Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 68: End


__ADS_3

Mobil melesat jauh, debu mengepul setiap kali mobil itu melintas. Jalanan hutan mulai berubah, kendaraan berlalu lalang di sepanjang persimpangan dengan hutan itu. Mereka menuju pinggiran kota, tempat mereka untuk beristirahat sejenak.


Disaat seperti ini, menenangkan diri sendiri adalah jalan terbaik, terlebih lagi untuk Juhri yang sedang sangat terguncang. Alingga berinsiatif untuk menyelesaikan semuanya sendiri, ia tidak ingin melibatkan teman temannya lagi. Menjelang malam, Langit jingga mulai menghilang. Alingga secara diam diam meminta sopir mobil itu untuk mengantarkan nya ke tempat Lewung Lewung terakhir di simpan.


Mobil meleset jauh, membelah pekat nya malam dengan cahaya lampu yang menyorot jalanan lenggang. Alingga memilih untuk mengunjungi Omah Dongko terlebih dahulu, ia tahu benar mereka telah kehabisan waktu, semakin lama di tunda maka semakin sedikit tingkat keberhasilan nya. Wijaya pasti akan segera mencari korban baru setelah Zainal lepas dari cengkeraman nya, ia akan tetap menggenapi Seratus tumbal untuk purnama bulan ini.


Mobil berhenti di pinggiran jalan beraspal, di tengah tengah hutan lebat di dekat kediaman keluarga Wijaya. Cahaya dari lampu minyak menerangi sudut bangunan yang di dominasi oleh kayu berukir, Aroma dari pepohonan berbunga putih agak sedikit membuat kepala Alingga pusing. Ia mengendap endap, menuju halaman belakang kediaman Wijaya yang jarak nya 500 meter dari jalan raya.


Kediaman Wijaya di Pagari tembok setinggi 2 meter, dengan bagian luar yang sudah tidak terawat lagi. Alingga mengikuti arah pagar itu sesuai instruksi Juhri. Hingga ia berhenti, saat menemukan sebuah Danau tepat di belakang kediaman keluarga itu.


Alingga berfikir sejenak, ia tidak mungkin berenang untuk menyebrang, tapi tidak ada apapun di sekitarnya yang bisa membantu nya. Alingga memilih untuk memanjat tembok setinggi 2 meter itu dengan sang Sopir yang menjadi tumpuan nya. Saat kaki nya telah mendarat di dalam, ia tidak mau membuang waktu lagi. Ia masih ingat benar dimana letak Omah Dongko, tempat Wijaya melakukan ritual gila nya bersama abdi abdi lainya.


Semua berjalan mulus tanpa adanya kendala, ia mendapatkan puluhan Lewung dari dalam Omah Dongko. Begitupula dengan tempat terakhir, ia juga mendapatkan Lewung itu tanpa harus bersusah payah. Alingga kembali ke penginapan saat lewat tengah malam. Semua orang sudah lelap tertidur, ia memiliki untuk tetap terjaga di dalam mobil agar Lewung Lewung itu tetap aman.

__ADS_1


Saat itu menjelang fajar, Alingga masih tetap terjaga. Seseorang tiba-tiba saja mengetuk kaca jendela mobil tempat Alingga terduduk. Orang itu tak lain adalah Juhri, ia merasa bersalah karena tidak membantu banyak. Itulah mengapa ia berinsiatif mencari tujuh sumber air itu sendirian.


Juhri bercerita bagaimana cara ia mendapatkan ketujuh sumber air itu. Alingga sangat tahu, penunggu nya tidak mungkin mau memberikan nya begitu saja. Jika yang mengambil sumber air itu adalah orang biasa yang hanya digunakan untuk keperluan biasa seperti mencuci dan mandi, tentunya tidak akan ada syarat khusus. Tapi, berbeda jika air itu di peruntukan untuk sebuah ritual, apalagi ini bukanlah ritual yang sederhana, akan ada syarat yang diminta oleh penjaga nya sebagai bentuk pertukaran dari keduanya.


"Lalu, apa yang Njenengan tukar hingga mereka mau memberikan nya begitu saja?" tanya Alingga.


Juhri terdiam, sedikit getir saat ia harus mengatakan nya. Juhri enggan membicarakan hal itu, tapi ia juga tidak mungkin membohongi Alingga. Dengan sangat terpaksa Juhri akhirnya mau mengatakan nya. Ia menukarkan hampir setengah sisa hidupnya untuk mendapatkan ketujuh sumber air itu.


Alingga tercengang, ia tidak percaya Juhri akan senekat itu.


Alingga membiarkan Juhri menangis, ia tidak punya hak untuk memintanya mengikhlaskan. Memang berat kehilangan seseorang yang sangat di sayangi, terlebih lagi kehilangan itu tak mungkin membawanya kembali ke dunia ini. Dipisahkan jurang kematian, di pembatas antara yang hidup dan yang mati. Alingga sengaja membiarkan Juhri menangis, dengan begitu hatinya akan merasa lega dengan sendirinya, sampai nanti dia benar benar mengikhlaskan segala nya dengan hati terbuka.


Pagi menyapa, sinar matahari memanggang debu debu di permukaan. Mobil itu tak lagi terparkir di halaman penginapan, mereka telah pergi meninggalkan kota, menempuh jarak berkilo-kilo menuju desa Laweh tempat titik temu mereka terakhir kali. Jalan yang sama yang telah mereka lewati berkali kali, namun kini terlihat sangat asing. perasaan tak tenang di hati semua orang lah yang membuat seluruh tempat yang mereka kunjungi menjadi sangat asing.

__ADS_1


Persiapan telah selesai, malam akan segera datang, genderang perang telah di tabuh, satu ritual yang menjadi awal dan akhir dari pengikat jiwa. Di pinggiran desa, di pembatas antara Alas Ruwah dan desa Laweh, tumpukan kotak kayu menggunung di pinggiran hutan. Ritual besar akan segera dilaksanakan jauh dari dalam hutan, Hitam melawan hitam, atas dasar salah dan benar.


Susunan kayu di perbatasan sudah cukup kokoh untuk digunakan, dengan bantuan petuah kampung dan warga desa, Alingga berhasil menyelesaikan Altar ritual Lebur Sukma. Begitupula dengan Wijaya, jauh di dalam hutan, dengan beberapa sekutu nya, ia membangun Altar megah untuk menyambut sang Ratu Ranggas.


Tidak ada yang tahu bagaimana akhir dari kisah ini, Sesuatu yang diawali kejahatan akan berakhir mengenaskan. Sayangnya, itu hanya ada dalam sebuah cerita, jauh di dalam kehidupan nyata, kejahatan merajalela, kegelapan membelenggu, menjadi parasit abadi yang mengubah hati murni, di penuhi dendam dan amarah.


Laras terbaring diatas Altar, kain kafan menutupi sekujur tubuhnya. Tujuh air murni bercampur di dalam sebuah kendi, ditaburi wewangian, dan bunga tujuh rupa. Sementara itu di sekeliling Altar, Lewung di dalam kotak di susun mengelilingi Altar dengan jerami kering yang siapa di bakar.


Awan menghilang, cahaya bulan mulai menyinari Altar, menyorot tubuh seorang wanita yang sedang terbaring tak berdaya. Semua orang berdiri mengelilingi Altar, sementara itu Alingga membawa sebuah obor, siap melempar nya pada tumpukan Lewung yang di susun mengelilingi Altar.


Api berkobar, tepat saat bulan bersinar terang, bayangan hitam berdatangan dari segala penjuru, mendarat diatas tanah, menyaksikan pengikat jiwa mereka yang lenyap. Alingga melangkah menuju Altar, membawa sebilah pisau yang sudah diasah. Ia berhenti, tepat di depan sosok Laras, menyayat telapak tangan nya, menampung darah yang mengucur deras pada wadah tembaga.


Darah ia tabur kan pada api yang berkobar, melahap habis boneka Lewung tak bersisa. Alingga menyiram sisa arang dengan air dari dalam kendi, untuk memadamkan, untuk menutup, untuk mengakhiri keterlibatan mereka dengan Alas Ruwah. Tujuh sumber air murni, membebaskan jiwa mereka, memurnikan jiwa mereka dari pengaruh iblis.

__ADS_1


Sementara itu, jauh di dalam hutan, Wijaya mendapatkan kejutan, pesta berdarah dari amukan Bolo Laru atas kegagalan Wijaya menyediakan Seratus tumbal pada malam ritual. Seluruh orang yang berada di lokasi di habisi, termasuk Wijaya yang sudah terkapar tak bernyawa dengan puluhan burung gagak yang mulai mencabik-cabik luka lukanya.


...***...


__ADS_2