
Tanah basah membekas, terkena tekanan dari pijakan sepatu kedua insan. Kotak kotak di susun menggunung, di tumpuk hingga beberapa tingkat tinggi nya. Alingga membawa selusin kotak, ia ikat dengan tanaman merambat untuk menjaga kestabilan nya. Sementara dibelakang, Zainal membalut kotak kotak itu dengan helaian kain putih, menyimpan di dalamnya lebih banyak dari yang Alingga bawa.
Kotak kotak kayu itu cukup berat, Zainal sedikit kewalahan saat menyeret kantong putih yang sudah berubah warna kecoklatan. Diantara belahan semak belukar, matahari bersinar terik mengeringkan embun yang menetap di permukaan daun, membuatnya berkilauan, hingga dedaunan itu menari menemani perjalanan mereka satu kilo meter lagi ke depan.
Ada alasan mengapa jalan mereka sangat lambat, selain karena membawa beban, Alingga masih teringat dengan pintu dengan guratan aksara Jawa. Rasa penasaran membumbung tinggi, mengacaukan kendali fokus pikiran nya. Rasanya ingin sekali ia berlari kembali kebelakang, memecahkan puzzle rumit yang tersusun epic.
Alingga menghentikan langkah.
Menoleh kebelakang, memastikan Zainal masih mengikuti nya di belakang. Tetapi matanya menangkap objek lain, bukan Zainal yang dia khawatirkan, tetapi rumah itu yang terus terus memanggil untuk kembali. Dia memang sudah tidak waras, bahkan kini ia kesulitan membedakan mana yang nyata mana yang hanya imajinasi semata.
"Jika tau akan begini, aku menyesal menyusul mu kedalam hutan!" gerutu Zainal yang bersusah payah menarik buntalan di belakangnya. Nafasnya tak terkendali, peluh menetes hingga membasahi kemejanya. Ia semakin kesal saat Alingga tidak mendengarkan ucapannya. Raganya memang di depan mata, tapi pikiran anak itu berkelana ke ujung dunia, mencari jawaban yang seharusnya tidak ia kejar kejar. Mungkin dia ingin menjadi salah satu pahlawan super, entahlah bisa jadi itu hanyalah bentuk kegilaan nya saja.
"Apa kau masih memikirkan ruangan dengan pintu berukir itu? Jika iya, sebaiknya kau tepis pemikiran itu jauh jauh. Ada alasan mengapa pintu itu di segel dengan sangat ketat, dan hal itu tidak perlu kita campuri. Aku pernah di peringatkan tentang hal ini, jangan mencampuri urusan yang bukan urusan kita, di akhir kita akan sangat menyesali hal itu." Zainal mencoba mengusir lelah dengan mengajak Alingga mengobrol, dengan wataknya saat ini, Alingga pasti tidak memperdulikan ucapan Zainal.
__ADS_1
"Hanya penasaran, tidak lebih dari itu. Memang nya kamu tidak ingin tau apa yang tersembunyi di baliknya? Bisa jadi itu Emas, permata, seluruh harta Wijaya, mungkin. Kita bisa mencuri nya sedikit." ucap Alingga dengan terkekeh, ia membual hal hal yang tidak masuk akal.
Zainal tau benar seperti apa Alingga ini, ia tidak mungkin membayangkan dibalik pintu itu adalah timbunan harta. Alingga tidak pernah tertarik dengan harta, ia hanya menyukai petualanan, memecahkan misteri, dan terkadang mengusili nya. Lelaki pendiam itu tidak terlalu suka bersosialisasi, hidup nya dihabiskan dengan menjelajah. Beruntung saat Syarif menghubungi nya dulu ia segera datang, jika tidak mungkin banyak langkah yang salah sejak awal.
"Aku sangat mengenal kamu, Lingga! Kamu tidak mengharapkan hal itu. Jika kamu berhasil membuka pintu itu, mungkin kamu berharap ada sebuah pusaka yang tersimpan di dalamnya, atau buku buku sejarah dan kitab sakral yang akan membawa mu berpetualang jauh!"
Alingga tersenyum, ia tidak salah. Zainal memang sahabat karibnya yang tahu benar seluk beluk dirinya. Itulah mengapa ia akan membantu menyelesaikan masalah ini sampai tuntas.
Waktu berlalu, tenaga mereka terkuras. Mereka telah tiba di pinggiran jalan, melihat sebuah mobil hitam terparkir dengan penghuninya yang masih terlelap.
"Ada apa dengan mereka, matahari sudah tinggi tapi tidak satupun dari mereka yang berniat untuk bangun!
Alingga menurunkan barang bawanya, menyusunnya di bagasi belakang mobil hitam itu. Dari luar Alingga dapat melihat ketiga temannya sedang lelap tertidur, di kursinya masing masing. Pekerjaan nya hampir selesai, misi telah di tangani, tidak ada salahnya untuk sedikit berleha-leha.
__ADS_1
Pintu bagian samping terbuka, Alingga masuk membiarkan Zainal sendirian di luar yang masih menyusun barang. Ketiga temannya tampak pulas, mungkin sudah berhari-hari mereka tidak bisa tidur nyenyak.
Sebuah tangan menyentuh pundak Zainal, membuat nya sedikit tersentak. Jika ia memiliki riwayat jantung, mungkin dia sudah mengalami kegagalan sistem. Sosok di hadapannya sama persis dengan yang ada di dalam mobil, laki laki itu mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Zainal memeriksa penglihatan nya kembali, kedua sosok ini begitu mirip, setiap detail hingga tanda lahir di bawah telinga benar benar serupa.
Akan sangat kesulitan membedakan keduanya, siapakah Juhri yang asli' ucap Zainal dalam hati.
Zainal mundur saat lelaki itu mendekat, ia menjauh menghampiri Alingga yang duduk di kursi kemudi. Alingga menyadari gelagat aneh Zainal, ia paham dan sangat mengerti. Mereka sedang di permainkan lagi. Lalu bagaimana cara mengetahui Manusia yang asli.
Alingga tidak kehabisan akal, ia mengambil sebuah botol dari dalam sakunya, lalu mendekati Juhri yang ada di luar. Terjadi keributan, semua orang terbangun, begitupula dengan Juhri yang tertidur. Mata mereka mengerjap melihat kedua Juhri yang menatap kebingungan.
"Jika kalian Manusia, kalian tidak akan ragu meminum setetes dari minyak ini!" seru Alingga, ia menantang kedua identik itu. Alingga tahu konsekuensi nya, minyak itu aman terhadap manusia. Tapi, jika jin yang menyentuh nya, seluruh tubuhnya akan melepuh, kulitnya mengelupas. Begitulah yang terjadi pada Juhri yang sebelumnya tertidur. Setelah meminum setetes minyak itu, Juhri jadi jadian menggelepar, ia mulai merasakan efeknya, meraung-raung kesakitan.
Setelah beberapa saat, tubuh Juhri jadi jadian menghilang, hanya menyisakan sedikit debu dari sisa sisa tubuhnya. Semua orang tampak syok, adakalanya Kalian tidak bisa mempercayai orang bahkan yang paling dekat sekalipun. Ada beberapa iblis yang menyamar menjadi manusia, bahkan iblis itu sendiri adalah manusia, dengan kedengkian hatinya, Seseorang akan terjerumus dalam dendam, menghalalkan segala cara. Pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, bahkan pengkhianatan kerap kali terjadi memakan hati manusia dan mengubah nya menjadi sekejam iblis.
__ADS_1