Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 64: Kembali Lagi


__ADS_3

Angin berhembus menggoyang kan ranting ranting pohon, menetes kan embun yang mengendap, mendarat mulus tepat pada kaca depan mobil hitam. Danu menyandarkan tubuhnya, meregangkan sedikit kaki nya yang mulai kaku, sambil menatap jalanan yang gelap. Sorot matanya menangkap beberapa siluet yang tengah lewat. Sosok tinggi yang suka melompat lompat.


Danu tersentak, memastikan kembali penglihatan nya. Matanya mengedip tak percaya, sosok sosok itu semakin ramai, melintasi jalan dengan bersusah payah. Mungkin kah mahkluk halus juga bermigrasi? Danu bertanya tanya. Saat itu jantung nya berdegup kencang, darah nya berdesir. Danu menahan napas, berusaha tidak menarik perhatian, sesekali ia melirik kesamping, menatap siluet itu yang kian menjauh.


Dia baru bisa bernafas lega saat sosok sosok itu telah lenyap dari pandangan nya. Apa yang ia lihat sangat lah tidak masuk akal.


Beberapa saat Danu tenggelam dalam lamunan, ia baru menyadari Sopir yang sebelumnya duduk di sebelahnya tidak ada. Ia berlari keluar memeriksa sekeliling, lalu menemukan sopir itu tergeletak di jalanan. Ia tidak sadarkan diri, tubuhnya hangat, namun jari jemarinya sangat dingin. Danu membawanya masuk kedalam, membaringkan nya di kursi belakang, dan memeriksa denyut nadi nya sekali lagi.


Angin kembali berhembus, menyentuh tengkuk Danu yang tengah berdiri di samping mobil hitam. Kali ini ia merasakan hawa yang benar benar berbeda, ada yang ganjil dengan hutan ini. Tiba-tiba saja Danu teringat dengan cerita yang ia dengar sebelumnya saat berisitirahat makan. Salah satu iblis Alas Ruwah menampakkan diri di hutan barat. Mungkinkah ini adalah tempat yang di maksud kan itu.


Danu mengusir pikiran negatif, ia mengusap leher nya beberapa kali. Saat tangan nya bergeser ke pundak, ia mendapati sebuah jari menempel pada bahu nya. Ia tersentak menoleh kan kepalanya, melirik perlahan hingga keduanya matanya bertemu dengan sosok di belakangnya.


Danu menggosok dadanya sekali lagi, ia menghela napas saat melihat Alingga lah yang menyentuh pundaknya. Tentu saja itu jauh dari khayalan nya tentang mahkluk buruk rupa yang akan membuat selera makanya hilang.


"Bagaimana, Ngga? Apa kita berhasil menemukan sisa nya?" tanya Danu dengan tangan nya yang masih memegang dadanya.

__ADS_1


Alingga menelan saliva, ia menatap getir. Lagipula mereka tidak membawa apapun saat kembali, pastinya Danu sudah tau jawabannya.


"Ada yang ganjil dengan Rumah itu. Kami pergi begitu saja!" ucap Alingga sambil menepuk pundak Danu, ia melihat raut kecewa dari saudara angkatnya itu.


"Aku mengerti, masuk dulu kita lanjutkan besok pagi!" ucap Danu membalas cerita Alingga. Ia sedikit lega, perasaan was was sebelumnya ikut lenyap bersamaan dengan kedatangan mereka.


Angin masih berhembus, tak henti hentinya mengamuk. Menghantam ranting ranting pohon , mematahkan beberapa diantaranya. Hujan mulai turun, rintik-rintik nya menetes di kaca jendela, udara yang semakin dingin membuat mereka sedikit menggigil.


Mereka berlima meringkuk di dalam mobil, saling menghangatkan saat tubuh berhimpitan. Alingga yang duduk di kursi sopir terjaga semalam, ia tak bisa memejamkan matanya, begadang sepanjang malam hingga fajar mulai menyingsing mengubah langit gelap menjadi putih kebiruan.


Sebelum semua orang bangun, Alingga sudah lebih dulu pergi. Ia meninggalkan mereka yang masih bergumul dengan mimpi. Alingga menuju tempat yang sebelumnya mereka lewati. Saat pagi tempat itu tak terlalu menyeramkan, pemandangan hijau terlukis sejauh matanya memandang. Pohon pohon berbaris rapi memanjakan mata, menyaksikan burung burung yang keluar dari sarang, hingga binatang pengerat yang mulai berlarian di dahan dahan pohon.


Ia mulai melihat tujuannya, rumah bergaya klasik dengan warna coklat kehitaman menyembul diantara rapatnya pepohonan. Alingga melihat jejak langkah nya malam tadi, ia melihat pelataran rumah itu lebih jelas dari yang ia lihat sebelumnya.


Benar saja ia melihat jejak lain yang memasuki rumah itu, jejak lintasan Ular hingga beberapa meter panjangnya. Jejak itu berakhir di pintu masuk rumah, dengan sisa tanah yang mulai mengering di lantai kayu.

__ADS_1


Alingga mendorong perlahan pintu kayu, berderit beberapa saat, menampakkan ruangan depan yang gelap. Alingga sedikit ragu, ia bimbang, melanjutkan atau kembali tanpa membawa jawaban. Sayang nya jiwanya merasa terpanggil, ia tidak bisa menolak godaan itu, sebuah misteri yang ada di depan matanya.


Langkahnya penuh kehati-hatian, ia tak bisa lengah, di sarang musuh setiap pergerakan nya menuju pedang, siap menghunus nya kapan saja.


Alingga kembali di ruangan dengan pintu yang terkunci, ia masih belum bisa menyelesaikan petunjuk di depan nya.


Sesosok wanita berdiri di belakang Alingga, mengawasi setiap tindakan Alingga yang mencurigakan. Alingga juga menyadari kehadiran sosok lain selain dirinya, ia berhati-hati, berpura pura tidak tau dan terus terusan menerjemahkan makna yang tertulis di pintu terkunci.


"Jika jadi kamu aku tidak akan pernah membuka pintu itu!" Suara serak tiba tiba saja terdengar, Alingga berbalik menatap sosok wanita dengan memakai kemben dan rambut yang di sanggul. Alingga terpesona, wanita dihadapan nya memiliki paras yang luar biasa cantik nya, wajah nya mengulum senyum, menarik Alingga untuk lebih dekat lagi dengan gadis itu.


"Kemari lah .. " ucap wanita itu lagi dengan senyum yang semakin melebar.


Alingga menurut, semakin mendekat lalu berlulut di hadapan wanita itu. Wanita itu terlihat puas, ia membelai lembut kepala Alingga dengan jari jemarinya yang lentik. Alingga semakin terbuai, hanyut dalam perlakuan lembut gadis itu. Entah tersihir atau memang Alingga sudah kehilangan akal, ia layaknya boneka yang menuruti apapun yang diinginkan pemilik nya.


Namun, tiba-tiba saja Alingga berteriak. Ia mengeluarkan sebilah pisau, mengayunkan kearah wanita itu.

__ADS_1


"Iblis Sialan!" Wanita itu lengah, dadanya tersayat pisau yang Alingga genggam. Darah kehitaman keluar dari bekas luka yang cukup dalam. Wanita itu berteriak, suaranya melengking bersamaan dengan tubuhnya yang mundur kebelakang. Wanita itu berubah wujud, kulit tubuhnya tak semulus tadi, berkeriput dan penuh dengan borok. Tubuhnya mengeluarkan Aroma busuk dengan beberapa yang sudah bernanah.


Alingga berdiri, melihat secara langsung bentuk asli iblis itu. Ia mengejarnya nya hingga menuruni sebuah tangga menuju lorong di bawah tanah, Alingga berhenti tepat di depan undakan tangga itu. Ia ragu haruskah mengikuti iblis itu atau ia harus mencari Lewung terlebih dahulu. Ia menepiskan ego-nya, ada hal yang lebih penting yang harus ia urus, berurusan dengan iblis tak akan ada habisnya, ia tidak ingin terjebak di dalam permainan yang mereka ciptakan.


__ADS_2