
Hari menjelang sore, proses pemakaman mbah Slamet berjalan dengan lancar. Orang orang sudah kembali kerumahnya masing masing, hanya tinggal beberapa saja yang masih menetap untuk membantu Alingga membereskan rumah.
"Mas, sampean susul saja temennya yang dibawa kerumah sakit! Tadi warga yang menemani mengabarkan kondisinya sudah stabil. Biar kami yang urus untuk acara kirim doa nanti malam."saran seorang pemuda yang berusia awal 30-an.
"Ada kabar lain dari rumah sakit?"tanya Alingga penasaran.
"Untuk saat ini hanya itu kabar yang kami terima, mas lebih baik segera kerumah sakit untuk memastikan sendiri kondisinya!"ucap seorang warga yang lain.
Alingga kembali masuk kedalam rumah untuk mengambil tas ranselnya. Ia masuk kedalam kamar tempat penyimpanan buku dan benda benda antik Milik mendiang mbah Slamet. Ia masih penasaran dengan buku bersampul kuning kecoklatan yang Pernah ditunjukkan oleh pemiliknya kepadanya, buku itu masih menarik perhatian Alingga meskipun hanya tergeletak asal diatas meja.
Tanpa banyak berfikir ia mengambil buku itu dan menyimpan nya tepat sebelum ada orang lain yang menyadari nya.
"Mas.." Seseorang mengejutkan Alingga dari arah pintu kamar. Alingga menoleh menatap heran pemuda yang usianya tak jauh berbeda dengan nya.
"Ada polisi di depan!" ucap pemuda itu singkat.Alingga segera berjalan keluar, wajahnya menampakkan ekspresi sedikit kesal.
Di halaman rumah sebuah mobil dinas terparkir dengan kedua pengemudi berdiri tegak didekat nya. Alingga melangkah menghampiri kedua polisi tersebut yang tengah beradu argument dengan salah satu warga.
__ADS_1
"Jika kalian terus terus an seperti ini, kalian bisa di tuntut atas percobaan perusakan barang bukti!" ucap salah seorang polisi berbadan gemuk.Alingga yang sedikit mendengar pembicaraan mereka segera menyela perdebatan tiada ujung ini.
"Pak, biar saya aja yang diskusi sama mereka! Saya minta tolong untuk pengurusan konsumsi nanti malam di atur." bisik Alingga Sembari menarik pundak seseorang yang amarahnya tengah diubun ubun itu. Orang itu tampak paham, ia sepertinya sudah jengkel dengan kedua polisi itu.
Alingga menatap kedua polisi tersebut, dari ujung kepala sampai ujung kaki Alingga mengamatinya dengan seksama. Alingga mendekati salah satu polisi lalu membisikkan sesuatu yang membuat raut wajah keduanya berubah total.
"Saya tau yang Njenengan berdua kerjakan di kebun jati setahun yang lalu! Saya punya saksi, saya juga punya bukti!" ucap Alingga lirih namun memberikan kesan mendalam bagi kedua polisi itu. Keduanya saling pandang tidak percaya, namun mereka masih berhati hati agar tidak menyulut sumbu yang telah Alingga rendam minyak tanah.
"Kami kesini hanya menjalankan tugas! Tolong Sampean jangan menghalangi kami. Saya tidak tahu yang sampean maksudkan itu apa, tapi tindakan kalian ini telah menyalahi hukum!" ucap seorang polisi yang berpostur tinggi.
Lagi lagi Alingga menyudutkan kedua polisi itu," Sangat miris negara kita dikuasai para bedebah seperti kalian, yang menghalalkan segala cara untuk mengwujudkan keserakahan nya. Saya sendiri yang akan menghancurkan lingkaran persekutuan kalian dengar setan. Tunggu saja sampai hari itu tiba!" ucap Alingga dengan tegas. Kedua polisi itu segera kembali ke kendaraan nya dan meninggalkan pelataran rumah mbah Slamet tanpa memperpanjang masalah ini lagi.
Alingga menatap jepit rambut itu nanar, ada kepahitan yang tergambar dari raut wajahnya yang sendu, lagi lagi kenangan masa lalunya mengusik ingatan nya.
...***...
Sebuah lorong panjang dari koridor koridor dirumah sakit Tampak sepi dari pengunjung ataupun dari keluarga pasien yang tengah dirawat inap disana. Lampu lampu yang redup sesekali menampakkan ilusi dari para penghuni yang tengah menanti ketakutannya para manusia.
__ADS_1
Koridor melati tak jauh berbeda, sarang laba laba nampak berantakan dari sudut sudut plafon yang sudah berlumut. Tetesan air hujan memecahkan kesunyian dari seberang jendela, belum lagi suara detak jam dinding yang membuat mas Yanto semakin tak bisa memejamkan matanya.
Kondisinya memang sudah stabil, tapi raut wajahnya menampakkan sebaliknya. Tubuhnya terbaring lemas diatas ranjang rumah sakit, di ranjang sebelahnya terdapat seorang pasien yang sama sama sedang dirawat inap.
Hari telah gelap, wajar saja jika rumah sakit ini sangat sepi. Terlebih lagi peraturan dari rumah sakit ini jam malam hanya berlaku sampai pukul 21.00 malam.Ini adalah malam pertamanya dirumah sakit, nyeri di area perut mulai meradang. Suasana sunyi bukan membuat nya tenang malah semakin membuat was was. Terlebih lagi suara berdecak yang tersamarkan rintik hujan meneror nya sejak ia dipindahkan dari ruang ICU.
Mas Yanto tak berharap banyak hal, ia ingin segera melarikan diri dari apapun yang tengah mengintai nya. Namun, kondisinya tak memungkinkan untuk melakukan itu. Belum lagi ingatan nya siang tadi, ia menyaksikan sendiri bagaimana orang asing itu menghabisi mbah Slamet di depan matanya.
Ada satu hal lagi yang membuat mas Yanto gelisah, pasien di sebelahnya begitu tenang tak mengeluarkan suara sedikitpun, bahkan suara nafasnya pun tak terdengar layaknya orang yang telah mati. Pemikiran negatif seperti itu harus segera ditepis nya, ia harus melewati beberapa malam lagi diruangan ini bersama pasien itu sampai kondisinya benar benar pulih.
Suara berdecak semakin terdengar keras, jantung mas Yanto memompa lebih cepat. Suara itu semakin dekat hingga dia merasakan kehadiran sosok lain dari balik tirai biru di ranjang sebelahnya. Mas Yanto berusaha mengatur nafasnya, ia sebisa mungkin berfikiran positif. Namun sayangnya segala nya menjadi jauh lebih rumit, sosok itu benar-benar nyata, ia berdiri tegak menanti saat yang tepat untuk menghabisi mangsanya.
Hal yang ditakutkan nya benar benar menjadi nyata, saat tirai terbuka sosok wanita berkebaya merah berdiri tegak dengan muka wajah yang sudah tak berbentuk. Mahkluk itu menyeringai penuh kemenangan, ia mulai berjalan mendekati ranjang tempat mas Yanto terbaring.
Tubuh mas Yanto bergetar, belum pernah ia merasa ketakutan sehebat ini. Nyeri diperut nya semakin menjadi jadi, belum lagi saat kuku kuku panjang itu mulai menjelajahi pergelangan kaki nya. Tangan penuh borok meninggalkan bekas menghitam dari area yang pernah disentuh nya. Mas Yanto berteriak kesakitan saat area menghitam itu semakin luas, rasanya seperti terbakar dengan kulit diarea yang menghitam mulai mengelupas.
Jari jari itu semakin luas lagi menjangkau, hampir setengah kakinya mengalami luka bakar yang sangat serius. Mahkluk ini berencana membakar mas Yanto hidup hidup, ia tak memberikan sedikitpun belas kasihan terhadap manusia dihadapannya. Mas yanto sudah tak bisa menahan nya lagi, kesadaran nya mulai menghilang akibat rasa sakit yang melebihi kapasitas yang dapat diterima manusia biasa. ia pingsan tepat di ranjang nya berharap mahkluk itu memberikan sedikit kesempatan agar ia dapat hidup.
__ADS_1