Gondo Kembang

Gondo Kembang
Bab 65: Lebih banyak Rahasia


__ADS_3

Zainal tergopoh gopoh berlari, menaiki undakan tangga yang berlumut. Kakinya dipenuhi lumpur hingga meninggalkan jejak setiap kali ia melangkah. Matanya menatap tajam pada pintu kayu yang terbuka, ia melihat jejak di lantai yang bukan miliknya, milik Alingga yang sudah lebih dulu menyambangi tempat itu.


Tubuh nya yang di penuhi peluh berkilauan terkena sengatan matahari, pagi pagi sekali ia harus bermain kucing kucingan dengan sahabat nya itu. Berlarian di tengah hutan, menyibak semak belukar hingga ia berakhir di tempat ini.


Zainal melangkahkan kakinya perlahan, mendekat pada sosok yang tengah berdiri di dalam ruangan. Alingga masih melamun, kehadiran Zainal sama sekali tidak ia sadari. Ia masih fokus menatap lorong yang menjorok ke bawah, hingga beberapa menit berlalu pikirannya masih berkelana entah kemana.


"Lingga?" Zainal menepuk pundak Alingga, menyadar kan tubuh yang kehilangan kesadaran. Meskipun sudah berteman akrab, Zainal masih belum terbiasa dengan kebiasaan nya yang suka melamun.


"Kamu kenapa?" tanya Zainal. Alingga membalikkan tubuhnya, mengedip beberapa kali hingga kesadaran nya benar benar kembali.


"Tidak ada apa apa! Ayo.. Kita cari disekitar sini!" ajak Alingga, ia berlalu menepuk pundak Zainal, menaiki tangga yang berada di ruangan tengah.


Mereka berjalan bergantian, Alingga lebih dulu sampai di lantai atas. Ruangan di lantai atas tak jauh berbeda dengan lantai di bawah, di penuhi perabotan usang yang di tutupi kain berwarna putih. Debu menumpuk lebih tebal menempel di setiap sudut, menjadi hiasan tersendiri untuk rumah tua ini.


Setiap tempat mereka periksa, kain putih mereka sibak, membuyar kan debu debu yang mengumpul, membuat mereka terbatuk-batuk. Setiap tempat sudah mereka periksa, namun satupun wujud dari Lewung itu tak ada yang mereka temukan.


Alingga mulai meragukan kemampuan nya, mungkin kah dia salah?

__ADS_1


"Bagaimana, ada sesuatu? Aku tidak bisa menemukan apapun!" tanya Alingga kepada Zainal yang masih memeriksa sebuah ruangan di lantai atas.


"Lihat lah, Lingga! Aku menemukan sesuatu!" ucap Zainal yang masih berada di dalam ruangan itu. Alingga mendekat, melangkah kan kakinya lebih cepat, ada rasa penasaran yang meminta jawaban di hatinya, ia tak bisa menunda lagi.


Saat Alingga masuk, pemandangan di hadapannya benar benar menyita perhatian nya. Di atas dipan kayu yang juga berdebu, terdapat banyak sekali kulit Ular yang sudah mengering. Kulit Ular itu terlihat tidak wajar, lebarnya seukuran tubuh Manusi dewasa.


"Apa ini? Mungkinkah ini adalah pemilik jejak yang kamu temukan malam tadi?" tanya Zainal kepada Alingga yang masih fokus mengamati. Alingga juga memikirkan hal yang sama, ingatan nya kembali berkelana, mencocokkan satu demi satu kepingan puzzle yang masih belum terjawab di dalam ingatan nya.


"Aku rasa iya. Lebih baik kita cari Lewung itu terlebih dahulu, jangan sampai terlibat dengan pemilik rumah ini." ucap Alingga yang langsung pergi meninggalkan Zainal sendirian yang masih mengamati kulit itu.


Alingga memeriksa setiap inci rumah ini lagi, ia merasa masih ada tempat yang belum ia periksa, tapi setiap kali masuk ia hanya menemukan jalan buntu.


Alingga mengelilingi rumah, memeriksa bagian samping hingga kebelakang. Di bagian belakang terdapat sebuah pintu yang terkunci dengan gembok, gembok itu terawat dengan baik tanpa adanya karat sedikit pun.


"Pintu ini mengarah kemana?" tanya Alingga kepada Zainal. Zainal menggeleng kan kepalanya, ia sama sekali tidak tahu kemana pintu itu akan menuju.


"Saat tadi kita periksa, bukankah hanya ada satu pintu yang menghubungkan bagian luar dan dalam. Pintu utama itu! Lalu ini mengarah kemana? Apa mungkin ada ruangan tersembunyi?" tanya Alingga lagi.

__ADS_1


" Tapi, kita belum memeriksa lorong ke ruang bawah tanah, mungkin aja pintu ini mengarah ke sana." jawab Zainal mencoba mengurangi kebingungan Alingga. Jawaban Zainal memang masuk akal, mereka memang belum memeriksa ruangan itu. Saat Zainal ingin memeriksa nya, Alingga malah menghalangi tanpa alasan yang jelas.


"Bukan, ruangan itu ada di bawah tanah. Sedangkan pintu ini masih berada di permukaan." ucap Alingga lagi yang masih bersikukuh dengan pendapat nya. Ia sangat yakin ada sesuatu yang tersembunyi di dalam sana, dan keyakinan nya itu harus ia jawab dengan pembuktian. Masuk kedalam dan memastikan sendiri dugaan nya.


Alingga mencari sesuatu di sekitar rumah yang dapat membantunya merusak gembok itu. Ia menemukan balok kayu sebesar betis. Balok itu ia hantam kan beberapa kali di permukaan kunci, percobaan pertama hingga yang kelima kalinya gembok itu masih kokoh, tidak goyah sedikit pun. Hingga yang ke sepuluh kalinya, barulah ia berhasil membuka segel itu.


Senyum sumringah terlukis di wajahnya sembari tangannya menarik pintu, Zainal di sampingnya hanya mematung melihat sahabatnya yang sangat terobsesi dengan ruangan itu. Mereka masuk dengan perlahan, udara pengap dan cukup panas memaksa tubuh nya mengeluarkan keringat. Adapula Aroma dari wewangian yang cukup kuat saat mereka memasuki ruangan itu.


Alingga terdiam di dalam kegelapan, cahaya dari pintu tak mampu menerangi seluruh isi ruangan. Alingga mengeluarkan handphone dari sakunya, senter menyala, tidak terlalu terang, namun mampu menampakkan peti peti yang tersusun rapi di dalam ruangan itu.


Alingga menahan nafas, ia menghitung setiap Peti yang nampak di hadapannya. Jumlahnya sangat banyak, sama persis seperti yang ia lihat di dalam gudang kost kostan Wijaya.


"Sebanyak ini korban kebiadaban mereka!" Alingga mengepalkan tangannya, ia marah dan terus terusan mengutuk Wijaya. Zainal menyadari gelagat Alingga, ia menepuk pundak Alingga untuk menenangkan nya.


"Lebih baik kita bereskan. Waktu kita tidak banyak, Ngga! Simpan amarah mu untuk orang yang pantas mendapatkan nya!" ucap Zainal yang kemudian membongkar salah satu peti mati. Zainal bersusah payah membongkar dengan alat seadanya. Ia lupa membawa alat karena tujuan datang hanya untuk mencari Alingga yang sejak pagi sudah lenyap, tidak menyangka mereka malah menemukan kuburan masal sebanyak ini.


Alingga meredam Amarah nya lagi, sebenarnya kesabaran nya sudah di ambang batas. Kebiadaban Wijaya sudah tidak bisa di tolerir lagi. Tapi, untuk saat ini ia harus menahannya, ia juga tidak bisa melampiaskan nya kesembarang orang, terlebih lagi di depan peti mati ini.

__ADS_1


Beberapa saat berlalu, Zainal telah membongkar beberapa Peti. Jumlah nya lebih dari 20 peti, sedangkan Alingga hanya membongkar sekitar 11 peti. Masih ada beberapa yang harus mereka bongkar. Tapi, mereka sudah kehabisan tenaga.


Alingga duduk di depan pintu, mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Ia menghapus peluh yang membasahi wajahnya, dengan mata yang masih memancarkan kebencian.


__ADS_2