Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 40: Pagi yang cerah


__ADS_3

Bayang bayang pepohonan tinggi mulai menaungi gubuk kayu di tengah tengah hutan jati, penghuninya masih enggan menyapa, meringkuk disudut ruangan menghalau dingin yang membekukan tubuh mereka semalaman. Garam masih ter genggam di tangan kanannya, Syarif beberapa kali menguap agar kesadaran nya tetap terjaga.


Lingkaran hitam di bawah matanya sudah memperjelas ia memang tidak tidur semalaman, melawan mimpi buruknya sendiri. Jika saja dia tidak melakukan nya, mungkin seharusnya ia bergabung dengan zainal, terbaring di lantai ber selimut kain kafan.


Mbah Ladi berjalan perlahan dengan bantuan tongkat kayu nya, selangkah demi selangkah jarak keduanya semakin dekat. Tangan berkeriput membelai lembut kepala Syarif yang terkantuk-kantuk, Syarif tersentak, memandang keatas tepat kedua pasang mata itu saling bertemu.


"Di resiki sek lee awak e, bar kui gak popo lek arep Tilem!" ( Di bersihkan dulu nak badan nya, setelah itu kalau mau tidur gak papa!)


Syarif tersenyum, mengiyakan ucapan mbah Ladi. Garam yang hampir menyatu dengan telapak tangan nya ia letakkan kembali ketempat nya. Ia beranjak melewati pintu kayu lalu berhenti di teras rumah. Cahaya matahari menghipnotis nya dalam sesaat, pikiran nya berkelana mengingat peristiwa malam tadi, tiba-tiba saja tubuhnya menggelinjang, bergidik ngeri bercampur jijik.


Beberapa hari ini tubuhnya belum tersentuh sedikitpun air, rentetan kejadian memaksanya tenggelam dalam ketakutan. Banyak masalah yang masih belum menemukan titik terang, satu persatu menggerogoti mental nya, menjadi bom waktu yang dapat meledak sewaktu waktu.


Di dalam bilik kayu Syarif lagi lagi tenggelam dalam lamunan nya, dia masih belum sadar sedari tadi ada sosok yang tengah mengamati setiap gerak gerik nya. Setiap satu gayung air yang mengguyur kepalanya kembali mengisi, setiap kali itu pula muncul gumpalan rambut yang tenggelam saat Syarif menatap kendi tanah liat di dalam bilik.


Sekali lagi gumpalan itu mulai muncul saat mata Syarif kembali terpejam. Gumpalan itu mulai menyebar, helaian nya memanjang menjerat leher Syarif, menarik paksa, menenggelamkan kepalanya tepat kedalam kendi tanah liat.


Syarif menghentak hentakan kaki nya beberapa kali, gelembung gelembung kecil mulai muncul di riak riak air, beberapa kali ia berusaha menarik kepalanya, namun sayangnya setiap kali memberontak, jeratan rambut itu semakin erat mencekik nya.

__ADS_1


Seorang pria menarik paksa bahu Syarif, secara spontan kepala yang tenggelam segera terangkat. Nafas Syarif tersengal-sengal, jantung nya memompa lebih cepat, beberapa kali ia memeriksa pangkal lehernya, Tidak ada sedikitpun luka mau bekas yang tertera. Syarif menatap laki laki itu lekat lekat, sampai nafasnya bisa ia kendalikan kembali.


"Sampean kenapa mas?"


Syarif masih diam, pikiran nya kacau bahkan pertanyaan dari sang sopir sedikitpun tidak ia dengar.


"MAS!!" Sang sopir berteriak, menepuk bahu Syarif sampai lawan bicara nya tersentak.


"Sampean kenapa?"Pertanyaan berulang dari sang sopir.


"Mas sek to! Enteni!" ( Mas sebentar lo! Tungguin!) Syarif segera menyusul laki laki itu, ia mengambil pakaian nya tergesa-gesa. Saat jarak nya sudah sejauh 5 meter dari bilik kayu, ia sedikit menoleh untuk memastikan yang terjadi sebelum nya. Di dalam kendi tanah liat, sepotong kepala tiba-tiba saja muncul, mata yang sebelumnya terpejam membuka lebar menatap Syarif dengan senyum menyeringai.


Syarif buru buru menyusul sang sopir yang terpaut jarak 3 meter dari nya, jujur saja berjumpa dengan mahkluk halus di tengah hari bukan lah pertanda bagus. Syarif mendahului jalan tanpa berani lagi menoleh kebelakang, sang sopir menatapnya kebingungan saat melihat Syarif berjalan hanya mengenakan ****** ***** yang basah. Ia mengernyit tanpa tahu kekalutan apa yang tengah dirasakan orang dihadapan nya tersebut.


Di sisi lain di dalam ruang tamu, mbah ladi duduk bersila tepat diatas kepala Zainal dan Laras, kain kafan masih belum di buka, kembang tujuh rupa juga belum di bersihkan. Mata lelaki yang sudah sepuh tersebut terpejam, bibir nya beberapa kali bergetar, sesekali ia menarik nafas panjang mengatur dada nya yang kembang kempis.


Syarif mematung di ambang pintu menatap guru nya yang tengah duduk bersila, pikiran nya tenggelam dalam kesedihan, raut nya tidak menampakan sedikit pun kebahagiaan. Syarif melangkah masuk di ikuti oleh sang sopir, ia berjalan berjingkat agar tidak menggangu kekhusukan guru nya. Namun, Syarif masih belum menyadari sang sopir di belakang nya telah menghilang.

__ADS_1


Di dalam kamar Syarif terkejut mendapati seseorang tengah terbaring diatas ranjang kayu, ia mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan penglihatan nya. Benar siluet kurus tersebut milik sang sopir yang telah mengantarkan nya ke gubuk ini.


"Mas.. Mas!" Syarif menghampiri orang tersebut, disamping ranjang masih dalam posisi berdiri, Syarif menggoyang goyangkan tubuh orang yang sudah setengah tertidur.


Sang sopir tersentak, duduk di samping ranjang dengan kepala yang masih pusing. Ia menatap Syarif, pandangan masih belum tergambar jelas, saat sosok di depan nya memanggil nya kembali, ia baru sadar dari alam mimpi yang terus terusan menghipnotis nya.


"Sampean kok bisa disini mas? Bukan nya tadi ikut saya ke belakang?" tanya Syarif penasaran.


Sang sopir yang ditanyai lebih tidak mengerti lagi. Sedari tadi ia bergelud dengan mimpi indahnya yang sudah beberapa hari ini menghilang, mendengar pertanyaan Syarif membuat kepala nya semakin sakit. Ia kembali membaringkan tubuhnya tanpa menjawab pertanyaan orang tersebut, berusaha menyambung mimpi indah yang sempat terputus.


"MASS!!" Kali ini Syarif berteriak lantang, bukan tanpa sebab, ia berusaha menghalau ketakutan yang mulai singgah dalam pikirannya. Sang sopir bangun, ia mengacak acak rambutnya, kepalanya sangat pusing, di tambah lagi Syarif yang terus terusan mengganggu istirahat nya, Kepalanya benar benar akan meledak.


"Ah-h Ndak ada Mas!! dari tadi saya tidur disini!" jawab sang sopir dengan nada malas.


"Njenengan gak ada kerjaan lain apa selain nge ganggu orang istirahat! Pusing kepala saya denger sampean teriak teriak terus dari tadi! Itu lagi suwal le sampean kemana? Udah kayak orang cabul sampean itu!" Setelah selesai mengeluarkan unek-uneknya sang sopir kembali tertidur, ternyata ucapan sopir tersebut sangat menusuk dalam. Syarif ingat dengan jelas sosok yang menghampiri nya di bilik belakang, jika bukan sang sopir, lalu siapa? pikiran nya Kembali hanyut.


Hawa dingin udara pagi masuk dari sela sela daun jendela, Syarif masih mematung menatap sang sopir yang telah lelap tertidur, sampai beberapa saat lamanya ia baru sadar, mengenakan kembali pakaiannya, lalu pergi keruang tamu menghampiri mbah ladi yang masih belum beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2