Gairah Ranjang Kakakku

Gairah Ranjang Kakakku
Perlahan terbongkar


__ADS_3

Perhatian, ini hanya Novel semata, semua tokoh, karakter dalam cerita hanya fiksi belaka, apalagi kesamaan nama tokoh dan latar cerita itu tidak di sengaja, happy Reading 🙂


Sebenarnya anak kedua dari keluarga Widjaya itu tidak serapuh kelihatannya, hanya saja ia tidak memiliki tenaga saat itu apalagi mendengar berita yang begitu mengejutkan baginya.


Ia kira, perkataan Ayahnya tentang Randy dan Helena di luar negeri hanyalah bualan belaka, bahkan ia tak mengira jika keadaan suaminya begitu memprihatinkan.


Saat ia akhirnya tersadar saat mencium aroma minyak kayu putih, bi Anum sengaja membalurkan di pelipis serta lehernya.


" Ah, apa aku tadi pingsan..?," Ucap Vania yang hanya di Jawab anggukan oleh Brian yang masih setia menemaninya.


" Van, jadi kamu tidak tahu jika kakak beserta yang lainnya keluar negeri..?," Tanya Brian meyakinkan jawaban Vania.


" Aku sudah tahu, Ayah yang mengatakan nya sebelum ia juga berangkat," Ucap Vania berbicara tanpa beban sambil memegangi kepalanya dan tengkuk lehernya yang masih pening.


Brian pun mengangguk mendengar jawaban dari lawan bicaranya, menandakan mengerti, jadi sebenarnya pak Rahardian sudah memberitahu kan Vania, kenapa menyuruh ku menutup mulut. Brian mengkerut kan keningnya.


Tanpa tahu yang sebenarnya Brian mengucapkan lagi perkataan nya yang kali ini membuat Vania menatap nya dengan tak biasa.


" Kakakmu masih perlu dirawat di sana, karena kita harus menyelesaikan skripsi, jadi untuk sementara kirimkan saja doa untuknya," Ucap Brian tanpa sadar bahwa inilah titik poin yang sebenarnya disembunyikan pak Rahardian.


" Dirawat, apa maksud kamu Brian..?," Ucap Vania yang berbalik bertanya padanya.


Mata Brian yang bertemu dengan mata Vania langsung bisa menangkap situasi yang sebenarnya, ia lalu gagap setelah menyadari kesalahannya berucap.


" Maksud..nya Randy di rawat calon istrinya, ya kira-kira seperti itu," Brian seketika pucat, kalimat yang ia lontarkan juga terbata-bata, apalagi tatapan mata Vania yang menusuk semakin mengusik dirinya.


Mati aku!!! Brian berbisik di hatinya, seperti nya kalimat itu yang di rahasiakan pak Rahardian untuknya, tapi dengan mulut besarnya ia dengan mudah membocorkan nya.

__ADS_1


Meskipun Vania sudah tidak bertanya dengan pertanyaan yang memojokkan nya tapi tetap saja tatapan itu yang bertindak, seolah tak ingin melepaskan nya hingga ia menjawab yang sebenarnya.


Brian menghela nafas begitu panjang, kepalanya tertunduk sesaat, sebenarnya ia tak ingin mengatakan amanat Pak Rahardian, namun masalah nya Vania sudah curiga terlebih  dahulu padanya, apalagi ia adalah tipe orang yang tidak bisa berbohong.


" Randy, kakak kamu terbaring di rumah sakit dan sedang dalam masa perawatan di rumah sakit terkenal di Italia." Ucap Brian yang semakin mengutuk dirinya sendiri karena malah memperjelas informasi rahasia yang ia bocorkan sendiri.


Tatapan tajam Vania berubah seketika, ia sama sekali tak bergeming namun merubah wajahnya menjadi sendu tertutup awan mendung, seolah tak bisa menampung lagi air yang ada dimatanya.


" Sakit apa..?," Ucap Vania bertanya tanpa histeris namun begitu syok.


" Aku dengar sum-sum tulang belakangnya hancur, akibat pukulan benda keras," Brian menjawab lagi pertanyaan Vania yang sudah tak di tolerin lagi olehnya, betapa bodoh dan tidak warasnya dia.


Vania lalu menunduk kan matanya sejenak lalu menorehkan senyuman di bibirnya yang perlahan semakin memudar dan getir.


" Antar aku ke sana Brian," Ucap Vania yang mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh di pelupuk matanya.


" Kesana, maksud kamu ke Italia," Ucap Brian kaget.


Namun ucapan Vania terus memohon-mohon padanya yang membuat ia tak bisa berkutik untuk menolak.


Sedangkan di negara sebrang sana, pak Rahardian masih sibuk meminta bantuan rekannya untuk mencari keluarga Randy di Turki, sehari dua hari memang belum ada panggilan telpon tentang keberadaan kabar anak keluarga nya di turki, hingga informan nya itu mengatakan jika Paman dari Alm Azhalea juga telah wafat dua tahun yang lalu karena mabuk-mabukan.


Pak Rahardian yang mendengar berita dari informan nya langsung membasuh mukanya lesu.


" Tidak adakah saudaranya yang lain," Ucap pak Rahardian berharap di dalam telepon nya.


Namun jawaban sang informan tetap mengatakan tidak, yang artinya keluarga dari Alm ibu kandung Randy memang sudah tidak ada di Turki.

__ADS_1


Padahal Operasi kedua harus segera dilaksanakan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan yakni hilangnya nyawa Randy.


Namun pak Rahardian tidak patah semangat untuk mencari secercah harapan untuk kesembuhan Randy, ia pun mencoba mencari di beberapa rumah sakit meminta donor pencangkokan sumsum tulang belakang.


Beberapa rumah sakit di sana tidak menyediakan, bahkan untuk mengobati penderita leukimia saja yang umurnya tinggal sebentar lagi, rumah sakit disana tidak ada stok untuk itu, adapun harus mencari kecocokan yang pasti.


Dokter John mendatangi pak Rahardian yang terduduk lesu di koridor rumah sakit, ia nampak kelelahan seharian mencari pendonor yang cocok untuk anaknya.


" Pak Rahardian, saya ingin berbicara sebentar dengan anda," Ucap dokter John meminta pak Rahardian mengikuti nya di ruang kerjanya.


Ia memberitahu bahwa sumsum tulang belakang Randy bisa bertahan karena mereka terus memperbaiki sendiri sel-selnya, seolah memang menanti pendonor yang cocok untuk menyelamatkan nya.


" Kita akan tetap melaksanakan operasi kedua untuk menyambung Operasi pertama, tapi tetap ia akan pulih seutuhnya jika sudah ada pendonor yang cocok," Ucapan dokter John seakan memberikan setitik cahaya untuk pak Rahardian.


Setidaknya masih ada waktu untuknya berusaha menebus kesalahannya yang begitu fatal kemarin.


Brian dan Vania akhirnya membeli tiket untuk terbang ke Italia setelah mengurus perpanjangan Visa nya. Dari dulu Brian selalu tak bisa menolak permintaan Vania apalagi sampai memohon padanya. Mengenai skripsi bahkan sudah tak dipikirkan oleh mereka berdua.


" Pakai Jaketnya Vania, disana sedang musim dingin, jika tidak memakai rangkap pakaian akan gampang terserang Flu," Ucap Brian yang begitu perhatian memberikan tambahan jaket serta syal untuk Vania.


Mereka terbang tepat pukul 6 sore, dan diperkirakan akan tiba pagi harinya. Setelah mendengarkan semua informasi yang diketahui dari Brian membuat Vania semakin murung dan enggan untuk banyak berbicara seperti sifat aslinya yang penuh ceria, bahkan akhir-akhir ini ia sering mual dan memuntahkan setiap makanan yang di telan nya.


Apakah ini efek atas rasa sedihnya yang menggalau ditinggal suaminya yang sama sekali tidak ada kabar, ataukah ???...


Coba tafsirkan menurut para pembaca sekalian.


Tenang ya para Readers, kesedihan ini akan cepat berlalu, othor juga ikutan terbawa suasana sedih, mau nya yang panas-panas lagi biar bisa bawa es untuk mendinginkan suasana.

__ADS_1


( Wah, bisa naik peringkat, semoga othor bisa tetap konsisten dengan ceritanya)


Terimakasih banyak atas dukungan kalian sehat selalu 🍒


__ADS_2