucap Bu Sandra yang nampak salut dengan Helena.
" Sudah kewajiban Helena sebagai tunangan dan Calon istrinya Tante," Ucap Helena yang membuat Bu Sandra tidak enak hati jika mengingat bahwa Randy sudah mengikat pernikahan dengan Vania.
Mereka berjaga secara bergantian, kali ini pak Rahardian yang berjaga menunggui Randy di ruang ICU. Sebelum ia masuk, ia mengenakan pakaian steril berwarna hijau medis serta masker dan penutup kepala.
Ia mendekati anak laki-lakinya yang seolah hanya tertidur pulas, paras menawan nya tidak sirna meski sedang terlelap dalam koma.
Pak Rahardian memandangi nya, rasa bersalah seketika langsung muncul di benaknya, seperti nya ia benar-benar menyesali perbuatannya kemarin yang main tangan kepada Randy.
Hanya saja keserakahan dan obsesi ingin memperluas kemajuan perusahaan nya lah yang membuat nya kalap dan memisahkan cinta kedua anaknya, ia menghela nafas merasakan kebimbangan di hatinya.
Apakah harus kuberi restu, tapi aku sedang membutuhkan suntikan dana yang besar...
Batin pak Rahardian yang terus merasakan bimbang di hatinya. Tiga puluh menit kemudian istri dan calon menantunya kembali untuk gantian berjaga.
" Ayah makan siang dulu, biar aku dan Helena gantian menjaga Randy," Ucap Bu Sandra menyuruh suaminya makan siang.
Pak Rahardian mengangguk dan meninggalkan ruangan ICU.
__ADS_1
Namun sebelum ia benar-benar keluar, seorang dokter kenalan nya, dokter John menemuinya tepat di depan pintu masuk, ia menyuruh untuk keruangan nya membicarakan mengenai operasi kedua untuk Randy. Pak Rahardian mengangguk dan mengikuti dokter berwajah bule itu.
Dalam ruangan dokter pak Rahardian di perlihatkan tentang Rontgen dari sum-sum tulang belakang Randy yang telah di operasi. Meskipun berjalan sukses, namun harus tetap di tidak lanjutin dengan operasi kedua.
" Sum-sum tulang belakang nya tidak ada yang cocok dengan kalian berdua, jika meminta pendonor akan sangat sulit mencari yang cocok jika bukan dari keluarga," Ucap Dokter John kenalan pak Rahardian sambil mengkerut kan keningnya.
Pak Rahardian hanya berpasrah, ia menghela nafas panjang menyesali setiap perbuatannya.
" Apakah jika tidak ada pendonor yang cocok anak saya bisa diselamatkan," Ucap pak Rahardian berharap.
Namun dokter John kenalan nya hanya menggeleng.
" Kecil kemungkinan untuk bisa pulih, tapi masih bisa bertahan," Timpal dokter John kenalan nya berkata dengan berat hati.
Pak Rahardian meneteskan air matanya, ia sangat tak ingin melihat anak laki-lakinya menderita, ia terus meminta tolong kepada dokter kenalan nya untuk mencarikan pendonor yang cocok dengan biaya berapapun.
Semangatnya seolah runtuh, ia belum memberitahukan kondisi anaknya kepada istri serta calon menantunya, ia benar-benar kalut harus berbuat apa, ia dan istrinya memang bukanlah orang tua kandung Randy, asal-usul nya bahkan tidak diketahui oleh pasangan suami-istri Widjaya, entah ia masih punya keluarga di Turki atau tidak.
Tapi, Rumah bordil di kota Turki itu masih berdiri kokoh, mungkin masih ada harapan dengan menanyai pemilik nya mencari tahu tentang almarhumah Azhalea.
Pak Rahardian teringat akan perjalanan bisnisnya 5 bulan lalu di Turki yang melihat lagi rumah bordil itu, dengan sigap meraih ponselnya menghubungi kenalan nya di Turki untuk dimintai pertolongan, siapa tahu pemilik rumah bordil itu memang tahu tentang keluarga Azhalea.
" Tolong Carikan informasi tentang wanita yang pernah dijual di rumah bordil persimpangan kota Turki, ia bernama Azhalea," Ucap pak Rahardian yang lalu menutup teleponnya saat lawan bicaranya mengatakan siap untuk membantunya.
Tangan nya gemetaran memegang telepon genggamnya, seperti nya ia sedikit kehilangan keseimbangan karena terlalu cemas dan belum terisi sedikitpun makanan.
Bu Sandra yang melihat suaminya dari kejauhan dengan sigap berlari untuk menolong suaminya yang sudah bersimpuh hampir kehilangan kesadaran nya.
__ADS_1
Terimakasih ya Guys Dukungan nya Readers tercinta yang baik hati...
terus ikuti cerita nya ya 🙏