
Perhatian, ini hanya Novel semata, semua tokoh, karakter dalam cerita hanya fiksi belaka, apalagi kesamaan nama tokoh dan latar cerita itu tidak di sengaja, happy Reading π
***
" Dimana keluarga ku, dimana Vania," Ucapnya yang membuat Helena merubah moodnya seketika.
Bukan nya khawatir karena telah menjalani operasi, malah mengkhawatirkan orang lain, Ucap Helena di dalam hatinya begitu kesal setiap nama Vania di sebut Randy.
" Kamu kan habis selesai menjalani Operasi, jangan terlalu banyak pikiran dulu, Tante Sandra dan Om Rahardian sebentar lagi menuju kesini, maklumi mereka karena sibuk kesana kemari, selain mencarikan pendonor sum-sum tulang belakang untuk kamu juga ...," Helena menghentikan ucapannya agar memancing Randy memperlihatkan ekspresi tak sabar nya.
" Juga apa Helena...," Tanya Randy kepada Helena yang menghentikan pembicaraan nya.
Helena masih terdiam, membiarkan ikan nya terpancing memakan umpan nya. Ia masih berakting seolah tak enak membicarakan kalimat terakhir.
" Juga sibuk mempersiapkan pertunangan Vania dengan anak dari kolega perusahaan mu, kalau tidak salah namanya Brian," Ucap Helena berbicara seolah ia adalah orang baik yang mau membagikan informasi untuknya.
Randy menggelengkan kepalanya, berusaha menyangkal omongan hasutan itu yang berusaha mengadu domba nya. Ia terus menyangkal ucapan yang dilontarkan Helena padanya.
Helena yang seolah sedang mengasah kemampuan aktingnya terus menampilkan bakat terpendam nya yang begitu terlihat sempurna.
" Kenapa kamu seolah tidak suka, itu kan demi kebaikan adik kamu, kita sebagai kakak harus mendoakan yang terbaik untuknya, apalagi saat kita bertunangan Vania juga mendoakan yang terbaik untuk kita," Ucap Helena tersenyum sengit setelah berhasil membuat kegundahan di hati Randy.
" Aku akan tetap disini bersama mu, menemani mu Sampai kamu benar-benar sembuh sayang,"
Helena berkata lagi seolah semua yang ia ucapkan benar. Pria yang masih mengenakan baju pasien itu nampak termenung, mengingat hal-hal yang seolah ia lewatkan.
" Kenapa begitu mendadak, berapa hari aku dirawat..?," Ucap Randy yang terasa sedikit nyeri di punggung nya.
" Kamu sudah menjalani operasi kedua kalinya setelah koma selama seminggu," Ucap Helena berkata jujur kali ini.
Randy memejamkan matanya, pantas saja seolah ia melewatkan beberapa hal, seminggu bukanlah waktu yang singkat setelah Ayahnya tahu tentang hubungan mereka.
__ADS_1
Setiap pertanyaan yang dilontarkan Randy selalu bisa di jawab Helena dengan begitu cermat, yang membuatnya percaya membuang sedikit keraguannya.
Helena terus menghasut Randy agar percaya padanya. Pria yang masih dalam pengawasan dokter itu menurut apa kata Helena.
" Sayang, bagaimana kalau kita mempercepat pernikahan kita, aku tidak ingin selalu terpisah dengan kamu, lagian kamu bisa membantu Papa ku mengurus perusahaan," Ucap Helena bernada manja kepada pria yang masih memakai baju pasien.
Pria itu hanya tersenyum menatap Helena, wajah nya masih terlihat pucat tak bertenaga.
" Kita bicarakan nanti ya Helena, badan ku masih tak bertenaga," Ucap Randy menatap mata Helena dengan tatapan memelas.
Helena hanya menghela nafas dalam, ia mengangguk menatap iba tunangan nya yang masih tahap penyembuhan.
" Jika sudah di ijinkan pulang, nanti kita tinggal di Apartemen ku untuk sementara waktu," Perkataan Helena membuat Randy mengkerut kan keningnya.
" Kenapa kita tidak pulang ke Indonesia saja, aku harus bekerja di perusahaan Ayahku," Randy menyanggah perkataan Helena.
" Kamu masih penyembuhan, kenapa dalam pikiran kamu selalu saja pekerjaan, Om Rahardian pasti memaklumi kok," Sanggahan Randy langsung di tepis olehnya.
Pria berparas rupawan itu pun terdiam, ia sedang tidak ada tenaga untuk meladeni perdebatan nya dengan Helena.
" Tante titip Vania ya Brian, jika kalian mengalami kesulitan langsung hubungi Tante," Bu Sandra memeluk Vania lagi sebelum benar-benar meninggalkan Apartemen itu.
Vania begitu keras kepala tak ingin pulang bersama mama nya ke Indonesia, iaΒ datang meminta bantuan kepada Brian yang masih menetap di Italia, ia ingin mengikuti Alur permainan Ayahnya yang memang mempermainkan nya dan Randy.
" Brian, aku benar-benar minta maaf," Ucap Vania yang langsung di potong Brian.
" Sudah, anggap saja itu sudah berlalu, kita buka lembaran baru, apa yang perlu aku bantu untukmu," Ucap Brian tersenyum seolah di paksa kan.
Vania menatap matanya dalam, sebenarnya ia tidak tega menatap Pria yang terus ia anggap sebagai teman, kebaikan hatinya dan kesabaran nya padanya membuatnya menyandang predikat teman setia.
" Apa yang Ayah ku tawarkan padamu," Tanya Vania yang membuat Brian sedikit terkejut, Pria berpawakan tinggi itu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
__ADS_1
" Tawaran Apa, aku tidak menerima tawaran dari Ayahmu," Brian berbicara sedikit terbata yang membuat Vania tersenyum.
" Sudahlah, Aku sudah dengar dari mama ku saat menguping pembicaraan telepon kalian berdua semalam," Vania masih menatap wajah Brian yang memerah, ia tahu betul Pria itu tidak bisa berbohong.
" Ahh, sudahlah aku jujur saja," Ucap Brian yang membuat tawa Vania meledak karena tingkah nya yang selalu konyol.
" Iya semalam Ayahku menawarkan padaku untuk mendekatimu lagi, karena Ayahmu berpikir jika kamu pasti menemui ku," Ucap Brian yang akhirnya berkata jujur.
Vania menghela nafas merubah ekspresi nya seketika saat Brian membahas Ayahnya.
" Ya tadi pagi aku marah besar padanya, karena ia selalu berusaha untuk memisahkan ku dengan kak Randy, aku memang selalu berselisih paham karena berbeda pendapat dengan Ayahku, karena kami memiliki prinsip yang berbeda," Ucap Vania sambil minum Cola yang tadi ia beli.
Brian paham dengan semua ucapan Vania, ia memang masih menyukai Vania meskipun ia sudah menjadi milik orang lain, dengan keteguhan hatinya ia pun menyampaikan lagi isi hatinya.
" Vania, aku akan terus mendukung segala urusan dan keputusan mu, namun aku tidak akan menyerah dan terus berusaha untuk mendapatkan cintamu, namun jika keputusan akhirnya kamu tetap tidak bisa menerima cintaku ya apa boleh buat," Brian tersenyum kaku sambil meminum gelas Cola bagiannya.
Vania tertunduk sesaat, ia benar-benar tidak tega dengan segala kebaikan hatinya untuknya, meskipun ia hanya bisa membalas nya dengan sebuah patah hati, karena tak akan bisa membalas cintanya.
" Terimakasih ya Brian, namun," Ucapan Vania langsung di hentikan oleh Brian.
" Jangan katakan sekarang, kita tidak akan tahu kedepannya seperti apa, kita jalani saja alurnya," Ucap Brian dengan masih meyakini keteguhan hatinya berusaha menepis rasa sesak di dada.
Vania lalu tersenyum, ia bersyukur dengan adanya Brian yang selalu menemani nya di kala ia kesulitan.
" Bisakah kita cari tahu dimana kakak ku berada," Ucap Vania mengeluarkan kalimat permintaan kepada Brian.
Helena mulai gerak cepat nih Readers, Tim Vania harus terus semangat ya π
Permintaan Update Visual para tokoh, kali ini Vania ( wanita berdarah Tionghoa dan indonesia) Chindo ya kalau kata orang mah.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan nya, para Readers tercinta ππ
Happy New Years π₯³