Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 21: Masa lalu


__ADS_3

Pov Rina


Aku tahu ini akhir dari hidupku, namun setidaknya sekali saja aku ingin melakukan hal yang benar. Saat ini bulan bersinar terang, cahaya rembulan menerobos ribuan bayangan hitam yang menutupi kediaman ini, kediaman keluarga Wijaya yang setiap bulan nya mengadakan ritual besar.


Bulan yang bersinar terang membantu ku sedikit menelusuri jalan setapak, menjalankan tugas ku sebagai seorang abdi melayani keluarga ini dan sampai kapan pun seperti itu.


Omah dongko bersinar terang dari ribuan lilin, halaman telah sepi tidak terlihat tanda tanda adanya seseorang. Malam ini aku harus menyelesaikan tugas terakhir ku, tidak ada waktu lagi untuk menunggu , simpul pati harus di longgarkan. Aku akan memberikan sedikit waktu untuk mereka, Sampai mereka benar benar siap.


"Nyai.. di cari ndoro putri"


Seorang abdi dari dalam omah dongko mengejutkan ku, ia terlihat kacau dengan pakaian yang berantakan.


"Kenapa pakaian mu?"


"Ampun nyai, saya ndak berani jawab."


Abdi itu bersimpuh di tanah , ia tidak mau mengatakan kebenaran. Meskipun sumi tidak mengatakannya, aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Bangun!! Besok saat menjelang fajar pergilah kerumah mbah Slamet. Bawa yang Minggu lalu nyai titip kan!" ucap ku kepada Sumi.

__ADS_1


Sumi berdiri ia sedikit membungkuk mengiyakan perintah ku, lalu setelah nya ia pergi meninggalkan ku sendiri di omah dongko.


Sekarang giliran ku menyelesaikan apa yang sudah di titipkan tuan Sardi, kegagalan yang dulu tidak boleh terulang lagi. Aku masuk ke dalam omah dongko menelusuri lorong kayu lalu berhenti di muka pintu yang di kunci.


Pintu kayu setinggi 2 meter penuh lumut dan kerak, pintu ini memang sudah puluhan tahun tidak di buka, sebuah rahasia yang di simpan rapat-rapat dari keserakahan manusia. Aku ingat dahulu tuan sardi menitip kan sebuah kunci dan meminta ku menjaga ruangan ini dan tidak mengizinkan siapapun masuk.


Namun ini sudah bertahun tahun, apakah mungkin larangan itu masih berlaku. Entah apa yang ada di dalam sana, aku harus memastikan nya sendiri memuaskan rasa penasaran yang menumpuk selama bertahun-tahun.


Pintu tua berderit beriringan dengan nyaliku yang mulai menciut, aroma apak meluap memenuhi rongga hidung. Ruangan ini sangat gelap bahkan sudut sudutnya tidak terlihat sedikit pun, aku mengambil lilin di pintu depan untuk membantu penerangan, cahaya kecil cukup untuk menampakkan seisi ruangan.


"Ruangan apa ini?"


Lukisan ini mengingatkan ku pada kenangan 21 tahun yang lalu saat tuan sardi masih hidup , tepat nya pada tahun 1981 ia pernah mengajak ku ke tempat ini.


Kenangan 21 tahun yang lalu,


Hujan gerimis di pagi hari, awan kelabu menutup kediaman keluarga wijaya dalam kedukaan. Saat itu usiaku masih 19 tahun. Aku di bawa ke tempat ini ketika berusia 9 tahun. ibuku adalah seorang Gundik yang setiap malam pergi dengan pelanggan nya, saat itulah tuan sardi datang menawari sebuah harapan.


Hari itu adalah hari dimana tuan sardi kehilangan istrinya, ia menggelar semacam ritual untuk membebaskan jiwa istrinya dari persekutuan nya dengan bolo laru. Namun sayangnya ritual itu gagal, bolo laru sangat marah ia mencabik cabik istri tuan sardi di depan matanya sendiri.

__ADS_1


Tuan sardi tak kuasa menahan tangis saat melihat istri yang begitu ia cintai meregang nyawa, ia bersumpah pada diri sendiri akan menghabisi ingon nya tersebut.


Bertahun tahun sardi Wijaya mencari cara agar persekutuan nya dengan iblis ini segera berakhir, namun sayang nya tidak ada yang berhasil, sekali masuk dalam kegelapan maka selamanya akan di perbudak oleh kegelapan itu sendiri. Hingga suatu hari tuan sardi menemukan sebuah cara agar persekutuan nya dengan iblis ini dapat berakhir, ia pergi ke alas ruwah tempat awal ia membuat perjanjian, ia membawa beberapa abdi nya termasuk aku untuk membantunya mempersiapkan ritual.


Di dalam rumah kayu di tengah tengah alas Ruwah, kami menggelar ritual kecil untuk pelepasan ikatan persekutuan nya. Berjam jam bahkan berhari hari tuan sardi tidak pernah pergi dari tempatnya, ia duduk di dalam lingkaran yang terbuat dari bunga tujuh rupa.


Tugas kami adalah menjaga lilin tetap menyala, lilin itu adalah jaminan atas nyawa kami yang tengah melakukan ritual. Kami tidak di perbolehkan meninggalkan ruangan apapun kondisi nya, meskipun di ganggu sekali pun kami harus tetap teguh demi sebuah kebebasan.


Dihari terakhir ritual, tuan sardi meminta kami untuk membakar sebuah potongan kain yang berlumuran darah, namun yang aneh nya ketika kain itu menyentuh api, tuan sardi meronta ronta kesakitan lalu memuntahkan darah hitam. Kami segera berhenti namun tuan sardi Sangat marah ia menyuruhku menuntaskan membakar kain itu sampai habis.


Kain telah terbakar, raungan dari seorang kepala keluarga Wijaya terdengar menggema di seisi hutan, suara pilu seorang manusia yang tengah meregang nyawa. Tuan sardi terus terusan meronta ronta mencakar cakar tubuh nya sendiri hingga kulit kulit nya mengelupas, Darah hitam tak henti hentinya keluarga dari seluruh indera nya.


Benar saja tak lama setelah kain itu terbakar habis, suara tuan sardi tak terdengar lagi. Sardi Wijaya tergeletak di lantai dengan bersimbahan darah, meskipun baru saja meninggal tubuhnya membiru dan mengeluarkan aroma daging yang terbakar.


Aku bahkan masih ingat kata kata terakhir nya,"Jangan pernah kembali!" ia berbicara terbata bata dengan raut wajah menahan sakit, ia mencengkram kuat lengan ku berusaha menyampaikan pesan, namun sayangnya sebelum ia menyelesaikan kata katanya nyawanya telah meninggal tubuh fana tersebut.


Aku tidak tahu apa yang kulakukan itu benar atau salah,namun setelah itu kami benar benar terbebas dari bolo laru, penyesalan dari seorang suami yang lalai dalam menjaga keluarga nya membuat ku sadar kebahagiaan yang sebenarnya bukan lah harta dan tahta namun cinta dan kedamaian hati.


Namun entah mengapa Adhitama memulai persekutuan kembali dengan bolo laru setelah pengorbanan yang dilakukan ayah nya, bahkan ia tega menghabisi keluarganya sendiri. Semenjak ia bersekutu dengan iblis Wijaya banyak berubah, dia berubah menjadi manusia berhati dingin yang haus akan kekuasaan, ia ingin menjadi satu-satunya yang menguasai alas ruwah.

__ADS_1


Sudah lama aku tidak datang ke alas ruwah, entah apakah masih semenyeramkan dulu ataukah telah banyak berubah, namun yang pasti alas ruwah selalu menyimpan misteri, misteri asal muasalnya dan misteri misteri lain yang tidak diketahui manusia biasa. Bahkan orang orang yang memiliki ilmu kebatinan belum tentu juga dapat menguak misteri dari tempat mistis tersebut.


__ADS_2