Gairah Ranjang Kakakku

Gairah Ranjang Kakakku
Yang sakit hatiku bukan Tubuhku


__ADS_3

Suasana dalam ruangan terasa nampak begitu dingin, bukan karena AC yang terlalu tinggi temperatur nya tapi karena tatapan tajam seorang Ayah yang terasa begitu menusuk hati anak yang sedari kecil ia besarkan.


Ia menatap dengan tajam ke arah seorang Pria muda berparas tampan yang sama sekali tak mirip dengan nya. Pria dengan tatapan sayu nan pucat itu mengangguk menuruti perkataan Ayahnya, tak ada sedikitpun perasaan dihatinya untuk membangkang apalagi memusuhi Ayahnya.


Pak Rahardian langsung menjatuhkan badannya di atas kursi kantor nya setelah Randy meninggalkan ruangan nya. Seolah sebenarnya perasaan menyesal menyelimuti hatinya tak kala menatap wajah sendu Anak pertama yang juga ia sayangi.


" Apakah ia baik-baik saja, kenapa hari ini ia pucat sekali," Ucap pak Rahardian berkata sendiri mencemaskan Randy.


Pria berdarah Turki itu kembali ke ruangan kerjanya yang sudah di pindahkan ke bagian staf umum. Banyak sekali mata yang selalu menyorot nya tak kala ia datang, seolah mata itu adalah senior yang ingin menindas junior nya.


Meskipun sebenarnya Randy begitu risi di dalam ruangan itu namun ia tetap berfikir positif dan menjalani pekerjaan nya tanpa mengeluh, entah kenapa hari ini ia merasakan badan yang begitu menggigil dan suhu tubuh yang panas, namun kendati badan nya tidak begitu fit ia tetap menjalankan tugasnya menyelesaikan laporan pekerjaan.


Sore harinya tepat pukul 4 sore semua staf yang berada dalam ruangan itu nampak berkemas untuk segera pulang, Randy yang juga ikut mengemasi barang nya tiba-tiba diberikan setumpuk berkas yang harusnya tidak ia kerjakan, ia memandang tumpukan berkas itu dengan keheranan.


" Maaf pak kepala direksi, tapi bukan nya ini pekerjaan anda ya, kenapa di limpahkan kepada saya," Ucap Randy tanpa berdiri sambil mengamati berkas-berkas di atas meja nya.


" Memangnya kenapa kamu kan bawahan saya, cepat kerjakan, jangan pulang sebelum semua beres," Ucap seorang pria berperut buncit lantas berlalu meninggalkan Randy.


Semua karyawan yang hendak pulang tiba-tiba berdiri di depan pintu keluar sambil menundukkan kepalanya, rupanya pak Presdir datang mengunjungi ruangan yang jarang di jamah oleh nya.


" Maaf pak Joko, tolong ambil berkas-berkas di atas meja anak saya, Randy hanya ingin menjajal bagaimana rasanya menjadi staf umum, besuk dia akan kembali menjadi Manager perusahaan seperti sedia kala," Ucap Pak Rahardian menepuk punggung kepala direksi dalam ruangan itu.


" Oh iya pak Presdir, maafkan kelancangan saya," Ucap pria berperut buncit itu segera mengambil lagi tumpukan berkas di meja Randy.


Pak Rahardian mengangguk lalu menghampiri anaknya yang terus menatap dirinya.


" Ayo anakku, hari ini kita ada pertemuan dengan Client lain," Ucap pak Rahardian mengajak Randy untuk segera meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Banyak sekali mata yang tertuju pada kedua orang itu tanpa mengurangi rasa hormat mereka. Pak Rahardian berjalan di ikuti Randy dengan begitu berwibawa.


Sesampainya di parkiran kantor pak Rahardian menepuk punggung Randy, Pria itu nampak sedikit meringis menahan rasa sakit di punggungnya.


" Apakah masih terasa sakit..?," Ucap Ayahnya dengan iba.


" Sedikit, tidak usah terlalu di khawatir kan," Ucap Randy yang selalu tersenyum ketika bersama orang yang ia anggap sebagai orang tua nya sendiri. Pak Rahardian lantas mengangguk.


" Helena menelepon Ayah, ia ingin bertemu dengan mu sore ini, temui dia dan tepati janjimu," Ucap pak Rahardian berlalu ke dalam mobilnya.


Randy lantas mengangguk dan membalas ucapan itu dengan senyuman, namun sebelum Pak Rahardian benar-benar pergi meninggalkan parkiran kantor, ia membuka kaca mobilnya.


" Maafkan Ayah atas pukulan itu, segeralah ke dokter," Ucap pak Rahardian yang melajukan lagi mobilnya.


Randy terus mengangguk dan tersenyum mengiringi Mobil ayahnya yang melaju meninggalkan parkiran.


Seseorang melambaikan tangannya di dalam sebuah Cafe tempat mereka mengadakan janji kemarin.


" Sudah lama kamu menunggu..?," Tanya Randy kepada wanita berpakaian casual.


" Belum lama, apakah kamu lembur hari ini..?," Gantian Helena yang bertanya.


" Tidak," Ucap Randy sedikit lesu mengaduk secangkir kopi yang sudah dipesan kan.


" Kamu kenapa, pucat sekali hari ini, apakah kamu sakit..?," Helena bertanya lagi menghawatirkan Pria di depan nya.


" Tidak aku tidak apa-apa, hanya sedikit sakit saja," Ucap Randy menatap wajah Helena yang dari tadi menatap nya.

__ADS_1


" Apa kamu demam," Tangan Helena memegang kening Randy yang terasa panas.


Helena lantas beranjak dan mengajak Randy untuk periksa ke dokter.


" Tidak apa-apa Helena, aku hanya perlu istirahat," Randy melepaskan tangan Helena.


Namun wajahnya semakin pucat, Helena yang sudah tak sabar langsung menggeret tangan Randy, Pria itu hanya diam seolah badan nya tiba-tiba seperti mengambang dan lunglai.


Helena lantas memesankan taksi dan meninggalkan mobil mereka di parkiran Cafe tadi. Di dalam taksi, Randy menyandarkan kepalanya di bahu Helena, dan begitu terasa suhu badan nya yang kian tinggi.


" Pak bisa lebih cepat sedikit, ke rumah sakit terdekat," Ucap Helena bernada sangat khawatir.


Supir taksi itu mengangguk dan menaikan laju taksinya, mereka berhenti di sebuah rumah sakit swasta yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Cafe tadi.


Di sana Randy langsung mendapatkan penanganan intensif di ruangan ICU, tak berselang lama dokter yang memeriksa nya keluar menemui Helena.


" Saudara Randy mengalami trauma di persendian tulang belakang, yang menyebabkan Demam tinggi dan kehilangan keseimbangan, saya akan segera menjadwalkan operasi secepatnya," Ucap salah seorang dokter memberikan informasi kepada Helena yang nampak terkejut.


Ia tak menyangka bahwa keadaan Randy begitu serius, sebenarnya kenapa dengan dia, membuat Helena bertanya-tanya kebingungan. Ia lantas di arahkan ke ruangan dokter untuk dimintai persetujuan operasi dan penyelesaian uang administrasi. Di tengah kebingungannya keluarga Widjaya nampak datang berlari ke arahnya dengan tatapan begitu khawatir.


" Om Tante, Helena sudah menandatangani persetujuan operasi malam nanti, katanya ada trauma cedera di tulang belakang punggungnya, Apakah kemarin Randy terjatuh atau kecelakaan ya..?," Tanya Helena yang benar tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.


" Ini semua salah Om, kemarin om khilaf memukul punggungnya dengan kayu," Ucap pak Rahardian penuh penyesalan menatap wajah anak nya yang terbaring di rumah sakit dengan begitu lemah.


" Apa kayu om," Helena terkejut mendengar pengakuan pak Rahardian, ia benar-benar tak mengerti dengan kejadian sebenarnya hingga Ayahnya tega memukul anaknya dengan Kayu hingga akhirnya cedera.


Bu Sandra nampak menangis menatap anak yang di sayangi nya terbaring dalam ruangan ICU.

__ADS_1


Mereka tidak mengikutsertakan Vania, bahkan anak perempuan nya tidak tahu jika Randy berada di rumah sakit, mereka hanya mengantisipasi agar suasana tidak semakin rumit.


__ADS_2