
Perhatian, ini hanya Novel semata, semua tokoh, karakter dalam cerita hanya fiksi belaka, apalagi kesamaan nama tokoh dan latar cerita itu tidak di sengaja, happy Reading 🙂
***
" Apa maksudnya Ayah memindahkan kak Randy lagi, sudah berapa kali Ayah mengoper nya seperti barang, karena aku...?, Ayah tega memindahkan nya, dia lagi sakit harus berpindah-pindah negara, kita yang sehat saja lelah apalagi kak Randy yang belum pulih," Vania meninggikan nada suaranya yang membuat perawat disana terkejut.
Ribut-ribut di pagi hari yang sudah ia duga terjadi, Pak Rahardian keluar sembari menggeret lengan Vania, ia mencoba berbicara pelan dengan putri semata wayangnya yang sudah tidak bisa menurunkan nada bicaranya.
Vania langsung menangkis tangan Ayahnya dengan kuat, entahlah sudah semarah apa dirinya dengan perilaku Ayahnya yang selalu memisahkan hubungan nya.
" Vania dengarkan Ayah dulu," Ucap pak Rahardian yang mencoba meminta waktu untuk berbicara, Vania yang sebenarnya sudah tak ingin meladeni Ayahnya akhirnya mencoba meredakan amarahnya demi mengetahui keberadaan Randy.
" Dimana lagi kak Randy, Ayah menerbangkan nya kemana lagi," Tanya Vania yang terdengar menurunkan nada bicaranya.
Pak Rahardian mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan.
" Ayah membawa nya ke suatu tempat yang Ayah yakin ia akan bahagia disana bersama calon istrinya," Ucap pak Rahardian mantap yang menusuk hati Vania.
Apa maksudnya calon istri, jelas-jelas dia yang sudah menjadi istrinya.
" Aku istrinya, apa Ayah menyuruh Helena membawa kak Randy," Ucap Vania yang tersulut emosi lagi.
" Ayah melakukan ini demi kebaikan kalian," Ucap pak Rahardian yang membuat lawan bicaranya tersenyum kecut.
" Demi kebaikan kami, itu demi kebaikan Ayah yang berambisi karena harta," Ucap Vania begitu lantang dan keras.
Plakkk!!! Suara tamparan terdengar renyah membuat Bu Sandra yang dari tadi tidak bisa memisahkan suami dan anaknya ikutan kesal karena suasana malah menjadi semakin rumit.
Vania nampak terdiam memiringkan wajahnya akibat tamparan di pipinya.
" Sudah Ayah, ini di fasilitas umum, negara orang lagi, untuk apa menampar Vania," Bu Sandra nampak memarahi suaminya dan membawa anak perempuannya meninggalkan tempat percekcokan.
__ADS_1
" Kamu tidak apa-apa sayang," Ucap Bu Sandra melihat pipi merah Vania bekas tamparan tadi.
Wanita cantik itu hanya mengangguk seolah sudah enggan untuk berbicara.
" Kakakmu sudah tidak disini, mama tadi bertanya kepada perawat yang berjaga jika Ayahmu memindahkan nya semalam," Ucap Bu Sandra yang juga tak habis pikir dengan kelakuan suaminya.
Vania memijit pelipis nya yang terasa pusing, membuat Bu Sandra seketika panik.
" Kamu tidak apa-apa sayang," Bu Sandra membulatkan matanya panik takut terjadi sesuatu terhadap anaknya.
" Vania hanya lelah Ma, apakah ujian untuk saling bersama itu begitu sulit," Vania menengadah menahan air mata yang hendak keluar dari pipinya.
Bu Sandra yang tahu betul perasaan putri semata wayangnya langsung memeluknya, ia menepuk pelan punggung Vania untuk meneguhkan nya agar tetap kuat.
" Jika kamu sudah enakan, lebih baik kita pulang, cuaca disini sedang ekstrim, mama rindu cuaca Indonesia yang hanya musim hujan dan panas," Ucap Bu Sandra mencoba membujuk Vania.
" Tapi bagaimana dengan kak Randy, aku belum lama bertemu dengan nya kemarin," Ucap Vania yang nampak murung lagi.
Bu Sandra menghela nafas panjang, ia mengatakan Jika kemarin ia sempat mendengar percakapan suaminya lewat telepon dengan Brian yang ternyata masih di Italia, ia juga mengingat apartemen yang disebut suaminya kemarin.
" Lho Tante," Ucap Brian sedikit terkejut atas kedatangan mamanya Vania.
" Nak Tante boleh minta tolong, untuk menjaga Vania lagi, dia keras kepala tidak mau ikut Tante pulang ke Indonesia," Ucap Bu Sandra bernada memohon kepada Pria yang masih di ambang pintu Apartemen.
Pria itu tersenyum dan mengangguk, tak lama Vania datang membawa makanan saji yang di belinya di depan Apartemen.
" Hai Brian," Ucap Vania yang masih canggung bertemu Brian.
Brian juga tersenyum membalas sapaan nya, meskipun hatinya tersayat atas kenyataan perih kemarin, namun ia masih sangat menyayangi Vania dan tak ingin kehilangannya.
Ia langsung terlintas atas tawaran dari telepon Ayah Vania, seolah ucapan yang di lontarkan nya kemarin memang akan terjadi.
__ADS_1
" Vania pasti akan mencari kakaknya, dan pasti ia akan sangat marah pada Om dan mencari dukungan, ia pasti akan mencari mu begitu tahu kamu masih di Italia," Ucapan pak Rahardian semalam, membisikkan seolah ini adalah kesempatan yang aku berikan kepadamu.
Brian mempersilahkan kedua tamu nya masuk ke dalam kamar Apartemen untuk berbicara lebih lanjut, seperti nya ia tergoda untuk mengatakan Iya pada tawaran pak Rahardian.
Sedangkan di belahan negara lain, Helena nampak masih menunggu Randy di ruangan rumah sakit di kota Amsterdam, ia juga sering memantau tentang perkembangan Randy paska operasi kedua.
Ia sama halnya dengan Brian yang tak mau menyia-nyiakan situasi dan kondisi, bedanya ia lebih cepat dalam bertindak.
Setelah seharian pasca operasi, Akhirnya Randy siuman, yang dimulai dari pergerakan jari-jari tangan nya hingga terbuka nya matanya.
Ia memandang langit-langit rumah sakit ketiga nya yang nampak begitu asing, bahkan terlihat di beberapa bagian, tulisan yang asing baginya.
" Ahh," Kalimat mengaduh keluar dari bibir Randy sambil memegangi kepalanya yang begitu terasa pening.
Helena yang terkejut atas kesadaran nya lantas Membantu nya untuk duduk di kasur.
" Aku dimana Helena, dimana keluarga ku," Ucap Randy yang masih belum mengetahui keberadaan nya karena kepalanya yang masih begitu terasa berat.
" Kamu sedang dirawat disini, setelah menjalani operasi pencakokan sum-sum tulang belakang," Ungkap Helena mengambilkan segelas air untuk nya minum.
" Dimana keluarga ku, dimana Vania," Ucapnya yang membuat Helena merubah moodnya seketika.
Helena yang sudah muak dengan nama Vania lantas mengarang sebuah cerita rekayasa nya yang ber sengkongkol dengan pak Rahardian.
Hatinya yang sebelumnya lembut kini berubah menjadi jahat karena ambisinya demi mendapatkan Randy seutuhnya.
" Aku akan tetap disini bersama mu, menemani mu Sampai kamu benar-benar sembuh sayang," Ucap Helena menatap Randy yang masih termenung mendengar ceritanya barusan. Kira-kira apa yang dikatakan Helena kepada Randy...?
Baru sadar sudah di adu domba, baru juga melek 😑
Terimakasih banyak atas dukungan kalian semua, yang bersedia mendukung othor remahan seperti saya 🥺
__ADS_1
Request dari para Readers yang minta Visual Randy, Pria berdarah Turkey - Eropa ( Nanti ada part yang membahas Ayah kandung Randy ya ) 🍒