Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 23:Hutan


__ADS_3

Seorang gadis membelah pekat nya hutan dengan senter kecil yang berkedip kedip, ia berjalan dalam kegelapan hanya dengan bermodalkan tekat. Dirinya sudah terbiasa dengan hal semacam itu, berada dalam kegelapan, di temani teror dari mahkluk tak berbentuk.


Sumi belum terlalu lama menjadi abdi keluarga wijaya, ia sebelumnya hanya gadis desa yang setiap hari hidup dalam kesederhanaan. Kehidupan nya yang damai tak bertahan lama, muncul sebuah masalah. Ayah nya yang telah meninggal memiliki banyak hutang judi di rentenir, Sumi sebagai putri tunggalnya harus bekerja keras melunasi hutang hutang mendiang ayahnya.


Saat itulah ketika masa masa terpuruknya mbak rina mendatangi sumi dan membawanya masuk ke dalam kediaman keluarga Wijaya, dia disumpah dengan nyawa sebagai jaminannya, dan akan mengabdikan sisa hidupnya untuk melayani keluarga ini.


Sumi mendahului fajar seperti yang di katakan mbak rina, dia membawa sebuah kotak yang ia bungkus dengan kain berwarna merah. Perjalanan nya kali ini hanya untuk mengantarkan barang yang ia bawa ke tempat tuan nya, dia sendiri tidak tau menahu tentang isi dan fungsinya. Sumi hanya sebagai pengantar dan terkadang menyampaikan pesan secara rahasia.


Tugas ini di luar dari kewajiban nya sebagai abdi, ia sering di perintahkan oleh mbak rina untuk melakukan sesuatu diluar kewajibannya.


Malam masih panjang, ia terus berjalan melewati semak semak belukar diantara pohon pohon yang menjulang. Dia sendiri tidak tau alasannya mengapa harus mengantar kan nya sebelum fajar. Sumi sempat berhenti sejenak saat mendengar suara yang cukup menggangu, ia mendengar tangisan bayi samar samar.


Sumi tidak lah sebodoh itu, tangisan itu hanya lah pengalihan, sumi menyadarinya semenjak ia keluar dari tanah milik wijaya. Langkahnya terasa berat seolah olah ada yang tidak rela ia keluar dari kediaman itu.


Setengah jam kemudian sumi di datangi sesosok mahkluk yang menghadang nya di depan, mahkluk itu menawari sumi agar mau barter dengan nya. Mahkluk itu menjanjikan akan memberikan apapun yang diinginkan nya asalkan sumi mau memberikan kotak tersebut.


"Nduk.. oleh mbah njalok seng mbok gowo kui." ( Nak.. boleh mbak minta yang kamu bawa itu.) Sekarang muncul nenek nenek yang mencegat langkah sumi.


"Mboten Mbah!" (Nggak Mbah!)

__ADS_1


Sumi mengabaikan mahkluk itu terus melanjutkan perjalanannya dan tidak goyah sedikitpun dengan gangguan gangguan yang ada.


...***...


Matahari menyingsing menyinari hutan yang dingin semalaman, cahaya mentari menerobos sela sela dedaunan yang berembun. Sumi masih belum sampai ketempat tujuan, ia berhenti di pinggiran hutan menyandar kan tubuh nya pada sebuah pohon, matanya melirik jauh ke kedalaman hutan tempat yang sebelumnya ia lalui, di hadapannya hanya ada pilar pilar tinggi yang melindungi isinya dari tangan tangan kotor manusia, manusia manusia serakah yang merampas segala nya dari alam. Jangan salahkan alam jika ia mengambil kembali apa yang telah dirampas secara paksa.


Sumi menghela nafas, ia berdiri lalu melanjutkan perjalanannya. Hidupnya kini tak lebih baik dari burung yang terkurung dalam sangkar, sewaktu-waktu jika dia sudah tidak berguna tuan nya dapat membunuhnya kapan saja.


Sumi memasuki sebuah desa, ini adalah desa yang selalu ia lewati ketika ingin menuju ke kota sebelah, warga desa sangat ramah dan begitu akrab dengan sumi karena Hampir setiap kali datang sumi selalu memberikan bantuan untuk warga yang membutuhkan.


Sumi bertemu dengan seorang warga yang tengah mencari pakan untuk ternak nya, ia menyapa sumi seperti biasa saat bertemu.


Lelaki paruh baya itu menghentikan kegiatannya, ia menoleh kearah suara yang nampak familiar.


"Sumi, Lama ndak nampak, kemana aja gak pernah lewat lagi?"


"Ndak pak, sumi sering kok lewat sini mungkin pak Bahrudin saja yang tidak sadar." jawab sumi sambil tertawa kecil.


Lelaki paruh baya itu melirik ke arah barang bawaan sumi, ia penasaran akan sesuatu."Ah nak sumi, ini apa yang di bawa. Biasanya bawa dua kotak kenapa cuma satu hari ini?"

__ADS_1


"Bukan apa-apa pak, titipan dari majikan saya untuk dibawa ke kota. Pak Bahrudin ingin titip sesuatu barangkali?"


" Ndak usah nak sumi."


" Kalau gitu saya duluan ya pak takut kesiangan."


" Eh iya nak sumi barang nya jangan sampe kebuka ya, aura nya gelap sekali bapak merinding sekali lihatnya. Nanti kalau sudah sampai nak sumi jangan pulang lewat jalan ini lagi, lewat jalan raya saja." Lelaki paruh baya itu memperingatkan sumi.


Sumi tersenyum kecil, ia mengerti apa yang dimaksud kan pak bahrudin. Ia sebenarnya sadar membawa sesuatu yang berbahaya, tapi mau bagaimana lagi dia tidak bisa menolak. Bahaya sudah menjadi bagian dari hidupnya, setiap tugas yang dia bawa mempertaruhkan nyawa semua orang.


"Iya pak, Saya pamit"


Sumi segera pergi melewati jalan desa, jalan itu mengarah kan nya untuk menuruni perbukitan.Di bawah bukit terdapat ladang jagung yang luasnya berhektar-hektar, sumi terpukau dengan pemandangan di depannya, terakhir kali lewat tempat itu hanya tanah kosong yang di tumbuhi rumput liar. Sumi melewati ladang jagung yang telah berbuah, ia sesekali tersenyum mengingat kehidupan masalalu nya saat masih menjadi orang biasa, berkebun di tanah yang tak seberapa, pergi kepasar menjual hasil kebunnya lalu kembali lagi seperti itu setiap hari. Namun semua itu hanyalah kenangan, ia sudah lama tak melihat cahaya, ia tinggal dalam jurang neraka yang setiap harinya hanya melihat kematian.


Sumi berhenti di tengah tengah ladang jagung, dedaunan hijau menghipnotis nya sesaat. Tanpa terasa air matanya jatuh, ia terduduk di tanah berusaha menguatkan diri. Ia menangis cukup lama menyesali segala nya yang telah ia perbuat, meskipun bukan sumi yang melakukan nya namun ia juga ikut terlibat dalam segala perbuatan kotor keluarga wijaya.


Dia menyaksikan sendiri bagaimana gadis gadis muda dilecehkan oleh wijaya, setelah puas Wijaya akan memberikan wanita wanita itu kepada bolo laru untuk santapan nya, jiwa gadis gadis itu terperangkap dan diperbudak oleh iblis itu . Wijaya bukan hanya kejam tetapi juga biadab, ia merenggut banyak nyawa tak berdosa, banyak nyawa tak bersalah namun sedikitpun wijaya tak merasa bersalah.


Sumi berdiri melanjutkan kembali perjalanan nya, langkah nya panjang dengan tempo yang cepat. Ia tergesa-gesa kehabisan waktu, energi gelap di dalam kotak semakin menguat, sumi dapat merasakan kehidupan lain di dalam sana. Ia melihat kotak itu tanpa menghentikan laju jalannya, penuh tekat sekarang ia harus berlari dikejar kejar oleh waktu, waktu yang tidak memberikan sedikitpun kesempatan untuk bernafas, nyawa semua orang dalam bahaya dan dia tidak boleh mengeluh hanya karena sedikit rasa sakit dari masalalu nya.

__ADS_1


Sumi sangat bertekad untuk lepas dari jerat yang mengikatnya, jika cara ini dapat menyelamatkan hidupnya ia tidak akan menyesali nya.


__ADS_2