
Aroma bunga Kamboja memenuhi seisi mobil. Sesosok wanita duduk anggun dalam balutan kain putih bernoda, matanya tak menyiratkan apa apa dari sepasang lubang tanpa bola mata. Lekungan tanpa bola mata itu semakin menghitam, namun aroma bunga Kamboja masih enggan pergi dari dekat pemilik nya, semakin kuat, semakin memabukkan Siapa saja yang menghirup nya.
Seharusnya mereka sudah menyadari apa yang saat ini berada diantara mereka berempat, sesosok wanita yang selalu datang tanpa perlu diundang.
Laras masih bergeming, matanya menatap tajam dengan urat urat nadi yang membekas . Bibirnya tak henti hentinya bergetar, terdengar kata demi kata yang cukup sulit untuk dicerna. Bukan kehadiran sosok itu yang laras takutkan, namun wanita berkebaya merah di tengah jalan lah yang membuat laras merasa kuwalahan.
Bagaimana mungkin tidak, iblis itu memiliki kekuatan yang jauh melebihi laras. Namun, iblis itu juga tak bisa sembarangan menyentuh mereka.
Tubuh Syarif masih mengeluarkan keringat dingin. Terlihat raut wajahnya yang begitu ketakutan, bahkan rasa mualnya ikut lenyap bersamaan dengan kengerian yang semakin menjadi jadi.
"Laras.. " Bisikan lirih tersebut terdengar samar di telinga Laras. Mahkluk itu membuka sedikit bibir nya, mengucapkan sepatah kata tepat di telinga kiri laras.
Laras masih bergeming, ia menyimak setiap kata yang keluar dari mulut yang membusuk. Matanya terbelalak saat kata terakhir terucap. Ia kemudian menoleh kearah asal suara tersebut dengan cepat, di hadapannya wanita tanpa bola mata itu menyeringai, lalu lenyap seketika.
"Mas!" Entah mengapa Laras terlihat gelisah. Padahal laras bisa memanggil bolo pathi untuk melindungi mereka, namun ia tidak mau melakukan itu. Laras tidak mau berada di kapal yang sama dengan iblis itu, ia berusaha untuk tidak melibatkan nya seperti sebelumnya.
Bolo pathi memang lah ingon keluarga nya, namun untuk meminta bantuannya harus membayar harga yang sangat mahal. Terlebih lagi laras benar benar ingin keluar dari kegelapan, ia sedikitpun tak ingin melibatkan bolo pathi dalam urusannya.
__ADS_1
Syarif menoleh ke arah belakang, ia menatap Laras dengan pandangan khawatir. Namun Suara laras tak lagi terdengar, ia dengan jelas mendengar wanita ini memanggil nya tadi.
"Njenengan bawa Zainal! Saya turun disini." Laras berbicara dengan nada yang serius.
"Tapi mbak— " Suara Syarif terhenti saat mata laras menatap tajam kearah nya, sudah pasti keputusannya tak bisa dibantah lagi. Syarif hanya mengangguk kan kepalanya, ia kemudian meminta sopir itu untuk menghidupkan kembali mesin mobilnya yang sebelumnya dimatikan.
"Waktu kalian hanya 1 menit, saat aku turun segera lah pergi!" ucap laras lagi. Ia kemudian mendorong pintu mobil yang tertutup, kaki jenjangnya menjulur keluar dengan kulit pahanya yang sedikit terekspos. Laras berdiri tegak di samping mobil dengan wajah datar, sedangkan syarif segera meminta sopir itu melaju dengan kecepatan maksimal.
Samar samar Syarif menatap posisi laras di pinggir jalan dari spion mobil, meskipun sudah cukup jauh namun masih terlihat dengan jelas.
Laras terlihat sedang menyayat telapak tangan nya lagi, mengiris sangat dalam tepat disebelah luka nya sebelumnya. Bibir pucatnya mengucapkan sepatah dua patah mantra dengan cepat, berulang ulang sampai atmosfer bumi mulai terasa berubah.
Tubuh laras di kerumuni begitu banyak mahkluk, mereka semua merangkak keluar dari segala penjuru. Ladang jagung yang tenang berubah riuh. Mahkluk mahkluk yang raganya tidak pernah diterima oleh bumi, jiwanya berkelana menyesatkan manusia yang tak memiliki iman. Mereka semua terpanggil dengan darah hitam yang menetes deras dari telapak tangan laras. Mahkluk mahkluk itu mengerubunginya seperti lalat yang sedang mencium aroma bangkai.
Syarif bergidik ngeri dengan pemandangan yang dilihatnya, ia tak berani membalikkan tubuhnya untuk menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi dengan laras, ia hanya melirik sedikit ke arah spion dan melihat sedikit siluet yang tengah di kerumuni ribuan mahkluk.
Disisi lain sang sopir sama takutnya dengan Syarif, ia sebisa mungkin untuk fokus dengan laju mobilnya yang cukup tinggi. Meskipun takut mereka harus tetap menguasai diri, jangan sampai ketakutan itu menggantikan akal sehatnya.
__ADS_1
Jari jari Syarif bergetar, tangannya bergerak mengambil sebuah handphone batangan di saku kanan celananya. Jarinya meskipun bergetar namun masih lihai mengutak-atik fitur fitur dalam handphonenya, ya meskipun handphone jadul seperti itu tak memiliki banyak fitur.
Syarif mencari sebuah nama yang berada di paling atas dalam daftar kontaknya, Alingga tentu nya. Ia berusaha menghubungi sahabatnya tersebut, namun dua-tiga kali panggilan masih belum cukup menggerakkan Alingga untuk mengangkat panggilan nya itu. Syarif sedikit frustasi, ia diminta untuk menjaga Laras dan zainal. Namun, sekarang ia kehilangan laras. Syarif tak tau harus bagaimana lagi, bagaimana jika nanti Alingga akan marah kepadanya. Pikiran nya benar benar kacau.
Satu menit telah berlalu, mereka benar benar keluar dari area ladang jagung. Syarif menghela nafas lega setelah terlepas dari maut, meskipun masih sedikit sesak bagaimana nanti ia akan menghadapi Alingga. Ia menyandarkan kepalanya pada kursi sintetis, jantung nya masih berdegup kencang setelah dipompa begitu cepat.
"Selanjutnya pie mas?" ucap sopir itu.
Syarif melirik kearah sang sopir, ia kembali kepada rencananya sebelumnya. Mereka harus menemui mbah Ladi di desa laweh, ia segera meminta sopir itu menancap kan gas lagi karena tak ingin membuang banyak waktu. Sang sopir langsung mengerti, dengan petunjuk jalan yang diberikan Alingga, mereka akhirnya tiba di desa laweh.
Sebenarnya Syarif sudah beberapakali datang ke desa ini, namun terkhusus hari ini kondisi desa banyak berubah. Tidak seperti saat terakhir kali Syarif datang, suasana disini benar benar asing tidak seramah sebelumnya saat ia mengantar Alingga menemui gurunya.
"Mas kok deso ne ngene iki sih?" tanya Syarif kebingungan.
"Mbuh ya mas, perasaan yo bener iki dalan e." ucap sang sopir yang sama bingung nya dengan Syarif.
Mobil melaju perlahan mengelilingi desa yang sangat sepi, kondisi rumah didesa ini sudah seperti tak ditinggali selama bertahun-tahun. Sampah dedaunan berserakan di halaman rumah dengan rerumputan yang melebihi dengkul orang dewasa, pintu dan jendela sudah banyak yang terlepas dari tempatnya. Bahkan, satupun hewan tak terlihat melintas untuk menyambut kedatangan mereka. Desa ini benar-benar seperti sudah mati.
__ADS_1
Syarif hendak turun untuk memeriksa lebih detail lagi, namun nyali nya tak sekuat itu untuk melakukan sesuatu hal yang lebih bodoh. Mereka duduk diam di dalam mobil, membisu tanpa mengeluarkan suara sepatah katapun. Dalam hati mereka berharap tuhan mengirimkan seseorang untuk datang, seseorang yang seperti malaikat yang dapat menolong mereka. Namun sayangnya tidak ada orang lain disana, bahkan seekor capung pun tidak.