
Alingga gusar lalu mencengkeram pergelangan tangan laras, ia menurunkan zainal yang digendongnya dipunggung nya.
"Njenengan mau bawa kita kemana?"
"Ada satu tempat yang mungkin aja akan aman." Laras berbalik menatap Alingga.
"Mungkin? Kamu mau bawa kita ketempat yang masih mungkin?" Alingga menyela dengan suara yang hampir membentak.
Laras terdiam mendengar ucapan Alingga yang meninggi, ia paham apa yang membuat Alingga begitu marah.
" Saya tau mas sampean marah sama saya karena melibatkan zainal dalam pertikaian kami, saya juga ndak punya pilihan lain, darah hitam mengalir dalam tubuh saya begitupula dengan mas zainal. Sampean paham kan, mau ataupun tidak kita akan tetap terseret dalam masalah ini. Ini takdir mas, sampean gak bisa nolak!"
"Wes lah ngga wes, gas usah di terusno ." ( Udah lah ngga udah, jangan diteruskan.) Syarif yang semula hanya diam maju mencoba menenangkan amarah Alingga yang sedang memuncak.
"Mbak laras saya ijin mau ngobrol berdua sama Alingga nya, bisa kan mbak." Lanjut Syarif.
Laras mengangguk tanda mengerti, setelah nya Syarif segera mengajak Alingga sedikit menjauh dari mereka. Syarif menasehati Alingga agar bersikap baik dengan laras karena bagaimanapun saat ini hanya laras yang bisa menolong zainal. Setelah mereka selesai mengobrol, mereka segera kembali ke rombongan.
"Mbak laras, tempat nya masih jauh lagi ya? " Tanya syarif sopan. Alingga hanya melirik kecut melihat kelakuan syarif, tidak heran lagi Syarif memang seperti itu kepada semua perempuan.
"Ndak mas syarif, sudah dekat." jawab laras sambil tersenyum. Melihat aksi pertama nya direspon Syarif segera meluncurkan aksi keduanya, ia menyusun banyak strategi agar memiliki citra yang bagus di depan wanita.
"Mbak laras kalo capek bilang ya, nanti saya bantu gendong. Saya kuat lo mbak , orang saya dulu hampir aja ikut turnamen di bangkok, tapi ya itu gara gara telat dateng jadi ketinggalan pesawat." Jelas Syarif dengan percaya diri. Mas yanto di belakang nya menahan tawa mendengar penuturan syarif.
"Yakin rip, orang liat setan kepala buntung aja pingsan kok mau ikutan turnamen ke bangkok." ucap mas yanto meremehkan, doni di sebelah nya pun tertawa terbahak-bahak.
"Eh lah mas Yanto sampean jangan gitu, ini beda jalur lo mas. Ini kan maksudnya fisik saya yang kuat gitu lo, kalo masalah mahkluk halus ya bisalah di bicarakan baik-baik." Jawab syarif buru buru menyelamatkan citra nya.
__ADS_1
"Apanya to yang di bicarakan baik-baik, kalo takut ngaku aja to rip Sarip." Ledek mas Yanto lagi.
"Sttt.. mas sampean iki, syarif lo mas syarif nganggo F dudu Sarip." ( sttt... Mas kamu itu, Syarif lo mas pake F bukan Sarip.)
"Rip menengo!!" (Rip diam!!) Bentak Alingga risih mendengar ocehan syarif dari tadi.
Syarif tak lagi bersuara, ia benar-benar membisu sekarang. Alingga satu satunya yang ia segani, apa yang di ucapkan Alingga Syarif tak berani membantah.
Melihat sikap Syarif yang seperti itu mas Yanto semakin tak bisa menahan tawa nya, ia benar-benar meledak sekarang. Sepanjang jalan ia terus terusan mengganggu Syarif yang seperti kucing minta kawin.
Malam itu mereka dapat melewati hutan dengan tenang karena laras dapat melindungi mereka melalui getih ireng nya. Mereka tidak akan berani menyentuh laras karena laras begitu berharga, jika mereka berani menyentuh laras maka bolo pathi akan menghabisi nya tanpa bersisa.
"Mas ali sebentar lagi pagi, kita istirahat dulu di sini mas." Laras tiba-tiba berhenti, ia melihat di sekeliling dan saat ia merasa tempat ini cocok ia pun mengutarakan nya pada Alingga.
"Iyo ngga, kesel sikil ku ngilu kabeh tenan." ( iya ngga, capek kali kaki ku ngilu semua, Beneran.) ucap Syarif yang mendukung perkataan laras.
"Mas, Alingga arep neng endi?" ( Mas, Alingga mau kemana?) tanya syarif penasaran, mas Yanto yang di ajak bicara menggeleng kan kepala, ia tidak tahu kemana perginya Alingga. tidak puas dengan jawaban mas yanto, Syarif menghampiri laras mungkin saja laras tahu kemana tujuan Alingga.
"Mbak laras, njenengan tau kemana Alingga pergi?" Tanya syarif sambil menepuk pundak laras.
"Kenapa mas, Mas Alingga nggak jauh kok cuma keliling aja."
"Beneran mbak, suasana hatinya lagi nggak bagus saya khawatir mbak."
"Nggak papa kok mas Syarif, mas Alingga itu bisa jaga diri sendiri. Malahan saya yang dipasrahkan sama mas Alingga buat jagain kalian." jelas laras berusaha menenangkan syarif.
"Iya sih mbak Alingga itu hebat mbak, saya sering dibantuin sama dia."
__ADS_1
"Sampean deket sama mas Alingga mas? Saya lihat Alingga itu sayang sekali dengan mas zainal." tanya laras penasaran.
"Iya lumayan dekat mbak. Alingga itu udah kayak saudara kembar sama zainal, mereka itu sangat dekat." Laras manggut-manggut mendengar penjelasan syarif, dia kemudian melirik kearah mas yanto dan doni.
"Kalau yang itu, mereka itu siapa?" tanya laras sambil menunjuk mas Yanto dan doni yang sedang bersandar di pohon besar.Syarif melihat kearah yang ditunjukkan mbak laras, ia berfikir sejenak lalu kembali berucap.
"Ah itu, mas yanto sama doni itu mbak. Kami belum lama juga kenal, mereka teman satu kost mbak." jelas Alingga pada laras.Laras berdiam, ia menerawang jauh mereka berdua. Syarif yang melihat gelagat aneh laras kembali bertanya kepada perempuan tersebut.
"Kenapa Mbak? " tanya syarif singkat.
"Ndak papa mas, aura mereka tidak enak. Hati hati aja ya mas sama mereka." Jawab laras.
Syarif menatap kearah mereka berdua, ia tidak mengerti kenapa laras berbicara seperti itu, mungkinkah kedua orang itu adalah orang nya Wijaya, ataukah orang lain yang ingin berbuat jahat kepada mereka. Syarif tak banyak mengambil pusing ucapan mbak laras, ia hanya cukup berhati-hati dengan mas Yanto dan doni seperti yang disarankan oleh laras.
"Mas Syarif ini ya nanti kasih kan ke mas Alingga kalau hati nya sudah tenang, Sampein aja pesan dari saya ya mas." Laras memberikan secarik kertas yang diikat dengan tali berwarna merah.
"Ini apa mbak?" tanya Syarif.
"Kasihkan aja mas, nanti mas Alingga juga paham kok ini apa." jawab laras lagi.
"Buat saya ndak ada mbak? " tanya Syarif sambil tersenyum malu.
"Mas syarif juga mau barang ini? berat lo mas tanggungjawab nya."
"Eh ndak lah mbak ndak jadi, deket sama mbak laras terus saya udah seneng banget lo. " laras tersenyum mendengar ucapan syarif.
Selang tak berapa lama Alingga kembali, ia terduduk di dekat zainal yang ada di dekat laras. Alingga memeriksa kondisi zainal, tubuh zainal sangat dingin, wajah Alingga tampak sangat khawatir, meminta mereka semua segera bergegas karena kondisi zainal yang semakin parah. Saat matahari hampir terbit, mereka telah keluar dari hutan melewati jalan raya menuju ke kota.
__ADS_1