Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 59: Gudang


__ADS_3

Rencana dijalankan. Mereka bersiap siap saat matahari tengah terik. Debu debu tersapu angin, melewati tubuh Alingga yang sedang berdiri di halaman depan. Ia memandang ke arah Sopir yang tengah memanaskan mesin, begitupula dengan yang lainnya, duduk selaras di teras rumah.


Alingga mendekati Syarif yang tengah duduk di undakan tangga, wajahnya lesu dengan bola mata yang terus terusan memandang kumpulan semut. Ia sengaja duduk tepat di samping Syarif, ia ingin berbicara kepada temannya itu.


"Kamu bisa kan jaga Laras?" tanya Alingga setelah beberapa saat lamanya. Syarif menoleh, menahan ekspresi kesalnya.


"Aku? Ali .. Yang bener aja! Enggak, aku mau ikut!" bantah Syarif saat Alingga meminta nya untuk tetap tinggal di rumah.


"Yakin? Enggak pingsan nanti?"


"Wah.. Kebangetan kamu! Aku bisa jaga diri, Ali! Kamu liat aku bisa keluar dari gerbang Segoro yang mustahil dilakukan, Kan? Masih meragukan aku?" Syarif tetap menolak dan terus meyakinkan Alingga untuk membawanya dalam ekspedisi ini. Sebenarnya Alingga juga tidak bisa memaksa Syarif, tapi siapa yang akan menjaga Laras jika mereka semua pergi.


"Gini Rip, Aku ngerti kamu juga ingin ikut misi ini. Tapi, siap nanti yang jaga Laras kalau semuanya pergi? Laras itu penting, terutama bayi nya! Percuma aja kita ngumpulin Lewung sampe taruhan nyawa, kalau Laras nya sampe kenapa kenapa, semua jadi sia sia." bujuk Alingga. Alingga tau Syarif tidak akan pernah menolak permintaan nya. Tapi, ia juga ingin Syarif menerima tugas itu dengan pemikiran yang terbuka, bukan karena terpaksa.


"Gimana, bisakan aku percaya sama kamu? Aku tau kamu bisa, Rip." ucap Alingga dengan nada lembut, ia berusaha meyakinkan Syarif bahwa pilihan itu bukan lah sesuatu hal yang buruk.


Sementara itu tampaknya Syarif mulai luluh, ia sedikit tersenyum, kemudian mengangguk tanda setuju dengan permintaan Alingga itu. Alingga menepuk bahu Syarif, lalu berdiri, berjalan dengan langkah pasti, menghampiri Zainal dan Juhri yang duduk di teras paling ujung.

__ADS_1


"Oke, Kita berangkat!" Setelah mendengar intruksi dari Alingga, mereka segera memasuki mobil. Syarif menatap lesu saat mobil itu melaju meninggalkan pelataran rumah, debu mengepul dihadapan nya membuat nya sedikit terbatuk-batuk. Ia kembali memasuki Rumah saat mobil itu tak lagi nampak dalam pandangan nya.


"Syarif enggak ikut, Ngga?" tanya Zainal. Mereka duduk bersebelahan. Sementara di kursi depan Danu mencoba mencuri dengar pembicaraan keduanya. Alingga menggeleng, cukup menjawab pertanyaan teman di sebelahnya. Setelah nya ia memejamkan mata, menenangkan hatinya yang berkecamuk dilanda kegelisahan. Ia takut akan tenggelam dalam ketakutan, ia takut kegelapan akan melahapnya, seperti dulu saat ia masih sering terperdaya tipu muslihat iblis.


...*** ...


Hari menjelang sore, sebuah mobil hitam memasuki halaman kost kostan. Dari dalam mobil, Lima orang lelaki keluar secara bergantian. Alingga terlebih dahulu, ia melihat sekeliling, menatap bangunan yang sudah beberapa hari tidak dirawat, daun daun kering menumpuk di halaman, dan debu debu tebal yang memenuhi lantai kost kostan.


Alingga berjalan lebih dulu, lalu diikuti oleh Juhri, dan di posisi terakhir adalah Zainal. Sopir itu diminta untuk menunggu di luar, harus ada yang mengawasi jika ada sesuatu yang mungkin saja mencurigakan.


Alingga bertanya kepada Juhri dimana gudang yang dimaksudkan nya semalam. Juhri menunjukkan, ia memgarah pada sebuah ruangan yang menjorok di bawah tangga. Ruangan gelap dengan pintu yang di gembok rantai.


Saat tiba di depan pintu, mereka berhenti, saling terdiam. Sementara dia sibuk mengintip melalui celah di pintu itu, Alingga meminta Zainal untuk mengambil tang dari bagasi mobil. Beberapa saat kemudian Zainal kembali, membawa sebuah tang besar dan satu buah linggis untuk berjaga-jaga.


Alingga memotong rantai yang menyegel pintu, Danu mencoba mendorong pintu yang cukup berat untuk di dorong. Didalam ruangan sangat pengap, udaranya lembab dengan aroma apak dari debu debu yang sudah menumpuk. Alingga mendahului semuanya masuk kedalam, ia membawa sebuah senter kecil untuk memeriksa isi dari ruangan itu. Di belakangnya, Zainal, Danu dan Juhri mengekori nya, mereka masing masing membawa senter kecil untuk membantu penglihatan mereka.


Didalam ruangan terdapat banyak barang barang tak terpakai yang di selimuti kain putih. Terutama perabotan seperti lemari dan beberapa kotak yang di kunci. Juhri memimpin jalan, mendahului Alingga yang masih sibuk mengamati sekitar. menuju sebuah lorong sepanjang dua meter yang menurun kebawah menuju ruangan di bawahnya.

__ADS_1


Saat mereka tiba di ruangan bawah, mereka melihat pintu yang lagi lagi terkunci. Alingga meminta Zainal untuk membuka nya secara paksa dengan linggis yang dibawanya. Awalnya ia kesulitan membuka pintu itu, tapi beberapa saat kemudian ia seperti mendapat kekuatan lebih yang membuat nya bisa menaklukkan pintu.


Pintu terbuka, di dalam sana ada beberapa peti mati dengan sisa sisa lilin di atas nya. Mereka satu persatu masuk secara bergantian, Juhri menghampiri salah satu kotak dan hendymembuka penutup nya. Tapi peti itu di paku sangat rapat, sehingga ia memerlukan bantuan Zainal untuk membukanya.


"Untuk apa semua peti ini?" tanya Zainal kebingungan, ia bertanya sambil mendongkrak tutup peti yang di paku. Juhri menatap Zainal, lalu Danu di sebelahnya dan berakhir dengan menatap Alingga.


"Kuburan.." ucap Juhri singkat. Jawaban Juhri menghentikan tindakan Zainal, ia mengurungkan niat untuk membuka peti itu.


"Buka aja, Lewung itu di simpan di setiap peti itu. Jumlahnya tak tertentu. Ada yang berisi dua atau lebih, bahkan ada yang kosong." Juhri meminta Zainal untuk melanjutkan membongkar peti karena hanya dia yang membawa linggis. Sementara yang lainya mengawasi tindakan nya dari belakang.


"Kenapa disimpan di dalam peti? Lalu, disetiap peti memiliki bekas lilin yang sudah dibakar. Untuk apa semua itu?" tanya Alingga kepada Juhri, mengisi kekosongan dengan bertanya.


Juhri menoleh kearahnya, lalu tersenyum. "Aku tidak tau, mungkin itu ritual untuk mengikat jiwa jiwa mereka."


Alingga berpaling, ia tidak mendapatkan jawaban yang di harapkan. Tapi, perkataan Juhri ada benarnya. Bisa jadi semua peti mati ini sebelumnya digunakan untuk ritual mengikat sukma.


Sementara itu, saat Alingga masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Zainal telah berhasil membuka peti itu. Debu dari atas peti longsor kebawah, saat Zainal mendorong peti itu dan menjatuhkan nya kebawah. Suara berdebum membuyarkan lamunan Alingga, ia mendekat ingin melihat sendiri isi dari peti mati itu. Namun, isinya tidak seperti yang dibayangkan nya. Di dalam sana terdapat seonggok mayat yang telah membusuk.

__ADS_1


Selain mayat, di dalam peti mati masih ada sebuah kotak kecil yang di kerubungi ribuan belatung. Danu menahan mual, mundur tak ingin melihat lebih lama lagi. Sementara itu, Alingga tanpa ragu mengambil Kotak dengan belatung yang kini menempel pada telapak tangan nya.


__ADS_2