Gairah Ranjang Kakakku

Gairah Ranjang Kakakku
Perasaan yang berbeda


__ADS_3

Malam itu Vania akhirnya mengalah untuk tidak memaksakan cintanya pada kakak yang sangat ia sayangi. Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan yang hancur dan terluka.


Semalaman ia menangis, tak pernah dalam hidupnya ia menangisi pria lain selain kakak laki-lakinya itu. Semalam Randy mengucapkan kata yang membuat hati Vania hancur berkeping-keping.


" Kita akan terus menjadi kakak dan adik Van, aku sudah berjanji kepada Ayah untuk menjaga mu sampai kamu menemukan Pria baik yang akan menikahi mu," Ucap Randy berkata sangat lirih.


Vani akhirnya mengalah, ia melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di pipinya. Ia tersenyum mencoba tegar, memandang sepasang mata indah nan cantik itu.


" Mungkin belum saatnya kakak menerima perasaan ku, tapi aku akan tetap berusaha agar kakak bisa menerima cintaku," Ucap Vania yang langsung meninggalkan kamar Randy.


                          ----***----


Pagi harinya seperti biasa, keluarga Widjaya itu sarapan pagi bersama, kedua orangtuanya terkejut mendapati mata bengkak Vania yang terlihat habis menangis.


" Kamu kenapa Vania, habis menangis ya," Ucap Pak Rahardian yang merasa khawatir.


Gadis itu hanya meringis.


" Iya yah, habis baca novel online ceritanya sedih banget, karena cintanya di tolak sama pemeran laki-lakinya," Ucap Vania sambil melahap tangkapan roti dengan lesu.


Tiba-tiba Randy yang sedang minum Segelas air tersedak, ia terbatuk-batuk menatap Vania yang dari tadi memperhatikan nya dengan tatapan tajam.


" Kenapa Ran, pelan-pelan minumnya," Bu Sandra mengambilkan sapu tangan lagi untuknya.


" Iya ma, Randy nggak apa-apa kok cuma keselek aja tadi," Randy berbicara dengan wajah yang tiba-tiba pucat.


" Vania berangkat dulu ya, udah mau telat masuk kuliah," Vania langsung menenteng tas nya lalu mencium tangan kedua orangtuanya satu persatu.


" Lho, nggak diantar kakak mu saja," Ucap pak Rahardian kepada anak perempuannya.


" Nggak, Vania naik taksi saja," Ucap Vania yang langsung berlalu meninggalkan rumahnya.


Hari ini ia benar-benar naik taksi, padahal hari ini ia tak ada semangat sama sekali untuk masuk kuliah, selama ini, ia rela telat atau membolos demi bisa berangkat satu mobil bersama kakaknya, bohong jika hanya untuk mengejar mata kuliah ia rela naik taksi.


Ia menatap ke luar kaca di taksi itu, memandangi pepohonan yang rimbun untuk menenangkan pikirannya.


Bukan nya ke fakultas seperti saat ia pamit tadi, ia malah menuju Cafe yang biasa ia datangi bersama Randy. Sebelum turun tak lupa ia memakai kaca mata hitam untuk menutupi mata sembab nya.


Salah seorang karyawan Cafe yang mengira dirinya dan Kakak nya sepasang kekasih itu menyapa nya dengan hangat.

__ADS_1


" Pagi Nona cantik, tumben nih pagi-pagi sudah kesini, kok tidak sama pacar kamu yang ganteng itu," Ucap karyawan Cafe itu sambil celingukan mencari Randy.


Vania hanya menggelengkan kepalanya lalu duduk di kursi paling ujung.


Kakak karyawan Cafe yang selalu bermake-up up tebal itu mendatangi Vania sambil membawa daftar menu.


" Seperti biasa saja kak," Ucap Vania kepadanya.


" Siap, kenapa nih kok murung banget, biasanya ceria kalau kesini, apa jangan-jangan lagi marahan nih," Ucap kakak itu sambil mencatat pesanan Cake favorit nya beserta minuman Jasmine tea hangat.


" Kenapa ya kak, laki-laki itu susah di tebak isi hatinya," Ucap Vania menatap lawan bicaranya.


Kakak Karyawan Cafe itu malah tersenyum.


" Sebenarnya bukan masalah dia laki-laki atau perempuan, tergantung komunikasi nya sih, mungkin saja kamu sudah mengerti isi hatinya, hanya saja kurang berkomunikasi dengan nya," Ucap lawan bicaranya yang sudah berpengalaman.


" Wah, kakak sudah sangat berpengalaman ya," Ucap Vania memujinya.


" Lain kali kalau butuh saran, kakak siap membantu sebisa kakak," Ucap wanita bermake-up tebal itu lalu berlalu membawa catatan pesanan nya, Vania mengangguk sambil memberikan acungan jempol pada kakak karyawan Cafe itu.


Gadis itu memikirkan ucapan lawan bicaranya barusan, apakah benar karena kurangnya komunikasi antara ia dan kakaknya.


" Iya Halo," Ucap seorang perempuan dari sebrang.


" Hana, hari ini aku bolos kuliah, bisa tidak kamu nemenin aku bolos juga di Cafe, biar aku yang traktir deh," Ucap Vania sambil menempelkan handphone di kuping nya.


" Dasar, anak bandel tukang bolos, sekarang malah ngajak-ngajak," Ucap Hana.


" Aku tunggu ya Hana cantik," Vania langsung mematikan telpon nya.


Meskipun sahabat nya itu kesal mendengar ia bolos waktu di telpon, tapi ia tetap datang menemuinya.


Hana datang ke Cafe yang di tunjukan Vania, sebelum ia menghampiri sahabat nya itu, ia juga celingukan seakan mencari seseorang.


" Princess Vania, yang hari ini pengen bolos tapi ngajak-ngajak luarrr biasa...," Ucap Hana yang menghampiri lalu duduk di depannya.


" Eh, kamu nggak sama kakak kamu Van," Hana masih celingukan, ternyata yang ia cari dari tadi adalah Randy kakak Vania.


Sahabatnya itu hanya menggelengkan kepalanya lesu. Hana yang melihat tingkah aneh sahabatnya langsung menghujani nya dengan banyak pertanyaan.

__ADS_1


" Kamu kenapa sih, mana make kacamata hitam segala, sok-sok'an jadi idol korea," Ucap Hana sedikit sewot.


Vania langsung membuka kacamata hitamnya kepada Hana, terlihat lagi mata bengkak yang begitu sembab sehabis menangis.


" Iya udah, pakai lagi," Hana langsung menyuruh nya memakai lagi kacamata hitam itu.


" Kenapa Van, cerita sama aku," Ucap Hana kepada sahabat baiknya.


" Kak Randy Han," Vania mengucapkan nama yang membuatnya terluka.


" Kenapa sama kakak kamu," Hana yang mendengar nama Randy disebut langsung panik.


Vania menghela nafas panjang dahulu sebelum melanjutkan ceritanya.


" Kak Randy bukan kakak kandung ku, aku mendengar percakapan Ayah dengan nya semalam, ternyata hanya aku yang tidak tahu itu," Ucap Vania merasa murung lagi.


" Apa!!!," Hana langsung mengeraskan volume suaranya terkejut yang membuat orang di sekitar nya menoleh ke arah mereka.


Vania langsung menempelkan jari telunjuk ke bibirnya agar sahabat nya itu mengecilkan volume suaranya.


Hana langsung membekap mulutnya agar segera rileks.


" Kamu adalah sahabat terbaikku Hana, kamu bisa kan memegang janji padaku dan merahasiakan curahan hatiku..?," Ucap Vania yang terlihat lebih murung.


Sahabatnya itu mengangguk dengan cepat.


" Sebenarnya bukan karena hal itu yang membuatku hatiku sedih, justru sebaliknya aku merasa sangat bahagia menerima kenyataan itu, karena aku menyukai kakak ku sendiri," Ucap Vania yang menitikkan air matanya.


Hana memekik lagi.


" Hah!!!," Sahabatnya itu terkejut lagi yang membuat orang disekitarnya memandang mereka untuk kedua kalinya, karena sedikit risih dan terganggu.


Hana yang tak enak hati langsung meminta maaf dengan menggabungkan kedua tangan nya sambil mengangguk tak enak.


" Astaga Vania, kamu menyukai kakak kamu sendiri, ya sebenarnya nggak apa-apa sih toh kalian bukan saudara kandung, terus... yang membuat kamu sedih," Ucap Hana yang ingin mendengar kelanjutan nya.


" Malam itu aku mengungkapkan isi hatiku padanya, tapi dia tetap menganggap ku sebagai adiknya," Vania yang mengingat kejadian semalam langsung meneteskan air matanya lagi.


Ia kini merasakan apa yang di rasakan nasib para wanita yang menyatakan cintanya pada Randy Pratama Widjaya.

__ADS_1


Terimakasih banyak atas dukungannya ya kak... menerima kritik dan saran yang membangun


__ADS_2