Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 50: Gadis Kecil


__ADS_3

Embun menetes, rerumputan basah di sibak paksa oleh seorang pemuda yang tengah berlarian di antara semak belukar. Hutan enggan menyambut nya, menyembunyikan vegetasi nya dari jamahan tangan manusia. Ia terus berlari, sesekali melompati pohon tumbang yang telah di makan lumut. Jamur jamur kecil tumbuh di batang batang kayu yang membusuk, ada yang mencolok, ada yang menarik, namun dibaliknya tersembunyi racun yang dapat membunuh siapapun yang berani menyentuh nya.


Jalan yang di tempuh pemuda itu tidak lah mudah, bukan nya dia tidak takut terhadap binatang liar. Dia takut, sama seperti manusia pada umumnya. Namun, ada yang ia lebih takutkan dari sekadar buas nya binatang liar. Sesuatu itu akan membawanya tenggelam dalam kegelapan, mengikat kakinya dengan rantai, memaku tangan nya dengan tembaga panas, hingga menyeretnya hingga kulit kulit nya mengelupas.


Doni terpaksa meninggalkan Sumi di pondok itu. Sebagai abdi yang paling dipercaya Wijaya, tentunya ia tidak bisa leluasa bergerak. Akan sangat beresiko membawanya sebelum ia benar benar terlepas dari keluarga itu.


Pepohonan yang melindungi nya dari sengatan matahari hampir mencapai batas akhir, di ujung pandangan nya cahaya terang menyinari daun daun perkebunan sawi. Doni mempercepat larinya, melewati galengan kebun menuju perumahan di ujung tanah perkebunan.


Tujuan Doni masih belum tercapai, ia harus mengantar kan potongan jari itu. Jalan yang di tempuhnya masih memakan waktu beberapa jam lagi, jika tidak disegerakan takutnya Lasmi akan mengirim Juhri untuk memburu Sumi.


Sementara itu Sumi yang di tinggalkan seorang diri hanya duduk dengan kaki menjuntai di atas sebuah gubuk, ia tengah menikmati tetesan air sisa hujan semalam. Aroma lumpur dan rerumputan hijau menyeruak memenuhi rongga hidung Sumi, udara segar yang sudah lama tidak bisa ia nikmati selama hidup dalam tembok keluarga Wijaya kini tengah memanjangkan matanya.


Dihadapan nya hanya ada semak belukar dan deretan pohon liar berdiameter besar. Pilar pilar itu tumbuh kokoh di atas tanah bekas pertumpahan darah. Daun nya hijau dengan dahan besar yang kuat untuk menopang tupai tupai yang suka berlarian, bunganya putih berguguran diatas tanah berlumpur, aroma nya harum seperti disiram literan parfum.

__ADS_1


Diam nya dia menarik perhatian seseorang dari balik pohon pohon besar, Sosok berbulu hitam kecoklatan mengawasi nya semenjak ia di tinggalkan Doni sendirian di gubuk itu.


Tempat itu sangat jauh dari pemukiman, adanya gubuk di tengah hutan menjadi tanda tanya besar dalam benak Sumi. Tapi pemikiran buruk harus segera ia tepis, selain untuk menguatkan dirinya, ia juga takut hal tersebut menjadi nyata.


Masih terdiam dalam lamunan, semak semak di hadapan nya bergoyang-goyang, suara langkah kaki terdengar semakin mendekat bersamaan dengan suara Geraman dari binatang buas. Sumi menarik kakinya keatas—berdiri, bersikap waspada sementara matanya menelisik keadaan sekitar.


Sumi sudah terbiasa keluar masuk hutan, entah itu di malam hari ataupun di siang hari. Banyak gangguan yang ia temui dari mulai binatang buas hingga mahkluk kegelapan yang menawarkan perjanjian. Tentunya dalam keadaan seperti ini ia sudah siap dengan segala kemungkinan.


...***...


Danu berjalan di lorong rumah sakit, menuju halaman luar rumah sakit ini. Beberapa saat yang lalu pertarungan nya dengan makhluk makhluk itu cukup menguras energi nya. Ia terlihat pucat, sorot matanya sayu dengan tubuh yang sedikit lunglai. Sesekali ia mencengkram kerah baju nya, melepas satu kancing hingga sedikit terlihat kulit dadanya.


Danu bersandar pada sebuah dinding, nafasnya sedikit sesak. Satu tarikan nafas panjang menjadi bekal nya untuk melanjutkan langkah. Hingga tiba di halaman depan, terlihat parkiran dipenuhi kendaraan roda empat dan roda dua yang saling berhimpitan. Danu melangkah, menuju sebuah kursi taman di bawah pohon Ketapang. Ia duduk, meneguk air mineral dari botol yang di bawanya.

__ADS_1


Matanya menangkap sosok gadis kecil yang mengenakan dress berwarna tosca, berdiri di dekat pintu masuk, menatap tanpa ekspresi ke arah Danu. Awalnya Danu tidak memperdulikan kehadiran sosok itu. Namun, semakin lama jiwa nya terasa terpanggil untuk mendekat. Sekedar bertanya siapa dia, atau menawarinya satu cone es cream untuk ia nikmati.


Sayangnya gadis kecil itu tidak menginginkan nya, dia berbalik lalu berlari memasuki gedung rumah sakit. Danu menatap nanar, ia kembali pada posisi sebelumnya, mengutak-atik isi handphone jadul nya.


Saat Danu tengah asyik bermain dengan handphone nya, gadis itu datang kembali. Namun, kali ini ia membawa secarik kertas, berdiri dihadapan Danu, menggenggam kertas itu erat erat. Danu mengulum senyum, berusaha membuat gadis itu tidak ketakutan. Terkadang Danu melakukan hal konyol untuk menyenangkan beberapa anak kecil yang di temui nya. Bukan tanpa alasan, ia begitu menginginkan kehadiran seorang anak dalam rumah tangga nya. Tapi, tuhan berkendara lain. Hingga detik ini ia masih belum mendapatkan apa yang di inginkan nya.


Gadis itu memberikan secarik kertas yang ada pada genggaman nya, kertas lusuh itu Danu terima dengan penuh tanda tanya. Sebelum gadis kecil itu pergi, ia menggenggam tangan Danu dengan erat, menatap dengan bola matanya yang berkaca-kaca, lalu pergi menghampiri ibunya yang terus terusan memanggilnya dari dalam rumah sakit.


Danu menatap gadis kecil itu berlalu, hingga ia benar-benar lenyap dari pandangan nya. Danu membuka perlahan kertas yang diberikan, hanya ada sebuah gambar dan satu kata tertulis disana. Gambar penuh coretan membentuk siluet bayangan dengan wajah menyeramkan. Danu terbelalak karena di dalam gambar itu ia juga melihat seseorang yang tengah di bawa bayangan itu. Sedangkan kata yang tertulis tidak dapat Danu baca.


Angin menerbangkan kertas yang Danu pegang, bulu kuduk nya meremang. perasaan tidak nyaman menghinggapi nya, ada kekhawatiran yang Danu sendiri tidak tahu apa. Ia berdiri melangkah kan kakinya menuju bangunan Rumah sakit. Langkah kakinya tak berirama, ia berjalan tergesa-gesa, terkadang sedikit berlari. Hingga saat ia tiba di koridor melati, jantung nya seolah berhenti berdetak. Pemandangan di hadapannya tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.


Di sepanjang koridor itu, berdiri puluhan pocong berbagai bentuk. Memenuhi Koridor seperti bonggol Pisang sehabis di tebang. Danu mencium bau busuk yang amat menyengat, hingga terdengar suara gamelan dan kidung Gondo Kembang yang mengalun merdu. Danu terdiam, otaknya membeku tak bisa ia gunakan. Ia mematung hanyut dalam suara kidung itu, samar samar ia melihat Mas Yanto berjalan di antara puluhan pocong itu dengan tatapan kosong, sebelum pandangan nya menggelap, lalu ambruk tak sadar kan diri.

__ADS_1


__ADS_2