Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 43: Penyesalan


__ADS_3

Butiran-butiran hujan menetes mengguyur dedaunan, membasahi tanah yang sudah beberapa hari ini mengalami kekeringan. Di pondok itu, di tengah tengah alas Ruwah. Sesosok wanita nampak tergeletak di teras rumah kayu tersebut. Dia bertelanjang kaki, luka luka menganga menghiasi tungkai hingga ke mata kakinya.


Tangannya mencoba meraih gagang pintu yang jarak nya satu meter dari tempatnya saat ini. Wanita itu mencoba merangkak, menyeret kulit kulitnya yang mulai mengelupas.


Guntur menggelar, sang wanita meringkuk menutupi telinga nya dengan kedua tangannya tersebut. Tubuhnya menggeliat menahan sakit yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Perlahan lahan sepasang kaki itu mulai berubah, Sisik mulai muncul mengganti kulit yang sebelumnya telah mengelupas, Semakin lama semakin melebar, kedua kaki itu merapat—menyatu lalu berubah menjadi ekor ular yang sangat besar.


Tidak berhenti sampai disitu, nyatanya sisik sisik itu seperti parasit yang cepat menyebar dan tak akan berhenti hingga inangnya terjangkit seluruhnya. Benar saja, sisik itu benar benar menyebar keseluruhan tubuh. Wanita itu menggeliat, mencakar cakar seluruh tubuhnya dengan jari jari tangan nya. Hingga sisik itu merubah wajah ayunya tak berbentuk lagi.


Wanita itu terbelalak saat melihat tangan nya yang sudah berubah bentuk. Dia ambruk, lalu berubah menjadi seekor Ular sebesar batang pohon kelapa. Sayang nya dia masih belum bisa menerima kondisinya saat ini, merayap kesebuah pohon besar, turun ketanah becek, lalu menghilang di telan hutan belantara.


...***...


Doni duduk diatas sebuah batu di tengah tengah sungai yang mengalir, disekitar nya hanya ada pemandangan hijau yang menghalangi akses menuju sungai ini. Dia termenung, menatap aliran sungai yang melewati kaki nya, darah menetes dari telapak tangan kiri nya.


Beberapa saat yang lalu ia baru saja mendengar sesuatu yang menyayat-nyayat hatinya, bagaimana mungkin tidak, seseorang yang sangat ia cintai mengaku telah dinodai oleh laki laki lain, apalagi laki laki itu adalah majikannya sendiri. Hati nya risau, bahkan luka di telapak tangan nya masih belum bisa menandingi sakit yang tengah menyelimuti hatinya.

__ADS_1


Doni memang belum lama bekerja dengan keluarga Wijaya, namun karena ia sigap dalam menyelesaikan setiap tugas yang diberikan kepadanya, Wijaya secara perlahan menaruh kepercayaan besar terhadapnya. Namun, bagaimana dengan sekarang, apa yang akan di lakukan Doni setelah mengetahui fakta tersebut.


Api dihatinya tentu tak semudah itu di padamkan. Tembok pertahanan nya runtuh, ia berdiri lalu berteriak beriringan dengan air matanya yang mulai menetes. Dia memaki kebodohan nya sendiri, mengepalkan kedua tangannya. Darah di tangan kirinya semakin banyak menetes, Doni akhirnya sadar, dia memotong kain dari pakaian yang dikenakan nya, membalutnya pada luka yang terbuka untuk menghentikan pendarahan nya.


Kaki nya secara perlahan melangkah, melewati bebatuan sungai hingga mendarat di tanah berbatu di pinggiran sungai. Doni telah mengambil keputusan, ia kembali pada titik awal ia melangkah, menatap barisan pepohonan tinggi di sebrang semak semak di hadapannya.


Matahari telah tenggelam seluruhnya, menyisakan sedikit cahaya jingga di langit bagian barat. Namun, cahaya itu tak mampu menembus jajaran rimbunnya pepohonan hutan di hadapannya, ia bertekad kembali, membawa sesuatu yang ia tinggalkan di dalam hutan tersebut.


Sayang nya sesuatu yang ia tinggalkan disana bukan lah barang yang akan baik baik saja meskipun ia tinggalkan, tapi yang tertinggal disana adalah setengah hatinya, sesuatu yang hidup, dan juga dapat menjadi sesuatu yang mati jika dia lambat bertindak.


Doni masih berlari, secepat yang dia bisa. Kini ia menyesali perbuatannya, selagi sempat seharusnya dia membawa Sumi keluarga dari hutan tersebut. Namun, karena pikirannya kacau, dia tidak tau pilihan mana yang seharusnya dia ambil, dan pada akhirnya dia meninggalkan nya disana hanya untuk menjadi makanan binatang buas.


Mungkin memang benar, cinta memiliki kekuatan nya sendiri, bahkan dinding batu sekalipun dapat runtuh dengan kekuatan cinta. Doni menemukan Sumi tergeletak, masih di dalam genangan lumpur , hujan mulai turun, namun Sumi tak tergerak sedikitpun dengan tetesan air tersebut.


Doni membawa Sumi membelah kegelapan, dia percaya dengan intuisi nya, tidak ada yang lebih penting saat ini dibandingkan menyelamatkan nyawa Sumi. Meskipun hatinya masih tidak terima, didalam tubuh Sumi kini tumbuh kehidupan dari darah keluarga Wijaya.

__ADS_1


Samar samar Doni mendengar suara raungan dari arah belakang, sesuatu tengah mengejar mereka, memaksa kakinya untuk melaju lebih cepat. Dalam kegelapan dahan dahan pepohonan tampak bergoyang goyang, meskipun Doni tidak melihatnya, namun ia dapat merasakan sesuatu tengah bergerak melewati dahan dahan tersebut, melompat dari satu pohon ke pohon lainya, berusaha menyusul kecepatan mereka.


Doni tidak punya waktu untuk menerka-nerka apa sebenarnya yang tengah mengejar nya. Namun, didalam hutan segalanya dapat terjadi, bukan hanya binatang buas, para penghuni kegelapan juga bersembunyi disana, saat matahari tenggelam mereka keluar, memangsa apapun dan siapapun.


Langit tertutup awan, bulan dan bintang tidak mau menemani Doni dalam pelariannya. Di saat genting seperti itu, Doni mengambil keputusan cerdas , dia melompat kedalam sungai, begitupula dengan Sumi yang ia bawa. Sumi sudah banyak kehilangan darah, dingin nya air sungai dapat membunuhnya dalam sekejap. Doni melepas pakaiannya, mencoba membuat Sumi tetap hangat dari panas tubuhnya.


Pilihan nya seperti nya tepat, apapun itu yang mengejar nya tadi tak menampakan wujudnya lagi. Doni berenang ke tepian, menyeret Sumi yang masih dalam pelukannya.


Gerimis masih enggan pergi, mengguyur kedua orang tersebut yang sudah sangat kedinginan. Doni berjalan puluhan menit, menuju kearah utara tepat pada sebuah desa terdekat dari hutan tersebut. Jalanan desa yang di dominasi oleh tanah sangat licin, Doni yang tengah menggendong Sumi beberapa kali tergelincir.


Rumah paling pinggir di desa tersebut menjadi satu-satunya pilihan Doni untuk meminta bantuan. Obor di dekat pintu menyala terang, masih belum tengah malam Doni berharap pemilik rumah masih terjaga.


Doni mengetuk pintu rumah beberapa, menunggu jawaban dari siapapun dari balik pintu kayu. Sang pemilik rumah membalas, membuka pintu, terdiam menatap orang asing berdiri dihadapannya.


"Bantu istri ya, Mas! Dia sekarat!" ucap Doni memelas.

__ADS_1


Pemilik rumah tak langsung mengambil tindakan, tentunya dia terkejut dikunjungi orang asing yang tiba-tiba saja meminta pertolongan nya. Namun, ketika melihat kondisi Sumi yang dalam keadaan tidak sadar kan diri, terlebih lagi cuaca diluar yang benar benar dingin , hati sang pemilik rumah melunak. Orang tersebut mempersilahkan Doni membawa Sumi masuk, dia meminta istrinya untuk menyiapkan pakaian bersih untuk mereka berdua.


Doni duduk di dekat pintu, menatap sendu kondisi Sumi saat ini. Bibirnya ingin mengucapkan sesuatu, namun tertahan di tenggorokan, lalu menghilang sebelum kata kata itu keluar. Doni menunduk, menahan tangis, menutupi dari beberapa mata yang tengah menatapnya keheranan.


__ADS_2