Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 46: Ladang jagung


__ADS_3

Debu berterbangan di sepanjang jalan tanah, di bawah terik matahari itu Alingga berjalan membelah hamparan tanaman jagung yang sudah mulai menguning. Dengan berbekalkan tas ransel dan juga sebuah pisau tajam di balik bajunya, dia melewati hutan lalu berakhir di jalanan berdebu ini.


Entah apa yang sebenarnya dipikirkan Alingga saat itu, mengapa lebih memilih berjalan kaki yang secara logika membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Dia memiliki alasan dan juga pertimbangan yang matang sebelum mengambil setiap keputusan, apapun yang dia pilih, dia percaya bahwa itu satu-satunya cara yang benar.


Di bawah terik matahari itu, ia seorang diri. Namun, selalu saja ada perasaan tidak nyaman semenjak ia melewati kawasan hutan sebelumnya. Hingga sampai di perkebunan jagung ini, perasaan itu masih bersarang dan selalu mengusik ketenangan nya.


Tentunya dia masih bisa melawan jika yang mengusik nya adalah manusia, lalu bagaimana jika bukan. Meskipun dia memiliki beberapa kemampuan, tapi tidak semua mahluk bisa dia lawan. Ada batasan batasan yang tidak bisa ia tembus, dan pada saat itu terjadi, siapa yang dapat menolongnya? Hidup dan mati sejatinya milik tuhan, jika sudah digariskan, orang sehebat apapun tidak dapat menghindari suratan takdir yang sudah tertulis sejak berada dalam kandungan.


Alingga menghentikan langkah, menajamkan pendengarannya. Hanya terdengar suara angin yang menggoyang kan dedaunan, namun Alingga sangat yakin jika ada seseorang yang tengah mengikutinya.


Didalam rapatnya tanaman jagung, sepasang mata tengah mengawasi pergerakan Alingga. Sosok itu bersembunyi, bergerak setenang mungkin, menggenggam sebuah parang yang berkilauan.


Alingga masih berhati hati, tangan kanannya meraih sesuatu dari balik bajunya, mengamati sekitar, bersiap bertahan dari apapun yang akan menyerang nya. Sebuah pergerakan terlihat dari arah perkebunan, tanaman bergoyang goyang dilewati sesuatu. Alingga menarik pisau, melemparkannya tepat pada sesuatu yang tengah bergerak di tengah tengah ladang jagung.


Terdengar suara pekikan tertahan dari dalam sana, sepertinya pisau itu mengenai sasaran nya. Alingga berlari, mengejar tepat dimana suara itu berasal. Tanaman jagung disibak dengan paksa, beberapa tampak patah. Jauh di depan Alingga sosok itu juga bergerak, tertaut jarak 10 meter, pergerakannya di percepat mendengar langkah kaki yang tengah mengejar nya.


Alingga mulai melihat sosok yang dikejarnya, pakaian serba hitam, dengan penutup kepala yang juga berwarna hitam. Pisau yang dilempar Alingga ternyata menancap pada lengan atas orang tersebut, dia tidak sempat mencabutnya karena Alingga sudah lebih dulu menyadari keberadaan nya.

__ADS_1


Tendangan keras menghantam kaki orang berpakaian serba hitam itu, ia terjatuh. Parang yang di genggam nya tertinggal jauh dibelakang. Saat terpojok dia tak punya pilihan lain selain melawan, Alingga memberikan serangan beruntun yang ternyata masih bisa di tangkis oleh orang misterius itu. Terjadi perkelahian sengit di antara keduanya, Alingga yang sudah siap dengan segala strategi nya, dan orang berpakaian serba hitam itu juga siap dengan pertarungan yang akan berlanjut setelah nya.


Namun, tiba-tiba saja Alingga berhenti. Dia mendorong orang tersebut hingga tersungkur ke tanah. Alingga cepat bertindak, menginjak tangan orang tersebut–Mencabut pisau yang tertancap pada lengan lawan nya.


Orang misterius itu berteriak saat darah segar mengucur deras menetes di tanah, nampak luka kemerahan nya dari balik kain yang robek. Tapi dengan bodohnya Alingga mengendur kan kewaspadaan nya saat lawanya tengah lengah. Orang misterius tersebut menendang perut Alingga, membuat nya terpental hingga mematahkan beberapa tanaman jagung.


Alingga terpojok, orang misterius itu menginjak leher Alingga. Hanya tinggal satu hantaman leher Alingga sudah pasti patah. Namun, sepertinya bukan itu tujuan orang misterius itu. Dia melepaskan Alingga, membiarkan nya meringkuk di tanah yang kering itu, menahan sakit di perut dan lehernya.


"Ternyata kamu tidak sehebat itu. Kamu ceroboh, dan mudah ditipu!" ucap orang misterius itu.


"Juhri!" ucap Alingga penuh penekanan.


Juhri menoleh kearah Alingga, membuka penutup kepalanya, lalu tersenyum mengetahui Alingga dengan cepat bisa mengetahui identitas nya.


"Mau apa kamu? Mau membunuh ku?" tanya Alingga datar. Juhri tidak memberikan tanggapan, dia masih berdiri menatap Alingga yang sedang membersihkan pakainya.


"Bodoh! Jika aku ingin membunuh mu tidak mungkin kamu masih bisa berbicara sekarang." Juhri berbicara Sembari menekan luka tusukan nya. Dia mengambil penutup kepalanya lalu mengikatnya tepat di luka nya tersebut.

__ADS_1


"Apa kamu pikir kamu sehebat itu bisa membunuhku? Jangan konyol~Cihh!" ucap Alingga. Juhri masih belum merespon, dia masih sibuk membungkus lukanya. Beberapa kali ia meringis menahan sakit.


"Aku datang kesini menawarkan bantuan! Aku yakin kamu sedang kesulitan saat ini." Juhri mendekat, namun Alingga memundurkan tubuhnya masih dalam keadaan was was. Juhri berhenti melihat penolakan dari Alingga.


"Lebih baik kita bekerja sama jika ingin menyingkirkan Wijaya!" lanjut Juhri melanjutkan ucapannya. Raut wajah Alingga masam, dia sama sekali tidak mempercayai ucapan Juhri.


"Cihh. Aku tidak sudi bekerjasama dengan orang keji seperti mu!" tolak Alingga dengan penawaran Juhri. Sepertinya Juhri sudah menduga respon Alingga ini, dia tidak menyerah dan terus membujuk Alingga.


"Alingga.. Alingga. Pekok kok di ingu. Opo kowe pikir iso nemok ne Lewung dewean? Mung aku seng weroh neng endi Nggon ne!" ( Alingga.. Alingga. Bodoh kok dipelihara. Apa kamu pikir bisa menemukan Lewung sendirian? Hanya aku yang tau dimana tempatnya!) Juhri terkekeh mendengar penolakan Alingga.


Alingga terdiam memilah milah semua yang barusan dia dengar. Memang benar Alingga kesulitan menemukan dimana letak boneka itu. Namun, bekerja sama dengan Juhri itu lebih tidak memungkinkan lagi. Apalagi setelah apa yang dia lakukan terhadap Mbah Slamet di kediamannya, api amarah dalam hati Alingga semakin membara.


"Ora karo bantuan mu pun aku iso !" ( Tanpa bantuan bantuan mu pun aku bisa!) jawab Alingga tegas. Dia begitu yakin dengan pendirian nya. Jika dia bekerja sama dengan Juhri, tidak tau kekacauan apalagi yang akan dia perbuat. Bisa saja Juhri mengkhianati nya nanti, dia tidak ingin mengambil resiko yang menyangkut nyawa orang banyak.


Setelah mengatakan itu Alingga pergi, membelah jejeran tanaman jagung, menuju kearah barat tepat dimana jalan setapak itu berada. sedangkan Juhri mematung sendirian, raut wajahnya tampak kecewa, harapan satu-satunya untuk menyelamatkan putri nya dari tangan Wijaya ikut pupus bersamaan dengan sosok Alingga yang tak nampak lagi dari pandangan nya.


Sebenarnya Alingga masih memikirkan tawaran Juhri tadi, akan sangat bagus jika dia bisa bekerja sama dengan Juhri yang merupakan orang kepercayaan Wijaya. Namun, dia tidak bisa mengambil keputusan sendirian. Dia akan membicarakan nya nanti dengan teman-teman dan gurunya.

__ADS_1


__ADS_2