Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 42: Buku tua


__ADS_3

"Dia datang.. " Mas Yanto berujar lirih. Matanya terpejam, namun kegelisahan terlukis dari wajahnya, ia berulang kali menyebutkan kalimat yang sama, takut akan sesuatu, takut akan kematian yang beberapa kali telah mengunjungi nya.


Di sisi lain tak jauh dari tempatnya berbaring, Alingga duduk di salah satu Ranjang kosong dengan beberapa lembar kertas yang tersusun acak. Di salah satu kertas yang sudah sangat lusuh, terdapat gambar seseorang yang tengah dililit sulur tanaman, lebih tepatnya lagi sulur itu keluar dari tubuh orang tersebut, dan melilit tubuh nya sendiri dengan duri duri tajam di setiap ruas tanaman tersebut.


Saat mendengar Mas Yanto mulai meracau tak jelas, Alingga menghampiri laki laki tersebut. Ia menggoyangkan tubuh pria yang tengah dirawat itu dengan perlahan. Tubuh Mas Yanto mengejang, selimut yang menutupi kaki nya terhempas kelantai, beberapa kali tangannya memukul mukul kepalanya sendiri, dan terakhir tangan itu mencekik pangkal lehernya.


Alingga menarik paksa tangan Mas Yanto, ia telah kehabisan nafas, sebuah bekas kemerahan tercetak dari bekas cekikan nya sendiri. Mas Yanto terbangun, duduk diatas ranjang rumah sakit dengan kondisi yang sangat kacau.


"Mas.. Dia datang. Wanita itu dia datang!" Mas Yanto meracau lagi, menyebut tentang wanita yang menghampiri nya.


"Tenang sek mas, Cerita yang jelas, maksud e sampean gimana?" Alingga menenangkan mas Yanto memberinya segelas air untuk mengurangi dehidrasi tubuh nya. Beberapa saat kemudian saat kondisinya sudah stabil, dia mulai bercerita pada Alingga , tentang mimpi nya barusan, dan tentang wanita yang semalam mengunjungi nya.


"Wanita itu datang lagi. Disini ngga, di ruangan ini!"


Alingga sedikit berfikir, dia masih belum yakin wanita mana yang dimaksudkan Mas Yanto.


"Yang sampean bilang semalam, soal kemuning? Sampean yakin itu kemuning?" tanya Alingga menyelidik. Mas yanto melirik ke arah Alingga, tatapan nya teguh, meyakinkan Alingga tidak ada sedikitpun kebohongan di matanya.


"Kenapa dia mengejar Sampean mas? Apa yang sebenarnya dia cari. "

__ADS_1


Mas Yanto tak dapat menjawab pertanyaan Alingga, bukan nya tidak ingin menjawab, tapi karena dia Sendiri tidak tahu jawabannya.


Alingga kembali duduk diranjang kosong tempat kerta kertas itu berserakan, Kembali mengamati potongan kertas itu dengan eskpresi lelah. Lembar demi lembar ia susun berurutan untuk menemukan titik terang dari masalah nya. Terutama petunjuk dari buku yang dibawanya dari kediaman Mbah Slamet.


"Ngga.. " panggil Mas Yanto dari ranjangnya.


Alingga menoleh, menunggu ucapan selanjutnya dari Mas Yanto.


"Kamu ndak pengen ngerti kemana perginya Doni?" tanya Mas Yanto tiba tiba.


Beberapa hari ini pikiran Alingga cukup kacau, ia bahkan tidak menyadari salah satu dari mereka menghilang.


Mas Yanto menarik kepalanya, menatap langit-langit ruangan, tangan nya memegang bekas tusukan pisau.


"Dia yang sudah nyerang saya!" ucap Mas Yanto dengan tangan kanan mengepal. Alingga terbelalak mendengar penuturan Mas Yanto, setelah sekian banyak nya masalah yang mereka lewati bersama, bagaimana mungkin Doni mengkhianati mereka, apalagi sampai menyerang teman nya sendiri.


"T-tapi bukannya Juhri? Aku dewe seng ngejar bocah e!" Alingga berbicara masih dari tempatnya duduk, begitu pula Mas Yanto tampak menerawang ingatan sebelumnya saat Doni secara membabi buta menghujamkan senjata tajam kearahnya.


"Iya, mereka berdua berkomplot. Sejak awal aku wes curiga karo bocah kae."

__ADS_1


"Ileng wektu neng kost kostan, sedurunge awakmu teko. Aku tau ngonangi dek e ngomong dewean neng njero kamar e." (Ingat sewaktu masih di kost kostan, sebelum kamu datang. Aku pernah mergoki dia berbicara sendirian di dalam kamarnya.)


"Awalnya tak pikir bukan masalah seng gede. Tapi, setelah dek e mbukak identitas asline, masuk akal sopo seng diajak ngobrol bocah kae wektu iku." ( Awalnya aku pikir bukan masalah yang besar. Tapi, setelah dia membuka identitas nya yang sebenarnya, masuk akal siapa yang dia ajak bicara waktu itu.) lanjut Mas Yanto menyelesaikan penjelasan.


Alingga masih syok, kenapa ia tidak menyadari adanya mata mata dalam kelompoknya, pantas saja lasmi tau saat mereka memasuki paviliun utama. Alingga terlalu banyak berfikir, kemudian ia teringat pada Syarif yang ia kirim ke desa Laweh. Sudah beberapa hari ini Alingga tidak menghubungi Syarif, ia tidak tau persis bagaimana keadaan mereka sekarang.


Alingga mengambil handphone nya dari dalam tas ransel, batere yang tersisa hanya tinggal 10% karena memang sudah beberapa hari ini tidak ia isi ulang. Alingga segera memeriksakan riwayat panggilan, disana Syarif tampak menghubungi Alingga beberapa kali, dan yang terbaru adalah sore tadi saat ia sedang memakamkan mendiang mbah Slamet di dekat rumahnya.


Alingga gelisah, sudah beberapa kali nomor yang dihubungi nya tidak menjawab, hanya bunyi berdering dan berakhir tanpa jawaban. Alingga berniat menyusul Mereka ke rumah gurunya, ia khawatir terjadi sesuatu selama perjalanan mereka. Belum lagi yang dia percayakan adalah Syarif, ia semakin gelisah mengingat Syarif yang sudah beberapa kali pingsan karena ketakutan. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada mereka, tentu Alingga akan merasa sangat bersalah karena gagal melindungi orang-orang terdekatnya.


Di satu sisi Alingga juga tidak mungkin meninggalkan Mas Yanto dalam kondisi seperti ini, dilihat apa yang terjadi malam tadi, tentunya Alingga tak akan mengambil resiko lain yang dapat membahayakan nyawa teman temannya. Dia harus mengambil keputusan, tetap tinggal. Dia percaya mereka akan baik baik saja tanpa nya, meskipun keraguan masih mengikis perasaan nya, namun ia tak punya pilihan lain selain menguatkan diri.


Alingga kembali membolak-balik kan buku tua itu meskipun perasaan nya masih berkecamuk, dia masih memiliki waktu beberapa hari lagi, setidaknya ada sedikit petunjuk yang bisa ia dapatkan dari buku peninggalan mbak Slamet tersebut.


Ada sebuah halaman yang kembali menyita perhatian nya, halaman tersebut terlihat kosong namun Alingga sangat yakin ada sesuatu yang tertulis dari halaman tersebut. Namun, beberapa kali ia mencoba satu kata pun tak pernah muncul dari lembar halaman tersebut.


Alingga membanting buku itu keras keras, ia berdecak kesal, amarah memuncak di bumbui kegelisahan hatinya. Ia mengacak acak rambutnya, menyalahkan ketidakmampuan nya menyelesaikan masalah ini.


Di tengah kegelisahan nya, ia tiba-tiba saja teringat sesuatu. Alingga mengirim pesan pada seseorang yang ia beri nama Danu, sebuah pesan singkat yang memintanya untuk datang kerumah sakit ini secepatnya. Namun, saat Alingga baru saja mengirim kan pesan tersebut, tiba tiba saja lampu di langit-langit ruangan padam, angin bergemuruh menggoyangkan pepohonan di belakang rumah sakit. Alingga tercekat, ia meraba raba ranjang rumah sakit mengumpulkan kembali kertas kertas yang ia letakkan disana, dalam kegelapan Alingga samar samar melihat sesosok orang tengah berdiri di pintu masuk, berdiri tegak menunggu Alingga kembali lengah.

__ADS_1


__ADS_2