Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 58: Terjatuh


__ADS_3

Cahaya mentari bersinar memulai hari, angin semilir mulai berhembus di antara pepohonan. Di dalam hutan kabut tipis menghalangi jarak pandang, menemani pemuda itu dalam misi pencarian nya.


Hutan masih belum sepenuhnya terang, bayangan hitam menaungi setiap penjuru. Sisa sisa embun semalam menempel pada tubuh pemuda itu, dari dedaunan talas yang ia sibak saat membuka jalan.


Dia dilanda kebingungan juga penyesalan, sesaat ia berteriak dengan tangan yang tak henti hentinya memukul kepalanya. Ada bulir bulir bening yang mengalir melewati pipi pemuda itu, di tengah hutan itu ia berusaha menguatkan diri, dan terus mencari sesuatu yang telah hilang dari dirinya.


...***...


Mahkluk berbulu itu mendekat, gigi gigi nya yang tajam ia pamerkan saat berada di hadapan Sumi. Sumi terpojok, Tidak tau harus berbuat apa. Mahkluk di depannya terlihat tidak bersahabat, kepalanya yang berbulu lebat menambah kesan ngeri saat Sumi di landa kepanikan.


Sebagai seorang ibu, nalurinya ingin melindungi bayi di dalam kandungan nya. Apapun ia lakukan, berusaha mengusir mahkluk itu untuk menjauh.


"Pergi!!" bentak Sumi. Sumi turun dari atas pondok, mengambil sebatang kayu patah yang ia gunakan sebagai pertahanan diri. Sekali lagi mahkluk itu mendekat, Sumi tidak akan ragu menghantam kan kayu itu ke kepala si makhluk berbulu.


Ancaman Sumi nyatanya di respon dengan tidak baik, mahkluk itu semakin marah dan tidak ragu lagi menerjang ke arah Sumi. Sebelum itu, Sumi sudah menyadari gerakkan nya. Sumi menghindar tepat pada waktunya, jika tidak, mungkin tubuhnya sudah habis di cabik cabik cakar cakar tajam itu.

__ADS_1


Sumi melarikan diri kedalam hutan, ia berlari tak tentu arah. Mengikuti kata hatinya, tanpa bertanya alasannya. Sebenarnya yang dilakukan Sumi cukup membahayakan kandungan nya, usia muda cukup rentan mengalami pendarahan. Tapi, ia lari ataupun tidak sama sama akan mati.


Mahkluk berbulu itu masih mengejar, nampak dari semak semak belukar yang terus terus an bergoyang. Sumi sudah tidak kuat lagi, kaki nya mati rasa, perut nya mengalami kram. Lari Sumi pun semakin melambat, sedangkan Mahkluk itu sedikit pun tidak memberikan kesempatan Sumi untuk beristirahat.


Jika saja Sumi lebih berhati-hati, seharusnya kejadian buruk dapat di minimalisir. Ia terperosok, jatuh saat melintasi lerengan jurang. Tubuhnya berguling guling. Tapi, di saat terdesak seperti itu ia masih tetap melindungi perutnya, dengan tangan mungilnya yang ia lipat di depan perutnya.


Tubuhnya berhenti berguling saat menghantam sebuah batu besar, wajahnya memar, tangan dan kaki nya tergores rumput rumput berduri, meninggalkan bekas luka dengan darah yang masih belum mengering. Sumi kehilangan kesadaran, ia pingsan tepat di bawah bongkahan batu besar itu.


Hingga menjelang malam, tak seorang pun yang menemukan nya. Darah nya mulai mengering, jarinya berkedut kedut di ikuti dengan matanya yang mulai terbuka.


Sumi menahan nyeri, luka luka di tubuhnya terasa perih saat tersentuh angin malam. Dingin nya udara menurunkan suhu tubuhnya, kakinya membeku, tangan nya mati rasa. Ia menatap sekelilingnya nya yang gelap gulita, jarak pandangnya terhalang gelap.


Ditengah hutan seperti itu, siapa yang dapat ia harapkan. Sumi hanya mengandalkan diri sendiri, ia teringat dengan kandungan nya, sudah tidak terasa sakit, tangan mungilnya membelai lembut pada bagian perutnya, setidaknya ada seseorang yang menguatkan dirinya di saat saat seperti ini.


Sumi berjalan tertatih tatih, dengan bengkak di kakinya, pergerakan nya tidak bisa lebih cepat. Ia juga tidak mungkin memanjat lereng curam itu, satu satunya yang bisa ia lakukan ialah menelusuri lembah tempat ia kini berada. Dalam kegelapan itu, cahaya bulan tidak dapat menembus lebat nya dedaunan, dengan mengandalkan kata hatinya, ia berjalan penuh dengan harapan.

__ADS_1


Mungkin Tuhan mendengar kan keinginan nya. Setelah beberapa jam berjalan, ia menemukan sebuah gubuk dengan lampu minyak menyala di depan teras. Awalnya Sumi ragu saat melihat gubuk itu, siapa pula penghuni gubuk di tengah hutan ini. Tapi, ia juga tidak ingin kehilangan harapan, meskipun ragu ia juga tidak punya pilihan lain. Ia sangat menghawatirkan kandungan nya. Pada akhirnya ia pun memberanikan diri mendatangi gubuk itu.


Sumi mengetuk pintu beberapa kali, masih tidak ada jawaban dari dalam. Sumi tidak menyerah, mengetuk nya lagi hingga beberapa menit lamanya. Dari dalam rumah terdengar langkah kaki mendekat. Jantung Sumi berdegup kencang, ia khawatir seseorang yang menyambut nya tidak bersahabat. Saat langkah itu berhenti di depan pintu, Sumi semakin tidak terkendali, ia takut juga khawatir.


Pintu berderit, sedikit terbuka. Menampakkan seorang wanita paruh baya dengan tubuh berisi berdiri di hadapan Sumi. Wanita itu terdiam saat melihat seorang wanita muda dengan penampilan kacau mengetuk pintu rumahnya. Namun, ia segera membawa Sumi masuk dan kembali mengunci rumah nya rapat rapat. Sumi sedikit bingung, mengapa wanita ini bertindak demikian kepadanya.


Wanita itu membawa Sumi masuk kedalam sebuah kamar, cahaya dari lampu minyak menyinari seluruh sudut ruangan. Wanita itu meminta Sumi untuk berbaring di atas ranjang di dalam nya. Sumi hanya bisa menurut tanpa banyak bertanya kepada wanita itu.


Setelah Sumi berbaring, Wanita paruh baya itu meninggalkannya di dalam kamar sendirian. Ia pergi melewati pintu menuju kearah belakang. Beberapa saat kemudian ia kembali, membawa seember air hangat. Sumi segera bangun saat wanita itu kembali, ia menatap kebingungan dengan tingkah wanita itu.


"Ini, dibersihkan dulu, setelah itu ganti pakaian mu dengan yang ada di atas meja! Di luar itu berbahaya! Kenapa bisa berkeliaran di Hutan malam malam begini." ucap Wanita itu sembari meletakkan seember air. Ia menjauh meninggalkan Sumi yang sedang membasuh tubuhnya dengan air tersebut.


Setelah selesai Sumi berjalan keluar dengan membawa sisa air di ember, ia ingin meletakkan nya di luar. Tapi, wanita itu melarang nya untuk banyak bergerak. Ia kembali memapah Sumi untuk berbaring di atas ranjang.


"Terimakasih, Mbak." ucap Sumi dengan nada lembut.

__ADS_1


"Kamu istirahat dulu, Mbak ambilkan obat obatan di belakang sebentar!" Setelah berbicara, wanita itu pergi. Membawa ember air dan pakaian kotor milik Sumi. Sumi membaringkan tubuhnya, kakinya semakin membengkak, ia kesulitan menggerakkan tubuhnya. Padahal sebelumnya, ia tidak merasakan sesakit ini.


Sumi melihat kakinya yang membengkak, ia menyentuh nya. Sayangnya ia baru menyadari, tepat di dekat mata kakinya, sebuah ranting seukuran lidi menancap hingga tak terlihat ujungnya. Pantas saja membengkak, jika tidak segera di cabut, keesokan harinya luka itu pasti akan bernanah dan membuat Sumi tidak bisa berjalan lagi.


__ADS_2