
Perhatian, ini hanya Novel semata, semua tokoh, karakter dalam cerita hanya fiksi belaka, apalagi kesamaan nama tokoh dan latar cerita itu tidak di sengaja, happy Reading 🙂
Dingin nya cuaca di pusat kota negara Italia begitu terasa di dalam ruangan rumah sakit tempat Randy di rawat.
Suasana dingin nan canggung begitu terasa merasuk ke sanubari Pria yang masih mematung di dekat pintu masuk, ia mencoba tersenyum meskipun terasa begitu getir.
Vania menatap nya mencoba meminta maaf, berusaha meminta pengertian nya. Brian mencoba tersenyum mencoba menenangkan hatinya. Ia hanya mengangguk mendengar setiap kata maaf yang terdengar dari bibir Vania.
" Maafkan aku Brian, yang tak pernah bisa membalas cinta mu, tapi aku selalu menganggap mu sebagian teman terbaik ku, teman setia ku," Ucap Vania mencoba meminta maaf pada pria yang mengantarkan nya sampai kesini.
Tatapan mata itu tiba-tiba berubah, berbeda dengan saat ia masih bersamanya lima belas menit yang lalu.
" Maafkan aku juga Vania, ini terlalu mendadak bagiku, bahkan aku tidak bisa mencerna nya, berikan aku waktu," Ucap Brian yang langsung pergi hanya mengucapkan kata pamit kepada kedua orang tua Vania yang masih di dalam ruangan.
Pak Rahardian terus menggelengkan kepalanya, merasakan sakit kepala karena ucapan anak nya barusan. Ia lalu menarik tangan Vania meninggalkan ruangan kakaknya.
" Apa-apaan kamu Vania, kamu tidak lihat kakakmu sedang terbaring sakit, kamu malah pamer hubungan kamu dengan semua orang," Ucap pak Rahardian benar-benar kalut.
Vania hanya tersenyum menatap wajah Ayahnya yang begitu kesal karena kelakuan ia barusan.
" Sepandai-pandainya Ayah menyimpan bangkai, suatu saat akan tercium juga, jadi sebelum tercium duluan aku umbar saja," Ucap Vania seolah menyindir ayahnya, ia merasa puas seolah bisa membalas perbuatan yang ia lakukan kepada Randy meskipun belum sebanding.
Sedangkan Helena, ia masih terlihat di sekitar rumah sakit duduk melamun di samping taman.
Brian yang juga sama hal nya berjalan tak fokus menyelusuri lorong koridor keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
Tak sengaja matanya menatap wanita yang juga terlibat dalam suasana bersitegang tadi. Brian hanya menatap nya lalu berlalu naik taksi, ia sengaja tak menghampiri nya karena ia mengerti betapa terkejutnya kenyataan yang tak bisa mereka terima, bahkan waktu untuk berfikir sendiri itu sangat penting.
Suasana dingin dengan lebat nya salju yang turun menghalangi jalanan kota Italia. Brian tak ingin langsung pulang, ia memutuskan untuk menginap di hotel menenangkan dirinya sejenak.
Ranjang hotel yang nampak empuk membuatnya langsung merebahkan badan nya yang begitu terasa pegal, selama tiga hari ini ia seolah tak bisa beristirahat karena menemani Vania mengurus Visa keberangkatan dan langsung kembali ke Italia.
Ia memejamkan matanya sejenak berharap ia bisa tertidur namun tetap tidak bisa, ia terus memikirkan kejadian tadi, yang membuat hatinya terus gelisah.
Sebenarnya ia sudah curiga hubungan Vania dan kakaknya semenjak di pantai Anyer kala itu, namun ia tetap berfikir positif bahwa hubungan mereka hanya sebatas kakak dan adik yang saling mencinta, rumor tentang mereka bukan saudara kandung juga sebenarnya sudah ada sejak dulu, namun ia tak habis fikir jika mereka akhirnya saling mencintai seperti yang dikatakan Vania.
Ia lalu membuka jendela kamar hotel itu menatap turun nya salju yang begitu dingin memberi kesan lain di hatinya.
Tringggg!!!
" Ayah belum selesai Vania, nanti kita bicara lagi," Ucap pak Rahardian berlalu meninggalkan Vania sedikit menjauh untuk menjawab panggilan telepon itu.
" Permisi pak Rahardian, saya menemukan salah seorang saudara Randy di perkotaan kota Turki," Ucap asisten nya dari sebrang telepon.
Hal itu membuat pak Rahardian terkejut, dan meminta penyelidik lebih lanjut mengenai keberadaan orang yang diyakini saudara Randy.
" Namanya Lasane dia bibi alm. Azhalea, dan bekerja di sebuah Cafe di pusat kota Turki," Ucap seorang informan nya di dalam telepon.
Pak Rahardian lantas tersenyum, ternyata ia masih memiliki harapan untuk menyelamatkan anaknya.
Meskipun ia sedang beradu mulut dengan Vania, namun teriakan Bu Sandra meminta tolong karena anaknya pingsan membuat nya juga ikutan panik.
__ADS_1
Ia lantas berlari, mengangkat badan anaknya yang ringan untuk di bawa ke ruangan umum, kedua orangtuanya nya mengira jika ia sama halnya dengan dirinya karena faktor kelelahan hingga seorang dokter mengatakan jika Vania tengah mengandung selama 2 Minggu.
Pak Rahardian dan Bu Sandra langsung terkejut, pasalnya pernikahan mereka saja secara mendadak bahkan baru diketahui keduanya, sekarang malah sudah mengandung, bagaimana ini...?
Kehadiran sang calon buah hati itu bukan nya memberi kebahagiaan tapi rasa bingung karena kondisi yang kurang tepat.
Pak Rahardian semakin pusing dibuatnya, namun ia tidak bisa menyalahkan anaknya, toh mereka menikah secara sah di mata agama, jika hamil pun bukanlah hamil dari hubungan diluar pernikahan.
Bu Sandra yang juga ikut terkejut bersama suaminya nampaknya malah bahagia, karena sebentar lagi ia akan menimang cucu dari kedua anak yang sangat ia sayangi.
Pak Rahardian langsung keluar meninggalkan ruangan umum untuk mencari udara segar dari segala hal yang ia anggap sebagai masalah baginya.
" Apakah aku suruh gugurkan saja anak itu, Vania- Vania, kenapa anak itu selalu keras kepala," Ucap pak Rahardian berbicara sendiri sembari menatap kabut salju dari arah jendela.
Saham yang sudah ia bangun sedemikian rupa akan langsung turun drastis jika khalayak umum tahu jika kedua anaknya telah menikah, ia bahkan sudah tidak tahu apakah perusahaan keluarga Helena masih mau menanam saham di perusahaan nya atau tidak, bahkan perusahaan keluarga Brian adalah investasi yang begitu menggairahkan, apakah ia akan melepaskan begitu saja, tentu tidak..
Pak Rahardian akan terus mencari cara agar perusahaan nya tetap mendapatkan suntikan dana untuk perkembangan perusahaan nya dengan cara yang ia halalkan sendiri, meskipun harus bermain curang dan berbaur dengan cara yang hitam.
Meskipun ia menyesali perbuatannya, namun ia belum memberikan restu kepada kedua anaknya, karena bagi nya ia bisa langsung mendayung dua pulau terlampaui jika memisahkan kedua anaknya dan menikahkan dengan calon ideal yang sudah ia persiapkan.
Ia juga mengamati bagaimana cara Helena menatap Randy serta cara Brian menatap Vania, meskipun Vania sudah mengatakan pernikahan mereka, ia rasa kedua calon menantu idealnya akan menerima kerja samanya untuk bahu membahu saling membantu memisahkan mereka berdua.
Menurut Readers gimana, apakah Helena dan Brian menyetujui rencana licik pak Rahardian 🙁
Maaf ya kemarin libur lelah, tapi kita lanjut lagi, masih berusaha sekuat tenaga untuk bisa crazy Up.
__ADS_1