Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 56: Alasan


__ADS_3

Cahaya hangat bersinar, pagi yang cerah disambut dengan kicauan burung Murai dan rengekan ranting ranting patah. Dedaunan hijau menyerap cahaya matahari, memproses fotosintesis untuk disalurkan ke seluruh tubuh. Alam tengah berbahagia, menyambut harapan baru. Begitupula dengan Alingga, wajahnya sumringah sejak ia menapaki pelataran depan rumah kayu.


Sebelum matahari terbit Alingga sudah tidak ada dirumah, ia keluar menuju perbatasan desa dengan Alas Ruwah. Desa ini memang dekat dengan Alas Ruwah, di pisahkan sebuah jembatan lalu hamparan ilalang dan semak semak belukar. Jauh di depan sana, tumbuh vegetasi hutan tempat iblis iblis itu bersemayam.


Lokasinya tepat di belakang desa ini. Sebenarnya ada beberapa desa lagi yang mengapit Hutan itu, di selatan berbatasan dengan desa Kalipuro, di tenggara ada desa Karangjati, dan disebelah barat di apit desa Grobogan. Sedangkan desa Laweh sendiri, satu satunya desa terpencil di seluruh Kabupaten.


Melihat Kondisi geografi Alas Ruwah, Wijaya mungkin datang ke Alas Ruwah melalui desa Grobogan yang posisinya lebih dekat dari kediamannya.


Hutan ini cukup Luas, membentang di atas tanah yang belum terjamah. Siapa pula yang berani mengganggu hutan itu, baru menginjak kan kaki saja semua sudah dibuat kocar kacir oleh para penunggu nya. Itulah mengapa, hutan ini di desas desus kan sangat angker.


Alingga berdiri disisi jembatan, menatap ribuan pohon di hadapannya. Sejak matahari belum terbit ia sudah berada disana, menghalau udara dingin dengan berselimut kan sarung dengan motif kotak kotak. Alingga mengigit bibir bagian bawahnya, di matanya hutan itu seperti sebuah neraka. Bentuk bentuk tak beraturan memenuhi setiap sudut tempat itu. Aura hitam menyelimuti hingga cahaya matahari tak mampu menembusnya.


Di tengah tengah lamunan nya seseorang datang menghampiri nya, lelaki dengan tubuh sedikit berisi. Lelaki itu adalah Juhri, ia mengenakan pakaian semalam yang di beberapa bagian tampak koyak. Ia datang dengan penampilan yang kumal, entah apa yang ia lakukan semalam hingga tubuhnya terlihat memprihatinkan.


"Tugas ku hanya sedikit, Kan?" tanya Juhri tepat di samping Alingga. Mereka berdua menatap Alas Ruwah dengan ekspresi yang tidak terbaca.

__ADS_1


"Jangan berbicara seolah olah kita berteman akrab!" ucap Alingga tanpa menoleh sedikit pun.


Juhri menoleh, sedikit tersenyum, lalu kembali menatap pepohonan.


"Jauh di dalam sana, terdapat sebuah rumah kayu. Dahulu sekali selalu ramai di kunjungi. Beberapa orang besar yang mengabdi kan dirinya pada Ratu Ranggas. Mereka bersatu, tapi sayangnya keserakahan menguasai hati mereka. Mereka saling membunuh, berusaha menjadi satu satunya yang berkuasa." Juhri mulai bercerita, kisah tentang masa lalu Alas Ruwah, dan sebuah rumah kayu yang biasa mereka jadikan tempat ritual.


Alingga hanya diam, tidak menanggapi cerita Juhri. Dia sedikitpun tidak ingin berbicara dengan orang itu.


"Hingga pada akhirnya, hanya Wijaya dan Darmoloyo lah yang tetap bertahan. Ki Sedo dan Sardi membuat perjanjian, tidak ada pertumpahan darah lagi diantara mereka. Tapi, sayang nya Adhitama, putra satu satunya melanggar perjanjian itu. Dia menghabisi seluruh keluarga Darmoloyo, dan hanya menyisakan Laras seorang. Semua abdi keluarga Wijaya tau kisah ini, orang brengsek itu terus terus memaksaku membereskan perbuatan kotornya!"


"Jika sudah tau dia orang brengsek, seharusnya jangan menuruti keinginan nya!" ucap Alingga dengan nada dingin, ia begitu membenci perbuatan Juhri.


"Apa kamu punya keluarga? Bagaimana rasanya jika seseorang yang kamu cintai di habisi di depan mata mu sendiri?" Alingga kembali menoleh, menatap Juhri dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.


"Seluruh keluarga ku sudah di babat habis oleh Wijaya, hanya tersisa aku dan satu satunya putri ku! Setiap aku gagal melakukan tugas, satu nyawa keluarga ku melayang, dan sekarang sedikit pun aku tidak rela jika Wijaya sampai menyentuh sehelai pun rambutnya. Selamat kan dia! Aku akan membayar semua dosa dosaku! Bahkan, jika kamu meminta ku untuk mati, Aku siap! Akan kulakukan itu." Juhri memohon kepada Alingga, matanya sedikit sembab saat ia menceritakan tentang putri tunggalnya.

__ADS_1


Alingga sedikit goyah, meski tidak menanggapi ucapan Juhri, didalam hatinya ia juga merasakan apa yang dirasakan Juhri. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang begitu ia cintai, apalagi keluarga sedarah.


Alingga meninggalkan Juhri yang masih sibuk menghapus air matanya, ia berjalan di jalan setapak berkerikil. Saat sudah cukup jauh dari jembatan, ia berhenti, membalikkan tubuhnya, menatap Juhri yang masih menangis tersedu sedu. Ia memahami perasaan Seorang Ayah yang takut kehilangan Putri nya, bahkan, ia rela melakukan apapun agar putri nya dapat selamat.


Tanpa terasa, kesedihan yang ia tahan perlahan tumpah. Air mata itu mengalir bebas dari matanya yang memerah, membasahi pipi nya yang belum tersentuh air. Juhri berhasil mengingat kan nya pada kejadian masa lalu.


Alingga yang terlihat tegar pun juga memiliki sisi lemah, saat sisi itu dihantam, ia pun akan goyah, bahkan hancur. Namun, saat ada pada posisi itu, kembalilah bangkit, tunjukkan kelemahan itu bukan lah penghalang yang akan menghambat langkah mu.


Setelah selesai dengan kesedihan nya, Alingga melanjutkan perjalanan. Ia menghapus air mata yang masih tersisa, ia tidak ingin membuat kehebohan, apalagi kalau sampai Syarif melihatnya. Masalah kecil akan ia besar besar kan.


Masih di jalanan, penduduk sekitar sudah mulai beraktifitas seperti biasanya, beberapa wanita berlalu lalang, dan para pria biasanya sudah menuju kebun pribadi nya di Utara desa. Saat berpapasan seseorang, Alingga menyapa nya tanpa pandang buluh. Ia memang ramah, meskipun terlihat kaku dan sedikit kuno, tapi Alingga memiliki hati yang baik.


Alingga tiba di depan rumah, masih belum nampak ada yang beraktivitas. Syarif tidak terlihat, wajar saja dia memang sedikit susah untuk bangun pagi. Sedangkan mbah Ladi pagi pagi sekali telah pergi ke kebun nya. Alingga memasuki rumah, tiba di ruangan depan. Disana, Zainal tengah duduk dengan kaki yang ditekuk, ia masih terpejam, tidur dalam posisi duduk. Sepanjang malam ia menjaga Laras. Bahkan, saat Alingga keluar fajar tadi, ia masih belum memejamkan matanya.


Sementara itu dari arah luar seseorang datang, mengenakan pakaian serba hitam yang tampak kotor. Juhri duduk di teras rumah, memeriksa kakinya yang terluka. Sebuah luka sepanjang 5 sentimeter menghiasi kakinya. Ia hanya membalutnya dengan kain seadanya. Saat ia membuka luka itu, darah sudah berhenti keluar, daging kemerahan itu Juhri berikan obat dari sebuah botol kecil.

__ADS_1


Saat tetesan cairan dalam botol itu menyetuh luka sayatan nya, Juhri merintih. Ia menyumpal mulutnya sendiri dengan sebatang kayu, ia menjerit, menggeget kayu itu untuk menahan sakit. Setelah selesai ia melapisinya dengan rumput sebelum membalutnya kembali dengan kain. Sementara itu Alingga mengamati setiap gerak gerik Juhri dari arah pintu, wajahnya tak ber ekspresi, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan apapun yang tengah dilakukan Juhri disana.


__ADS_2