
Pagi itu cuaca cerah,bulek Luluk meminta Gendis mengantar sarapan untuk paklek dikebun,dengan naik sepeda yang sudah berkarat,Gendis menaiki jalan tanjak dan berliku dengn membawa rantang di keranjangnya.Gendis senyum-senyum sendiri melihat samping kanan kirinya bunga-bunga bermekaran,"ndiiiiis....ndook,ati-ati lihat jalan kalo naik sepeda!"teriak lelaki tua sambil memikul rumput di pundaknya."nggiiih mbah..."sahut Gendis sambil terus melaju.di tepi sebuah ladang yang hijau dan sejuk Gendis berhenti memarkir sepedanya,lalu berjalan dengan santai sambil memegangi daun-daun teh dikanan dan kirinya.Ada banyak anak muda yang bekerja di ladang teh,mereka sangat senang saat Gendis datang membawa bekal untuk paklek Rusmin."walah...walah...gendis.....ayune....heem" sapa salah satu pemuda."awas ndiis,ati-ati...banyak uler..."sapa lagi di kirinya,kemudian datang lelaki menghampiri,dia menutup sebagian wajahnya karena semua pekerja rata-rata menutup wajah untuk melindungi wajahnya dari sengatan matahari.laki-laki itu membuka topi capil dan maskernya."Gendiis...tunggu too...."teriak lelaki tampan itu,sambil berlari karena Gendis berlari kecil."ayoooo...kejar...ahmad...!"teriak Gendis sambil melambaikan tangan ke arah lelaki yang ternyata bernama Ahmad.Tiba-tiba "braaak....brook" gendis terjatuh dan rantang ditangan nya ambyar,"masyaAllah ndiis,ati-ati too...."kata Ahmad sambil menolong Gendis disusul beberapa orang disekitar kebun."piyee...rantange??"tanya salah satu bapak-bapak yang artinya gimana rantangnya??"ambyar leeek,wes biar tenan ki...gendis....bar tenan we ndis"sahut lelaki satunya.wajah Gendis berubah muram,"apa yang harus kukatakan sama paklik?"gumam Gendis dalam hati."ndiis...apa ga sebaiknya kamu pulang dan ganti dengan rantang yang baru aja?"tanya Ahmad."ngga papa mad,ini untungnya ga kotor,cuma lauk sama nasinya jadi satu"jawab Gendis sambil meneliti isi rantang.Gendis berjalan dan diikuti Ahmad kearah satu orang yang berkulit hitam dengan badan tegap dan wajahnya cukup sadis."eehm...paklek...maaf tadi rantangnya jatuh,nasinya campur lauk jadi satu"kata Gendis pelan.paklek Rusmin langsung memasang wajah tidak suka dan menghampiri Gendis,"kamu ini jalan pakai dengkul apa pakai mata?ga pernah beres kerjanya??sana pergi..atau kutumpahkan nasi ini kewajahmu?"jawab paklek Rusmin sambil mendorong kepala Gendis kebawah dengn kasar sampai Gendis hampir terjatuh ke depan,Gendis hanya diam dan berbalik."oalah miiin,ponakanmu kamu apakan??kasian miin"teriak lelaki tua yang sedari tadi melihat dari dekat."kalo kasihan sana...kamu biayai hidupnya,puluhan tahun dia numpang hidup dirumahku,apa aku dapat upahnya?cob kamu jadi aku,sanggup ora??"teriak paklek Rusmin di kejauhan,seolah ingin semua orang mendengar."buat makan aku dan keluargaku saja susah,aku harus menghidupi anak orang,ini...siapa yang mau??ambil..."teriak sekali lagi."paklek...jangan gitu to ngomongnya,Gendis juga manusia,mbokyao dijaga perasaannya!"sahut Ahmad."o.....kamu mau membela??mau jadi pahlawan??laa..kalo kamu mau sana nikahi terus hidupi,aku looh wes males,sudah muak...dia jadi benalu dirumahku,sana nikahi...gak mau too??"jawab paklek Rusmin tegas."nanti kalo aku sudah lulus kuliah dan kerja di kantor utama pak Firdaus akan kunikahi Gendis lek...ta ambil dari rumahmu"jawab Ahmad sambil membentak.Gendis segera pergi dari kebun dan disusul Ahmad."wong ra genaaaaah"teriak paklik Rusmin.Ahmad memandangi wajah ayu Gendis dari samping,begitu cantik paras Gendis,"kog kamu senyum ndis?"tanya Ahmad heran."emange kamu beneran mau nikahi aku??"tanya Gendis balik sambil menunjuk wajahnya."beneran lah...aku kan sayang sama kamu ndis,tunggu aku lulus kuliah ya...aku akan menikahimu..."kata Ahmad meyakinkan sambil menyentuh tangan Gendis tapi Gendis tetap berlari dan menoleh ke arah Ahmad,Gendis berlalu dan pulang