
Sore itu pulang dari kantor,Firdaus langsung pulang mandi dan bergegas mengantar Gendis kerumah Bulek Luluk.
Di dalam mobil Gendis menatap Firdaus yang sedang mengemudi mobilnya,"kenapa lihat....lihat....?mau lagi....sekarang.....disini....?"tanya Firdaus dengan senyuman genit."makasih....ya....akhirnya aku bisa pulang....makasih juga oleh..oleh buat bulek dan tetanggaku...."kata Gendis girang.
__ADS_1
"heeeeeem....."jawab Firdaus sambil melirik istrinya.
"Assalamualaikum....buleeek..."sapa Gendis di depan pintu."mbaaaaak gendiis..."teriak Arya dari dapur dan berlari ke pelukan Gendis."eeeeeeh...eeeeh...hati....hati....."kata Firdaus tiba-tiba menahan tubuh Arya sambil memegangi perut Gendis.Gendis melotot,Firdaus melepaskan tanganya.Arya memeluk hangat tubuh Gendis.
__ADS_1
"astagaaaa...ini too pak Firdaus...haladalaaa..baguse.....ternyata masih muda....paak..saya petani jenengan pak...."kata Yu Suminah sambil menyalami tangan Firdaus dan mengelus-elus tanganya.Firdaus hanya diam menikmati pujian Yu Suminah.
"beruntung ya Gendiis....."bisik salah satu tetangganya yang masih muda.Gendis melirik mata Firdaus,Firdaus nyengir."oyaa...ini oleh..oleh...nyam.silahkan ambil bulek....ayoo ...ini yang bawa tadi mas firdaus..."kata Gendis sambil menyodorkan satu kresek besar kue kering.semua mengambil bagian satu-satu.
__ADS_1
Tak terasa obrolan begitu panjang kemana-mana,Firdaus mulai bosan karena tidak nyambung dengan obrolan ibu-ibu.Firdaus melangkah masuk ke dapur,dilihatnya perabotan yang sudah hampir rusak,dapur yang sempit."kamarnya...satuu....dua....tiga..."kata Firdaus menghitung kamar yang ada dirumah bu Luluk."kamar Gendis yang mana ya..."gumam Firdaus dalam hati penasaran.Gendis memukul pundak Firdaus pelan."mereka sudah pulang...?"tanya Firdaus sambil menengok ke depan.Dilihat diruang tamu sudah sepi."kamarmu yang mana....?"tanya Firdaus.Gendis mengernyitkan dahinya "mau ngapain....ngawur aja...jangan mesum...."kata Gendis nyengir sambil melangkah ke ruang tamu.Namun,tangan Firdaus menghalangi tubuh Gendis."beneran aku tanya mana kamarmu...?kamu selama ini tidur sama sulis...?"tanya Firdaus memaksa."gendis ngga punya kamar pak....dulu Rusmin tidak mengijinkan gendis tidur dikasur...."sahut bu Luluk.Firdaus tak kuasa menahan amarah dan mengepalkan tanganya."Rusmin suamiku sangat kejam sama gendis pak...kalo semalam dia ngga pulang...saya suruh dia tidur dikasur sama sulis..tapi kalo Rusmin dirumah..gendis tidur di tikar itu...."kata Bu Luluk sambil menunjuk tikar tipis yang sudah sobek.Firdaus hanya menggeleng dan hampir meneteskan air mata."buleeeeeek...jangan gitu....paklek sudah baik mau mengurusku dari kecil...aku berterimakasih..jangan begitu..."kata Gendis sambil mengusap punggung Bu Luluk yang menangis mengingat perlakuan buruk suaminya kepada Gendis."biarkan suamimu tau ndook bagaimana dulu hidupmu..."jawab Bu Luluk meneteskan air mata."apa dulu pak rusmin sering mukul Gendis...?"tanya firdaus pelan."bukan hanya pukul pak...tendang perut nya di pukul kepalanya...di seret sampai ke jalan itu....dan ini...pak Firdaus tau ngga ada bekas luka di punggung Gendis ini dulu pernah dilempar setrika...."kata bu Luluk tak kuasa menahan tangisnya."buleeeeek...sudah buleeek...kenapa bulek ingat..ingat..itu...ga baik buat kesehatan bulek..."kata Gendis menyeka air mata buleknya,dan menuntun agar buleknya duduk.Firdaus menahan tangisnya."luka di punggung...?kenapa aku tak menyadarinya...?apa luka yang seperti bekas terbakar itu...?"kata Firdaus dalam hati sambil menatap wajah Gendis yang menahan tangis."gendiiis..ingin sekali aku memelukmu saat ini...kenapa hidupmu menderita seperti itu...."guman Firdaus dalam hatinya."entah kemana perginya rusmin...sebagai istrinya saya sangat bahagia dia pergi..semoga dia ga akan kembali....selain mukuli gendis saya dan sulis juga dipukul...namun tidak sesering ke Gendis...Gendis..sudah sangat menderita pak..saya nitip gendis nggih....jangan sakiti dia..."kata bu Luluk memelas.Arya yang mendengar ikut menangis dan memeluk tubuh Gendis."ikutlah bersama kami kerumah saya bu luluk..."kata Firdaus mengagetkan Gendis."benarkaaah...."tanya Gendis berbinar."iyaa...."jawab Firdaus singkat."eeeehm...maaf ..bukanya nolak...tapi disini saya sejak kecil..sudah nyaman.."jawab bu Luluk menolak.