
Rumah sakit swasta yang terletak di barat ibukota menjadi tempat Randy dirawat, baik Helena dan kedua orang tua Randy masih menunggu jam dilaksanakan nya operasi.
Tepat pukul setengah delapan malam, dua dokter dan tiga orang perawat berpakaian hijau mendatangi kamar Randy dan memindahkan nya ke ruang operasi.
Baik Bu Sandra dan Helena mengiringi perjalanan Randy menuju ruang operasi, hingga seorang perawat memberi batasan pengantaran hingga di ambang pintu lalu menutup pintu itu.
Tak berselang lama lampu merah dinyalakan pertanda operasi akan segera dimulai, kedua wanita itu nampak begitu tegang menunggu jalan nya operasi sedangkan pak Rahardian, ia memilih bersujud dan berdoa di tempat suci memohon keselamatan anaknya.
Disaat Randy sedang berjuang melewati operasi nya ada seorang wanita yang masih tak tahu dan menunggu di gerbang kampus nya yang telah di tutup.
Ia terus menunggu kedatangan mobil sport putih kakaknya yang dari tadi tak kunjung datang menjemput nya, bahkan ponselnya juga tak aktif untuk dihubungi.
Hingga sebuah pesan masuk yang memberitahu nya namun bukan dari Randy.
Vania kamu dimana, sayang..? jika kamu sudah pulang lekas istirahat lah, Kami sedang ada acara diluar..
Tertera mama nya yang mengirim pesan singkat itu, Vania menghela nafas panjang mengatur ritme nafasnya yang mulai bergemuruh karena tersulut emosi.
Bisa-bisa nya orang yang dari tadi ditunggu nya tak memberi kabar ternyata malah enakan sedang pergi ke sebuah acara, padahal ia sudah menunggu diluar lebih dari 3 jam lamanya.
Dengan sedikit menggerutu Vania menghentikan taksi dan melaju pulang kerumah, di rumah ia disambut oleh bi Anum yang nampak sudah menunggu Vania.
Tanpa berbasa-basi Vania menemui bi Anum dan bertanya.
" Kemana mereka bi, kenapa Vania tidak di ajak..?," Ucap Vania yang terlihat begitu kesal.
Bi Anum langsung gelagapan dibuatnya, ia bingung harus berkata apa, karena wanti-wanti dari majikannya untuk jangan memberitahukan Vania dahulu sampai situasi menjadi kondusif.
" Anu, Pergi ke pertemuan Non, bibi juga kurang paham dimana," Ucap bi Anum yang nampak terbata dengan spontan menjawab.
__ADS_1
Vania yang mendengar jawaban dari bi Anum langsung naik ke lantai atas dan menutup pintu kamarnya dengan kasar.
Ia masih terus mencoba menghubungi Randy, namun lagi-lagi ponsel itu tidak aktif, Vania begitu gelisah bahkan hatinya sangat tidak tenang.
Namun Firasat nya kali ini seperti tidak biasanya, saat ia hendak menyambung kan ponselnya ke dalam chargeran tiba-tiba ia menyenggol botol parfum kacanya yang kemudian terjatuh dan pecah.
Semerbak harum chainmonise di padu aroma citrus tercium pekat diruangannya.
Namun saat botol parfum itu pecah tiba-tiba perasaan di hatinya menjadi tidak karuan, seperti sebuah perasaan kehilangan.
Vania terkejut lalu memunguti pecahan botol yang berantakan di lantai kamarnya.
" Auww..," Vania memekik karena pecahan kaca itu melukai jarinya saat ia mencoba memungutinya.
Darah segar menetes di ibu jarinya seolah memberi pertanda buruk yang membuat hatinya bergetar.
Dan dimeja operasi, tiba-tiba para dokter dan perawat nampak sibuk menangani sebuah kendala dalam operasi yang membuat Monitor ICU tiba-tiba berjalan begitu cepat yang menandakan pasien dalam keadaan mengkhawatirkan.
Hingga perkiraan waktu tiga jam berlangsung nya operasi menjadi empat jam setengah lebih lama. Mereka yang menunggu di luar masih berharap dalam kecemasan, bahkan Helena terus mondar mandir tak karuan. Hingga akhirnya lampu ruangan Operasi dimatikan, nampak seorang dokter keluar memberi informasi kepada keluarga pasien setelah hampir lima jam operasi berlangsung.
Vania yang semalaman menunggu keluarga mereka pulang sampai tertidur di sofa ruang tamu. Rupanya hari sudah berganti menjadi pagi saat ia bangun, terlihat mobil Ayahnya baru saja masuk ke dalam garasi.
Vania yang melihat kedua orang tua nya baru saja masuk kedalam rumah langsung di cegat olehnya.
" Mama sama Ayah kok baru pulang, Apa kalian tidak pulang semalaman, di mana kak Randy," Ucap Vania nampak mencari Randy melihat ke arah belakang datang nya Bu Sandra dan pak Rahardian.
" Iya Ayah dan mama menginap di hotel karena ada pertemuan dengan rekan bisnis," Pak Rahardian menimpali pertanyaan anaknya lantas berlalu menuju ke kamarnya.
Vania yang kebingungan mencari suaminya lantas menarik tangan mamanya yang hendak mengikuti langkah suaminya.
__ADS_1
" Ma, dimana kak Randy..?," Ucap Vania gantian bertanya kepada mamanya.
Bu Sandra nampak bingung harus berkata apa, matanya terpejam sejenak nampak sayu karena semalaman tidak tidur.
" Nanti mama jelaskan ya sayang, mama lelah mau istirahat sejenak," Ucap Bu Sandra mencoba meminta pengertian anaknya yang malah semakin kebingungan.
Vania terduduk di sofa mengkerut kan keningnya, ada apa sebenarnya kenapa kedua orangtuanya tidak menjawab pertanyaan nya.
Dan kenapa Randy tidak ikut serta pulang bersama jikalau mereka menginap di hotel bersama, bahkan handphone nya hingga sekarang tidak kunjung aktif.
Tiba-tiba ia teringat akan perkataan Randy kemarin malam bahwa ia akan menemui Helena hari ini, " Ahh.." Vania mendengus kesal dengan pemikiran nya yang berfikir buruk tentang suaminya.
Apakah ia tidak jadi mengatakan yang sebenarnya, atau malah memilih bermalam bersama dengan Helena seperti saat di pantai Anyer waktu itu.
Karena tak ada yang bisa ia tanyai selain menunggu kedua orangtuanya, akhirnya Vania menunggu kedua orang tua nya hingga keluar dari kamar, sengaja ia tak berpergian kemana-mana dan membolos kuliah untuk memilih standby di rumah.
Tepat pukul 2 siang kedua orangtuanya nampak keluar kamar dengan pakaian Rapi nampak untuk berpergian lagi.
" Lho, Ayah sama Mama kemana lagi, kok rapi sekali," Ucap Vania yang melirik tangan mamanya menenteng tas.
" Iya Vania, Ayah dan Mama ada urusan, kamu di rumah saja ya," Ucap pak Rahardian lantas mengarahkan istrinya untuk segera pergi bersama.
Namun kali ini Vania tidak mau begitu saja terima, ia sudah menunggu seharian untuk bertanya kepada orangtuanya tentang keberadaan Randy, namun malah Jawaban menghindar lagi yang ia dapatkan.
" Katakan sama Vania, dimana kak Randy, kenapa kalian seolah menutupi keberadaan nya, sebenarnya apa yang terjadi," Vania menghadang kedua orangtuanya agar tidak dapat masuk kedalam mobil.
Pak Rahardian akhirnya menjawab pertanyaan anak perempuan nya begitu terdesak.
" Randy ke Itali dengan Helena karena ada perjalanan bisnis, dan belum tahu kapan pulangnya," Ucap pak Rahardian yang membuat dengkul Vania seketika langsung lemas.
__ADS_1
" Itali, kenapa kalian begitu tega padaku, aku sudah menjadi istri sahnya, kenapa membiarkan begitu saja ia pergi bersama wanita lain," Ucap Vania begitu kecewa dengan kedua orangtuanya.
" Vania tidak mau tahu, Vania ingin menyusul kak Randy," Ucap Vania meneteskan air mata di pipinya.