
Sebuah mobil hitam membelah jalan setapak diarea hutan lebat, dedaunan kering yang menumpuk terhempas angin sepoi-sepoi sepanjang mobil itu melintas. Sebuah hutan yang masih asri sebelum para penebang liar menghangatkan mesin-mesin gergajinya. Suara mesin mobil mengacau tidur siangnya binatang pengerat. Tidak ada yang menyambut kedatangan Syarif dan yang lainya seakan seisi hutan begitu membenci kehadirannya para Manusia.
Syarif menatap kosong ke luar jendela, pohon pohon yang berdiri kokoh menghipnotis nya dalam lamunan. Laras duduk di kursi belakang menjaga Zainal yang masih belum sadarkan diri, sedangkan syarif ia memiliki untuk duduk dikursi depan bersebelahan dengan sang supir.
"Ehmm.." Suara berdeham sang sopir memecahkan suasana canggung di dalam mobil. Syarif menatap kearah sopir tersebut.
"Mas ada keluarga di desa laweh? Saya sering bolak-balik kesana nganter orang yang pada pulang kampung. Tapi ya itu medan nya cukup sulit." Lanjut sang sopir membuka pembicaraan.
"Enggak juga mas, kami ada perlu aja kesana. Katanya disana ada dukun yang lumayan terkenal mengurus hal hal gaib gitu." Jawab Syarif asal.
"Wah dukun ya," Sopir itu tampak mengerti yang dimaksudkan Syarif. "Kalo boleh tau ada masalah apa mas kok sampe nyari nyari dukun." Lanjutnya lagi.
Syarif enggan menjawab pertanyaan sopir tersebut, namun ia juga merasa bosan bila hanya berdiam tanpa adanya pembicaraan.
"Ini mas temen saya ada yang guna gunain." Ucap Syarif sambil menatap kearah kursi belakang.
Sopir itu tampak memahaminya, ia melihat tubuh Zainal dari kaca yang terpasang di depannya.
"Udah berapa lama mas kayak gitu?"
"Wah dari tadi malam belum bangun mas, udah kami bawa ke orang pintar di kota masih belum sembuh juga. Ini kami dapat info katanya didesa laweh ada dukun yang lumayan kondang, kan enggak ada salahnya mencoba." Jelas Syarif panjang kali lebar, meskipun semua yang dikatakannya hanyalah kebohongan. Mana mungkin Syarif menceritakan masalah sebenarnya kepada orang asing.
"Saya belum dengar sih mas kabar itu, tapi kalo memang benar ada ya lebih baik di coba. Karena medis juga enggak bisa nyembuhin penyakit semacam ini." Jawab supir itu polos.
__ADS_1
"O iya mas, sampean udah berapa kali kedesa laweh. Kabar nya belum lama ini desa laweh agak enggak aman."
"Enggak aman gimana mas." Tanya syarif. Laras yang duduk dikursi belakang hanya menyimak pembicaraan mereka sambil memejamkan matanya.
"Kurang jelas sih beritanya. Ada yang bilang di jembatan dekat perbatasan alas ruwah banyak ditemukan mayat mayat yang mengambang di aliran sungai." Sopir itu menjelaskan kondisi yang beredar di kalangan masyarakat. Laras yang sedari tadi tidak peduli dengan pembicaraan mereka mulai sedikit tertarik dengan apa yang disampaikan sopir itu.
"Mayat gimana mas? Sampean tahu darimana berita ini?" Tanya Syarif berulang.
" Saya kan sopir mas, pelanggan saya banyak ngegosip itu." Jelas sopir itu lagi.
Syarif menatap Laras di kursi belakang, laras tidak berbicara sedikit pun namun diam diam ia menganalisis nya sendiri di dalam otaknya.
"Itu beritanya kapan ya mas, ini kayak nya saya ketinggalan info lagi nih." Ucap Syarif berusaha mendesak sopir itu memberikan lebih banyak informasi kepadanya.
"Enggak mungkin gimana?"
" Kurang jelas juga sih infonya."
"Sampean ini dari tadi kurang jelas infonya kurang jelas infonya tapi cerita lancar." Sopir itu melirik ke arah syarif sambil tertawa kecil.
"Ya memang belum jelas infonya, masih desas-desus. Ada yang bilang mayat mayat itu punya luka yang sama . Luka tusukan yang cukup besar di area dada."
Syarif tampak bingung dengan cerita sopir tersebut, ia melirik kembali kearah laras. Berbeda dengan Syarif, laras Tampak mengerti ucapan sopir itu. Jika dilihat dari awal sampai akhir ada kemungkinan semua ini ulah dari Wijaya. Tapi yang membuat laras bingung, kenapa mayat mayat itu di buang di dekat alas ruwah. Bukankah selama ini Wijaya selalu menyembunyikan nya ditempat yang sangat rahasia.
__ADS_1
Belum selesai laras berfikir sopir itu kembali bercerita.
"Apa mungkin mayat itu tumbal para pemburu pesugihan di alas Ruwah? Alas ruwah terkenal dengan hal hal seperti itu kan."Syarif yang mendengar ucapan sopir itu memiliki kecurigaan terhadap Wijaya.
"Mas sampean ini ada ada aja. Masa iya zaman sekarang ada yang masih cari pesugihan sih mas?" Bantah syarif pura pura Tidak mengerti, padahal dirinya sendiri terlibat dengan keluarga yang seperti itu.
"Namanya juga manusia mas, mau dizaman apa aja kalo naluri nya seperti itu ya tetep aja."
Mereka telah melewati hutan, jalan setapak tadi berubah menjadi jalanan desa yang sempit dan berdebu. Beberapa kali mobil terguncang menabrak lubang lubang yang cukup besar. Di sepanjang jalan masih sangat sepi, belum nampak satupun rumah.
Mobil mereka melaju melewati ladang jagung yang tengah berbuah, pemandangan hijau membentang disepanjang kanan dan kiri jalan. Syarif kembali menurunkan jendela hanya untuk sekedar membiarkan udara segar meredakan rasa mualnya.
"Sumpah dalan e nggae mumet." Keluh Syarif sambil menahan sesuatu yang tengah menyeruak naik ketenggorokannya. Wajahnya memucat.
"Mabok sampean mas?" Tanya sang supir sambil fokus dengan jalanan. Syarif menggeleng kan kepala karena malu mengakuinya, padahal saat ini kepalanya sudah sangat berat.
"Sebentar lagi sampe mas. memang jalan nya agak kurang enak dilewati, ini masih 2 kilo lagi yang rusak." Syarif terbelalak, ia tidak yakin masih mampu menahan untuk jarak 2 kilo lagi, belum lagi mereka harus melewati beberapa tanjakan dan turunan.
Syarif tak berani banyak bicara lagi, ia sebisa mungkin mencari posisi yang nyaman agar tak memperparah posisinya.
Laras yang duduk di belakang masih terdiam, ia menatap datar ladang jagung yang membentang luas. Dalam pandangan laras banyak bayangan hitam yang berterbangan, pemandangan yang sama yang Pernah ia lihat di dalam kediaman keluarga Wijaya.
Wilayah Wijaya memang cukup luas, banyak orang yang begitu menyegani nya. Dari kalangan bawah sampai sekelas walikota meminta bantuan Wijaya untuk kesuksesan pemilu nya. Apa mungkin kekuasaan nya mencapai kedaerahan ini, lalu apakah mungkin wijaya akan tahu jika mereka berada di tempat ini?
__ADS_1
Tidak ada yang tahu pasti, mereka hanya berharap jalan yang mereka ambil sudah benar. Lagipula tidak ada pilihan lain yang bisa mereka ambil. Laras menatap bayangan hitam diluar sana, dalam pikirannya ia teringat dengan Alingga. Apakah Alingga mampu menyelesaikan misinya, ataukah pada akhirnya mereka semua akan gagal.